Curhat | Pendidikan

2 Kunci Sukses Hadapi Ujian Nasional

May 20, 2014

Assalamualaikum warrahmatullahi Wabarrakatuh…
Semangat Pagi… Kita Bisa, Luara Biasa!!!

Pagi tadi ada artikel yang begitu menggelitik otakku sehingga membuat tanganku rasanya gatal ingin menuangkan ide melalui tulisan, padahal kemaren sempat berfikir untuk hilang dari blog untuk sementara lantaran harus menulis Tugas Akhir, tapi artikel di kompas.com tadi pagi yang gak sengaja lewat diberanda facebook-ku membuatku ingin mengomentari. Judul artikelnya “Wow, Sebanyak 8.970 Siswa SMA dan SMK Gagal Lulus UN”, Astaghfirullah…. “Sabar ya adek-adek, tetep semangat dan pantang menyerah untuk mencari ilmu”

Yah, Ujian Nasional alias UN benar-benar menjad momok yang ditakuti oleh sebagian besar siswa, mulai dari tingkat SD/MI, SMP/MT, dan SMA/SMK/MA. Menurutku, hal ini makin diperparah dengan pemberitaan yang kadang justru terkesan menakut-nakuti dan menjelek-jelekkan sistem UN yang berlaku. Memang ada benarnya juga, namun itu juga berdampak kepada mental para siswa yang semakin gugup dan takut menjelang UN. Seharusnya media bisa mengemas berita dalam bentuk yang lebih positif dalam rangka memberi semangat kepada siswa dalam menghadapi UN, kalau toh bentuk tulisannya peringatan bahwa UN akan berjalan begini, begitu danhal-hal jelek lainnya, sebisa mungkin berita tersebut disampaikan secara lebih informatif, tidak lebay apalagi dengan prediksi yang buruk-buruk.

6 dan 3 tahun yang lalu, aku juga mengalami Ujian Nasional, dan tahukah pembaca sekalian, UN ditahun tersebut selalu menjadi kelinci percobaan. Contohnya, ketika 6 tahun yang lalu aku menghadapi UN SMP, saat itu mata pelajaran IPA untuk pertama kalinya menjadi mata pelajaran yang diujikan saat UN. Selanjutnya ketika 3 tahun lalu aku menghadapi UN SMA, saat itu untuk pertama kalinya soal UN SMA terdapat 5 jenis yaitu model A,B,C,D,E padahal di tahun sebelumnya cuma ada 4 yaitu sampe D. Tapi eh tapi, menurutku UN terlancarku adalah saat kelas 3 SMP. Well tahukan kalian kenapa? Yah saat itu UN belum menjadi momok yang waw banget, mungkin sebagian ada yang takut, namun lebih banyak yang positif dan semangat menghadapi UN, malah menurutku itu menjadi ajak unjuk gigi sekolah-sekolah, Dan berita-berita tentang kejadian tidak menyenangkan saat UN seperti kecurangan, beredarnya kunci jawaban dan kasus-kasus jarang diberitakan dibanding saat ini. Sehingga aku dan teman-teman atau mungkin siswa tingkat SMP se Indonesia pada saat itu lebih tenang menghadapi UN dibanding saat ini.

Lancarnya UN saat itu juga koordinasi yang baik antara Dinas Pendidikan ke Sekolah dan Sekolah ke muridnya. Dalam kasus ini, aku ingin menceritakan sekolahku sendiri Spendry. Seperti yang sudah aku tulis sebagai judul diatas, terdapat 2 kunci sukses menghadapi UN yang diterapkan oleh sekolahku pada saat itu, yaitu JUJUR dan PERCAYA DIRI. Yup penerapan kedua mental/rasa tersebut sebagai bekal menghadapi UN itu benar-benar masuk kedalam jiwaku. Orang tuaku pun berfikiran sama. Sebenarnya dulu di jaman bunda sama ayah sekolah UN juga sudah ada cuma beda nama aja, kalau dulu namanya Ebtanas yaitu merupakan akronim dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Walaupun ada yang mengatakan beda anatara UN dan Ebtanas, tapi keduanya sama-sama ujian yang diselenggarakan negara untuk siswa tingkat akhir di SMP dan SMA atau sederajat.

Dulu, penerapan JUJUR dan PERCAYA DIRI itu benar-benar dipakai, apalagi di jaman ayah bunda, gurunya itu bisa dibilang “killer” dan pelit nilai. Coba liat raport ayah bunda temen-temen dulu, apakah nilainya setinggi sekarang??? pasti engga, dulu guru itu ngasih nilai 6,7,8 itu udah bagus, terus sistem hukuman berdiri di depan, lari muterin sekolah, atau bahkan di pukul itu menjadi hal biasa, coba sekarang, engga ada kan?? Tapi bagaimana ilmu yang di dapat, apakah sama??? dulu buat dapetin nilai 8 aja itu susahnya bukan main kata bunda, harus belajar terus. Trus belum lagi masalah nyontek, dulu di sekolah bunda kalo ketahuan nyontek, guru gak segan-segan ngasih nilai nol(0) bahkan ples hukuman yang udah aku sebutin. So ilmu yang didapet menurutku beda, siswa jadi benar-benar berusaha mendapatkan nilai bagus dengan rajin belajar sehingga percaya diri dalam mengerjakan setiap soal tanpa menyontek.

Dan tau engga?? sistem beginian berlaku juga di jamanku ketika SD dan SMP, hukuman yang aku sebutin itu pernah aku alami sendiri dan sekolahku pun cukup ketat dalam hal contek-mencontek tapi sebenernya aku dulu juga gak tau loh, nyontek itu apa, entah aku terlalu lugu atau gimana, aku baru tau kalo nyontek itu artinya ngelihat jawaban teman pas ujian itu kalau gak salah pas SMP, jadi dari SD itu udah biasa ngerjain tugas dan ujian (atau biasa disebut ulangan) sendiri. Dan apa yang aku dapet?? aku jadi paham tentang pelajaran tersebut dan tertanam baik. Di SMP, walaupun aku sudah tau nyontek itu apa, tapi itu tidak bisa dilakukan, karena guru dan sekolahnya cukup ketat dalam ujian, nengok dikit langsung dikurangin nilainya, dicatet namanya, ya daripada malu mending ngerjain sendiri.

Sampe di UN juga, guru BK alias Bimbingan Konseling sering ngasih kata-kata motivasi, Kepala Sekolahku juga, Pak Bisri, You are the best Headmaster in my live Sir. Selalu memberikan petuah-petuah yang membangun, saat menjelang UN bukan hanya guru mata pelajaran yang terkait saja yang memberi bimbingan kepada kami, tapi Kepsek dan guru2 BK juga berperan penting untuk penguatan mental. Sebenarnya apa yang di ujikan itu kan merupakan hasil dari apa yang kita pelajari saat ini, kalo kata mereka, ini adalah perang melawan diri sendiri, Percaya Diri, mereka selalu menekankan bahwa kami sudah siap untuk menghadapi UN karena kami sudah mendapat pelajaran tambahan di sekolah serta doa bersama yang seminggu sekali dilakukan saat kelas 3. Jujur, mereka menekankan agar kami sebisa mungkin menjawab pertanyaan itu sendiri, dan sekolah juga bisa dikatakan bersih dari yang namanya praktik peredaran jawaban UN, pak bisri mengatakan “Jujurlah nak, nyontek itu berbohong, membohongi diri sendiri”,,, kata-kata itu selalu ku ingat, the best lah…. Hasilnya apa?? kami selaku muridnya benar-benar belajar, mengadakan diskusi di kelas bahkan sampe dirumah-rumah mebuat kelompok belajar. Dulu belum marak bimbingan belajar atau tempat les seperti saat ini, jadinya kami benar-benar belajar sendiri. Lalu saat kelulusan, alhamdulillah kami lulus 100% dan alhamdulillah juga aku menjadi peringkat ke 2 peraih nilai UN terbaik se kecamatan. Ilmunya pun terserap dengan baik, aku aja masih hafal gimana bentuk soal UN matematika saat itu, karena kami paham, dan menjalankan UN dengan JUJUR dan PERCAYA DIRI.

Lalu, gimana saat SMA mir??? Yah begitulah, saat UN SMA banyak sekali kejadian-kejadian tak terduga. Menurutku penurunan moral siswa itu pas banget di jamanku, saat aku kelas 2 SMA video mesum seorang vokalis itu beredar. Huaaa astaghfirullah, Nah rusaknya moral ini juga berdampak ke model belajar. Jujur belajar saat SMA itu rada gak fokus apalagi saat UN, rasanya sulit untuk menerapkan JUJUR dan PERCAYA DIRI seperti saat SMP. Kabar – kabar jelek tentang UN udah banyak banget bertebaran, sehingga belum apa-apa udah takut duluan. Apalagi adanya jawaban yang beredar dimana-mana, yang dari guru lah, tempat bimbel lah, dari sekolah lain lah, isu-isu itu mengganggu, bukan hanya ditelinga tapi juga pikiran. kepercayaan diri itu rontok lah satu persatu, gimana tidak, murid yang bener-bener belajar demi mendapat nilai yang baik harus dikalahkan dengan murid yang mendapat bocoran jawaban. Gimana aku gak sebel… padahal itu masih try out loh ya, tapi udah seperti itu… belum lagi jargon dan kata-kata guru yang beredar, “UN itu tenang aja, pokoknya kalian belajar, tapi jangan lupa juga bantu teman”, hem pesennya kayak gt.. Yah bisa kalian artikan sendirilah. Meski aku tahu maksudnya itu baik, tapi itu bikin manja, rasanya aku pengen ngomong seperti itu.

Tapi apa boleh buat, aku sendiri juga takut, jadi nurut-nurut aja sama guru. So UN tahunku jawaban beredar dimana mana, dari berbagai sumber pula, pengawas juga… oalah yo yo… Lah kamu nyontek mir? liat jawaban juga mir?… Oke aku harus ngaku, Iya aku nyontek pas UN, tapi aku gak liat jawaban, aku hanya bertanya nomer-nomer yang engga bisa aku kerjakan… Alasan aku ga mau dikasih jawaban itu, yang pertama aku gak berani, dan yang kedua aku berfikir akan menjadi orang terbodoh jika selama 3 tahun ini nyatanya aku hanya memindahkan jawaban saat UN… Hasilnya??? Oke nilai UN ku gak terlalu bagus ketimbang teman-teman yang lain, tapi jelek-jelek banget sih engga standar lah… Tapi pas masuk tes kuliah… Nah loh… hayoooo pemegang nilai UN yang tinggi-tinggi itu harus keok dengan yang nilai UN nya standar. Ya iyalah kan mereka gak jujur, ilmu yang didapat hanya sehari bukan dipahami.

Coba ya kembali lagi ke jaman dulu, dimana rasa Jujur dan Percaya diri itu diterapkan seperti ketika aku SD dan SMP, pasti siswa bisa dengan tenang mengerjakan UN, dengan catatan bahwa sebelumnya ada tambahan pelajaran di sekolah yah sebagai bekal akademik selain bekal mentar tersebut. Terus media juga jangan gembar-gembor yang jelek-jelek terus tentang UN, bikin murid takut loh gak fokus jadinya. Sekolah-sekolah juga, cobalah bersikap “Bersih”, kalau dulu sekolahku bisa, kenapa sekarang enggak?

Yah memang harus ada perbaikan sistem UN yang baik kali ya, kalo katanya tahun ini solanya sulit banget kebangetan katanya pake standar Internasional, berarti guru-guru harus semangat untuk belajar lagi, sehingga yang di ajarkan ke murid pun sesuai dengan yang di ujikan. Kisi-kisi yang biasa diberi sebagai acuan belajar mempersiapkan UN juga disiapkan dengan baik. Tahun ini juga adekku UN SMP, dan alhamdulillah dia bisa mengerjakan dengan baik, padahal aku mencoba menenangkannya tapi kata Daddy “Kayak gak kenal adekmu aja, dia pengen nilai 10”, Semoga Allah mengabulkan keinginan dia, Semangat Tiara !!!! 🙂

Semangat juga untuk adek-adek yang lain, tetep semangat, jangan takut menghadapi ujian, tapi berusahalah dengan belajar dan berdoa. Ingat ya Jujur dan Percaya Diri 🙂 Oke… 🙂

Nah, sekian ceritaku tentang UN, jika ada pendapat yang salah mohon dimaafkan, aku menulis ini semata-mata hanya ingin berbagi pengalaman dan mengapresiasi usaha Kepala Sekolah ku SMP, semoga beliau dalam keadaan sehat walafiat saat ini dan semoga segala ilmu serta nasehat yang diberikan akan memberikan limpahan pahala untuknya, Aamiin…

Wassalamaualaikum Warrahmatullahi Wabarokatu 🙂 🙂

Let's write your opinion

%d bloggers like this: