Essay | Pendidikan

Transformasi Media Memborbardir Moral Bangsa

November 20, 2013

Perkembangan dunia teknologi informasi yang demikian pesatnya telah membawa dampak yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia.Setiap orang memiliki kemudahan untuk dapat mengakses informasi di belahan bumi manapun. Karena sekat-sekat penyebaran informasi sudah terkikis akibat adanya suatu teknologi.Konsekuensinya masayarakat menjadi tanggap dan ingin selalu tahu informasi yang sedang berkembang.

Media massa sebagai agen  penyedia informasi yang selalu  mendapat perhatian masyarakat juga berubah mengikuti arus kemajuan teknologi. Informasi yang disajikan lebih cepat dan terbaru seiring tuntutan masyarakat yang selalu ingin mendapat informasi terkini. Tak ayal banyak perusahaan media mulai memperbarui teknologi mereka, seperti media cetak sekarang yang mulai beralih ke dunia digital dan elektronik. Hal ini makin mempercepat arus informasi yang di dapat masyarakat.

Tidak hanya media cetak  yang berubah, melainkan seluruh media massa juga memperbaiki system informasi mereka, seperti televisi, radio, dan lainnya. Mereka memanfaatkan internet sebagai alat untuk mengembangkan penyebaran informasi. Seperti radio dan televisi yang saat ini sudah dapat diakses melalui teknologi streaming sehingga jangkauan frekuensinya lebih luas. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa jarak sudah mulai terkikis oleh adanya teknologi, semua hal menjadi lebih transparan.

Secara garis besar perkembangan media memiliki dampak yang signifikan terhadap arus informasi dan komunikasi yang kita lakukan sehari-hari. Karena komunikasi yang kita lakukan berasal dari media yang kita baca, lihat, maupun dengar. Tanpa adanya media, maka akan sangat sedikit sekali informasi yang kita dapat. Itu akan membuat terbatasnya pembicaraan kita terhadap orang lain, maka secara otomatis komunikasi yang kita lakukan pun akan terasa membosankan karena hanya mengenai topik yang monoton.

Sayangnya perbaikan teknologi pada media tersebut tidak dibarengi dengan konten yang disajikan. Banyak informasi yang tersebar di media internet kurang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Sehingga media tidak dapat menjawab tuntutan masyarakat yang tanggap informasi dengan tepat. Hal ini kadang menciptakan keambiguan sehingga pembaca dapat memiliki asumsi tersendiri yang bisa saja keliru. Oleh karena itu, peran media di sini bukan hanya memberika informasi secara actual namun juga factual agar tidak ada kesalahan publik yang bersifat masif.

Belum lagi adanya situs-situs yang berisi informasi tetapi memiliki iklan yang jelas terpampang gambar yang mengandung unsur pornografi. Seharusnya pengelola situs atau blog tersebut yang juga menjadi media yang akses banyak orang dapat secara cerdas memilah dan memilih informasi yang akan disajikan dalam situs mereka. Karena seringkali informasi tersebut berupa artikel yang dibutuhkan pelajar untuk menjadi sumber atau bahan pembelajaran mereka. Namun dengan adanya tampilan seperti itu maka seorang anak di bawah umur dapat melihat suatu hal yang tidak pantas di usianya.

Lain halnya dengan media televisi, di era yang serba digital ini tak ubahnya seperti pintu lebar bagi perusahaan pertelevisian untuk makin memperbaiki kualitas visual mereka. Banyak inovasi yang ditampilkan oleh media televisi selama 24 jam sehari. Berdasarkan penelitian, televisi tetap menjadi media yang paling dekat dengan masyarakat, lantaran televisi hampir dimiliki oleh semua kalangan. Sehingga mereka dengan mudah menikmati tontonan yang ada.

Namun tetap saja media ini memiliki permasalahan yang sama, konten acara televisi Indonesia tidak berkembang seiring teknologinya. Untuk mengangkat rating suatu acara, media selalu mencoba mengemas sebuah tayangan semenarik mungkin sampai-sampai harus mengabaikan nilai-nilai edukasi yang sudah menjadi tanggung jawab mereka. Ditambah porsi tayangan dengan konten tersebut justru lebih banyak ketimbang yang memiliki nilai informasi dan edukasi. Sungguh suatu permasalahan yang belum tersadarkan masyarakat.

Lihat saja tayangan iklan sebuah mie instan versi “AYAM” di mana dalam iklan tersebut ada adegan yang merujuk pada pelecahan terhadap profesi guru, hal itu bisa dilihat di akhir tayangan saat seekor ayam diletakan di kepala sang guru. Ini jelas sebuah pelecehan terhadap profesi “pahlawan tanpa tanda jasa”. Lain lagi dengan iklan salah satu minuman, yang jelas telah menyebarkan adegan seronok, adegan itu terlihat ketika sebuah gigi palsu yang lepas kemudian terlempar dan jatuh tepat di bagian dada si perempuan.

Untungnya Iklan-iklan itu hari ini berhasil disensor karena ada aduan dari mayarakat. Namun apakah ini tidak terulang di iklan-iklan yang lain? Tentu saja tidak. Masih banyak iklan-iklan yang tak layak tayang namun masih saja di paksakan dan ini jelas TIDAK BAIK.

Lain dengan iklan, sinetron lebih ekstrem lagi. Tayangan kekerasan dan tidak pantas terus saja ditayangkan. Padahal dunia juga tidak sekejam seperti yang ditayangkan, justru itu yang membuat paradigma baru bahwa kekerasan itu memang ada dan biasa. Nilai-nilai konsumtif pun terus membombardir penonton. Penonton dipaksa untuk berhayal memiliki uang yang bayak sehingga dapat membeli semuanya dengan berbagai macam cara. Toh banyak cerita yang menggambarkan tentang adanya perebutan harta demi suatu kedudukan dan kekayaan. Adegan kekesaran, sex dan gaya hidup yang tak sesuai dengan kebiasaan di Indonesia terus saja bermunculan.

Di berita juga sama saja, baik itu infotainment maupun news. Di acara yang mengabarkan kehidupan para public figure ini setiap hari hanya diisi konflik-konfik yang mampu memberikan efek negatif buat penonton. Kasus perceraian, pertikaian, konsumsi narkoba seolah menjadi hal yang biasa. Infotainment telah memaksa kita untuk menganggap sesuatu yang tak pantas menjadi pantas, sesuatu yang tak layak dilakukan menjadi layak untuk dilakukan karena tokoh yang mereka gandrungi juga melakukannya.

Di berita “news”, adegan kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, perampokan, geng motor serta konflik-konflik para pejabat terus saja disuntikkan ke penonton. Memang banyak manfaatnya, namun rasanya tidak bisa dipungkiri bahwa berita-berita tersebut lah yang menyebabkan terjadinya rentetan kejadian yang sama. Perampokan misalnya, televisi tak malu-malu mengekspos cara-cara perampokan yang dilakukan. Dan hal ini tentu saja akan menjadi sebuah rentetan kejadian yang terus menerus, karena berkat informasi yang tayangkan di media tersebut para perampok jadi lebih tahu bagaimana meraih kesuksesan ketika melaksakan aksinya.

Menyadari hal ini jika kita tetap menganggap media menjadi  sumber informasi yang bermanfaat semata-mata malah dapat menjerumuskan manusia pada arus-arus negatif yang tersimpan di balik media jika tidak dipahami dengan baik. Tak dapat dipungkiri bahwa banyak kepentingan terselubung yang diselipkan melalui media yang disetting sedemikian rupa. Bila ini tidak difilter dengan baik, maka akan membawa pengaruh yang dapat menghancurkan nilai dan kepribadian suatu bangsa

Penyakit moral bisa makin menyeruak jika masyarakatnya terus menonton suatu tayangan yang tidak bermutu. Permasalahn yang disajikan seakan menutup kabar baik negera ini karena kurang terekspose oleh medianya. Jika ditilik dari negara lain seperti saat Jepang mengalami musibah ledakan PLTN (Pembangkit Listrik Tenakaga Nuklir) di Fukushima, media di sana dapat mengemas beritanya lebih bijaksana seperti lebih menyoroti perbaikan PLTN yang dilakukan pemerintah.

Secara psikologis warga Jepang menjadi lebih tenang dalam menanggapi isu paparan radioktif karena media disanatelah mengabarkan bahwa sudah dilakukan perbaikan. Coba hal itu terjadi di Indonesia, adanya malah menggambarkan suatu kepedihan yang berlebihan seakan negara ini tak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada.

Di sisi lain, menganggap media sebagai hal yang harus disingkirkan juga menghilangkan peluang untuk kita mengasah kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Howard Gardner (1999), mengemukakan definisi kecerdasan yakni suatu potensi biopsikologis untuk memproses informasi yang dapat diaktifkan dalam suatu latar kultural untuk memecahkan masalah atau menciptakan produk-produk yang merupakan nilai dalam suatu kultur. Jelaslah bahwa kecerdasan dapat diasah melalui media.Sehingga menafikkan media merupakan tindakan yang tidak bijaksana.

Melihat dua sisi yang berlawan dari transformasi media massa menimbulkan sebuah pemikiran kuat sekaligus mendesak. Pertanyaan yang mengemuka adalah “Bagaimana kita harus menyikapi kenyataan arah bola liar transformasi media agar dapat mengoptimalkan perubahan peradaban yang konstruktif dan efektif?” Juga “Bagaimana kita bersinergi dengan media massa agar bisa berperan  membangun kecerdasan majemuk bagi generasi bangsa?”

Jawabnya, kita semua harus mampu mengoptimalkan kecerdasan bermedia (media literacy). Kecerdasan yang satu ini  adalah suatu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan komunikasi dalam berbagai bentuk melalui media. Dengan kecerdasan bermedia, individu mampu mengelola pesan di media demi membekali diri menghadapi kenyataan hidup sehari-hari. Dengan begitu kita telah memiliki benteng kuat menghadapi dua sisi kontradiktif dari bombardir transformasi media seperti yang sedang dihadapi negeri ini sekarang.

Tulisan diikutsertakan lomba essay PNJ Fair 2013 dan memenangkan juara ke 3

Let's write your opinion

%d bloggers like this: