Curhat

Perbedaan Kita

November 29, 2013

Aku tak menyangkal jika setiap manusia memang dilahirkan berbeda. Jika kehidupan diibaratkan sebagai sebuah buku yang sampu depannya merupakan tanggal dimana kita lahir dan halaman terakhirnya diisi dengan tanggal dimana kita meninggal. Tentunya sebuah buku ada yang tebal, ada pula yang tipis dan ada yang menarik, ada pula yang membosankan”. Dari setiap sisi kehidupan tersebut tentunya mencetak karakter yang beraneka ragam sehingga tidak bisa kita bandingkan satu sama yang lain karena ada nilai yang terkandung dalam setiap kehidupan manusia.

Berbicara tentang kita, sebut saja aku dan dia. 2 manusia dengan 2 kepala yang berbeda sehingga menimbulkan pemikiran dan pemahaman yang tak sama. Seringkali perbedaan itu muncul dan membuat kita kelabakan menghadapinya. Bukannya mencoba meleburkan agar bisa saling memahami, kadang kita justru keukeh dengan argumen yang ada di kepala masing – masing, belum lagi bumbu emosi yang membuat hal kecil semakin menjadi-jadi.

Ada kalanya kita saling mengalah satu sama lain, meminta maaf atas kesalahan atau perbedaan tadi. Namun kita mungkin belum mendapat esensi dari kata maaf itu sendiri karena kekecewaan yang ada ternyata mencuatkan suatu rasa yang ingin menyalahkan balik. Selalu begitu, terutama kamu,  yang seringkali memutar balikkannya ke aku. lantas untuk apa kata maaf di ucapkan kalau ada rasa tidak terima dalam hatimu.

Lalu bagaimana dengan diriku sendiri yang juga merasakan adanya perbedaan ini. Kadang aku merasa munafik sebagai seorang manusia. Aku kadang tidak bisa mentolerir sikap ini itunya seseorang. Namun kalau sudah dihadapkan dengan dia, rasanya kata “maklum” dan mencoba menerima bagaikan seseorang yang plin plan dalam bersikap. Tak pernah bisa konsisten menghadapi dia, seseorang yang aku cinta. Karena ada cinta, maka dia terlihat dan mendapat suatu penilaian yang berbeda.

Tapi apakah akan selamanya merasakan perbedaan seperti ini? Aku tahu dan sadar bahwa kita seharusnya bisa saling memahami satu sama lain. Namun hanya berlandasakan cinta saja, rasanya tidak cukup untuk mengalahkan ego masing-masing. Ketidak puasan dan kekecewaan yang tertimbun di hati bisa saja menjadi suatu bom waktu yang akan meledak di waktu yang tak tentu.

  1. selalu kepo, kenapa dia bisa berpikir gitu? kenapa dia maunya itu? kenapa sih dia gak ikutin gue aja? tapi kadang dia ada benernya atau kadang tertarik ikutin dia, mungkin lebih baik atau dapet warna yang lain. tapi kalo udah berbeda prinsip, sekuat apapun mencoba ujungnya gak akan ada, karena berdua ngelangkah lurus tapi gak ketemu di satu titik tujuan, sama aja boong 😀

Let's write your opinion

%d bloggers like this: