Essay

Sedihnya Kala Malu Menjauh

November 20, 2013
Kehidupan merangkak dengan cepat seiring peradaban manusia. Sekarang kita hidup di tahun 2012 yang serba modern, praktis dan digital. Tahun selalu berubah, kita tidak tahu bagaimana 10 tahun ke depan kehidupan ini akan berlanjut di tahun 2022. Macam karakter manusia pun saling berbeda antara satu sama lain. Kolektifitas gaya elemen bangsa yang nantinya akan membentuk bentangan budaya. Malu menjadi salah satu produk budaya itu.
Gaya kehidupan yang diperagakan orang tak selalu sama. Tak ada yang sama! Ada orang yang peduli, ada juga yang tidak. Ada orang baik, ada juga yang jahat, ada orang kaya, begitu juga ada orang miskin. Semua itu bisa terjadi dalam satu periode ataupun lain periode. Selain itu, ada orang yang mempunyai sifat pemalu, namun ada juga orang yang tak punya malu. Celakanya, sifat tak punya malu inilah yang banyak menjadi tren di era kekinian di Indonesia. Bisa dibayangkan akan lebih celakanya kalau tak punya malu ini sudah menjadi budaya. Prediksi besar yang hampir menjadi kenyataan adalah semakin terpuruk dan porak-porandanya bangsa Indonesia.
Kebudayaan tidak pernah statis. Ia senantiasa bergerak, meliuk melakukan manuver  dan beradaptasi secara dialektis dan kreatif dengan dinamika masyarakat. Adakalanya  memengaruhi, juga sebaliknya dipengaruhi masyarakatnya. Kebudayaan mengalir dalam gerak saling-pengaruh yang tanpa akhir dalam denyut nadi kehidupan. Terkadang arusnya kecil, terkadang besar, bahkan ia bisa menjadi gelombang besar yang memengaruhi kesadaran dan laku kita. Sadar atau tidak sekarang kita hidup di negara yang sedang mengalami krisis budaya malu.
Malu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebisaaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya. Sedangkan budaya malu (shame cultur) merupakan budaya dimana seseorang melakukan sesuatu atas dasar malu. Malu apabila dia tidak melakukannya maka dia akan dicemooh orang lain. Itu menjadi motivasinya. Ia dilihat seakan seorang pahlawan. Berbeda dengan budaya tak punya malu tentunya. Budaya tidak malu (guilt culture) adalah budaya dimana seseorang melakukan sesuatu atas dasar tahu dirinya, tahu bagaimana kodratnya sebagai manusia. Budaya ini menghubungkan pelakunya dengan rasa sadar akan dosa.
Nyatanya, budaya malu yang kuat akan membawa pada kemajuan dan kemaslahatan bangsa secara makro. Dengan budaya malu yang kuat, kita akan selalu berjuang dan berusaha dengan keras untuk tidak gagal meraih cita. Sekadar menukil sebuah contoh, seperti yang kita ketahui dalam budaya Jepang ada yang namanya harakiri yaitu menyobek perut dengan samurai pendek. Harakiri adalah suatu tindakan bunuh diri disebabkan merasa malu atau menanggung aib akibat gagal menjalankan tugas yang dipercayakan padanya.
Harakiri biasanya dilakukan oleh jenderal yang mengalami kekalahan dalam perang, bisa juga pemimpin yang gagal menjalankan tugas yang diembannya. Dengan budaya malu yang kuat itulah, orang Jepang memiliki kinerja yang luar bisa dalam banyak hal. Intinya,mereka malu kalau gagal meraih prestasi. Hasilnya, Jepang pun menjadi macan Asia di bidang ekonomi dan perdagangan, tak lepas dari kuatnya budaya malu yang menghinggap di sanubari setiap orang Jepang.
Akan halnya di Negara kita. Indonesia memang tidak mempunyai budaya harakiri seperti Negara Matahari Terbit itu tapi sebagai bangsa timur, kita punya budaya malu yang sangat kuat. Ingatkah dulu kita sering diejek jika melakukan suatu kekeliruan. Kita juga diperingatkan untuk tidak boleh melakukan ini dan itu jika sedang bertamu di rumah orang “Jangan malu-maluin ya, Nak”. Itu kata orang tua dulu. Berarti sejak kecil kita sudah diajari untuk merasa malu bila melakukan kesalahan. Bahkan kadang ajaran malu ini sering begitu kuat dan berlebihan sehingga membuat orang merasa tidak percaya diri bila ingin melakukan sesuatu atau menunjukkan siapa dirinya.
Dewasa ini malu itu hilang lenyap entah ke mana sehingga memunculkan wabah penyakit tak tahu malu yang sudah terjangkit di berbagai elemen masyarakat. Baik laki-laki maupun perempuan. Mulai dari yang muda hingga yang tua. Dari yang miskin maupun yang kaya. Pejabat maupun rakyat jelata. Mereka merasa tidak malu jika membuat kesalahan besar yang diketahui publik. Mereka seakan acuh dengan penilaian orang lain apalagi memikirkan dosanya pada Tuhan.
Dimulai dari kasus kecil yang biasa kita temui seperti dengan bangganya anak-anak setingkat SMP bahkan SD merokok di depan umum. Kadang masih mengenakan seragam sekolah mereka menghisap batang rokok secara leluasa. Padahal jaman dulu walaupun sudah SMA saat ingin merokok mereka pasti sembunyi-sembunyi. Yah bukan karena malu sih kadang, sekadar  takut diomelin saja kalau ketahuan guru atau orang tua. Tapi paling nggak rasa jera masih tertanam dalam diri. Rasa malu atau sungkan dengan orang sekitarnya telah hilang digantikan euphoria sesaat yang mereka dapatkan bersama kumpulan teman yang keliru.
Contoh lain lunturnya budaya malu, banyak tercermin dalam keseharian warga ibu kota Jakarta. Sudah ada peraturan yang dibuat untuk mengatur tempat khusus bagi perempuan di kendaraan umum, baik dalam busway maupun kereta namun kenyataannya tetap saja banyak dari kaum laki-laki yang mengacuhkan hal itu. Mereka dengan seenaknya memasuki area yang dikhusukan bagi perempuan dengan berbagi alasan. Kadang alih-alih sebagai pasangan si laki-laki dengan muka tebalnya masuk di area itu dengan alasan ingin melindungi si perempuan. Padahal tanpa adanya laki-laki tersebut, area khusus sudah melindungi perempuan dari beberapa kejahatan dan pelecehan yang sering dialaminya.
Selain itu tak jarang kita melakukan hal yang tak sepatutnya di tempat umum yang telah menjadi tren masal bertameng isu toleransi. Sebagai perempuan kadang sangat miris ati melihat para perempuan lain yang mengenakan pakaian yang kurang sepantasnya. Masih hangat pernyataan Ketua DPR tentang aturan untuk tidak memperbolehkan staf dan asistan anggota DPR memakai rok mini. Yang kemudian menimbulkan pro-krontra. Padahal kalau dikaji ulang pernyataan tersebut bisa sampai diutarakan oleh seorang Ali Marzuki karena situasi yang sudah risih melihat suatu kekeliruan. Atau bahkan dia sudah berada titik nadir kesedihan melihat menipisnya budaya malu orang-orang yang berada di lingkar lingkung dewan yang terhormat itu.
Bagi mereka yang merasa disorot dan kritik, seharusnya melakukan instropeksi diri dan sadar bahwa selama ini keliru. Bolehlah memakai baju kerja dengan rok pendek namun tahu batasan, paling tidak panjang rok selutut. Seharusnya tanpa harus diingatkan para staf yang bandel ini mengerti sopan santun. Mereka seharusnya tahu apa yang dilakukan. Dalam Islam pun jelas mengharuskan perempuan menutup aurat dengan menggunakan jilbab pula.  Sebagai bangsa  yang mayoritas beragama Islam sepatutnya mereka bisa mengetahui hal itu.
Itulah fenomena yang ada dalam kehidupan ini. Hingga kini begitu banyak pemikiran kritis yang lahir dari perenungan yang dalam dan tulus untuk berbicara tentang budaya dan masyarakat Indonesia . Pandangan itu sering sangat kritis terhadap budaya dominan, sehingga tak jarang cukup mencerahkan. Sayang, setelah pemikiran itu dilontarkan, lantas disambut dan diperdebatkan dengan sangat hangat, kemudian dilupakan begitu saja. Seakan lenyap digerus rotasi sejarah. Seperti kasus-kasus sebelumnya, perdebatan larangan merokok di tempat umum dan area-area tertentu toh akhirnya tidak berjalan seperti yang dicitakan.
Dari situ kita bisa memetik pelajaran tentang betapa pentingnya rasa  malu itu sehingga harus dibudayakan. Kita tidak akan lagi menyaksikan tindakan amoral dan kekerasan yang meresahkan masyarakat banyak. Masyarakat selayaknya bersikap sosial yang baik dan mengubur tindakan amoral. Sebenarnya sebagian bangsa Indonesia secara sadar menyatakan bahwa “malu” merupakan bagian dari budaya bangsa.
Berbagai pernyataan dan tulisan di media telah membahas hal tersebut. Namun kiranya kurang arif manakala hanya karena ulah dari suatu pihak atau kelompok “yang tidak tahu malu”, kemudian dikaitkan dengan budaya bangsa secara keseluruhan. Faktor budaya adalah aset bangsa, maka perlu kearifan dalam memahami masalah ini.
Saat kapan untuk menunjukkan rasa malu bagi masing-masing individu adalah jika dia berbuat suatu kekeliruan. Karena kita juga tidak boleh terkurung dalam malu untuk menunjukkan potensi yang dimiliki. Untuk itu dalam membangun “budaya malu”, fungsi agama dan lembaga pendidikan adalah sangat penting dan ikut menentukan. Apabila sampai pada keadaan bahwa orang sudah tidak punya malu, maka misi agama dan lembaga pendidikan dianggap gagal.
Akhirnya marilah kita kembali menumbuhkembangkan dan memupuk budaya malu, paling tidak Malu Pada Diri Sendiri“  adalah hal yang paling penting dalam hidup. Jika saja kita semua bisa menerapkannya, maka segala hal akan menjadi baik. Ini merupakan satu keniscayaan yang teramat kuat, bahwasanya malu menjadi fondasi pembangunan Indonesia yang hakiki.
Dengan memberi titik penguatan yang lebih besar pada pentingnya budaya malu, Indonesia akan menjadi bangsa terhormat dan bermartabat.  Pendidikan, ekonomi, pemerintahan  dan semua relung kehidupan bangsa  akan maju. Negara ini akan maju, tidak ada kebodohan, kemiskinan,  egoisme serta KKN yang menjadi borok paling besar dan menyakitkan. Tentunya malu yang diterapkan bukan menjadi alasan kita tidak bisa maju akibat kurang percaya diri. Tapi lebih  malu jika melakukan hal-hal  negatif.

Let's write your opinion

%d bloggers like this: