Curhat | Give Away

Sekali Lagi Aku Melepasnya

May 20, 2014

Entah aku harus memulai dari mana, maka aku biarkan saja jari jemariku ini mengetikkan kisahku, Ya masih tentang dia, dia yang selalu kurindukan hingga kini, rindu yang belum tersampaikan sampai saat ini. Kehilangan, jika kita kehilangan sesuatu, betapa sedihnya kita, apalagi kehilangan seorang yang disayang. Kita pasti tidak rela ditinggal pergi begitu saja. Itu pun berlaku padaku.

Kehilangan seseorang ketika masih kecil, tak merubah kehidupanku ketika masih kecil. Aku belum mengerti, seperti apa itu rasa kehilangan. Aku bermain layaknya anak seusiaku, hingga aku sadar bahwa aku berbeda dengan temanku yang lain. Ketika ada acara di sekolah, teman-temanku didampingi oleh ayah dan ibunya. Sedangkan aku selalu ditemani Eyang uti, kadang juga bunda kalau bunda engga kerja. Yah ayahku meninggal ketika umurku masih 6 bulan. Merasa kehilangan? Oh tentu tidak, aku biasa saja saat itu. Itupun aku tahu ketika aku duduk di bangku TK B. Sore itu seperti biasa bunda mengajakku ke makam, Mirna kecil saat itu yang polos engga tahu apa-apa nurut mengikuti perintah bunda untuk membersihkan, berdoa, dan menabur bunga di atas pusara, Lalu aku yang mulai bisa membaca mencoba untuk mengeja tulisan di salah satu nisan, disitu tertulis “Istono Pudji Rahardo 6 November 1993”, aku pun bertanya, “Bun, ko namanya kayak namaku ya? Memang siapa yang meninggal?” tanyaku saat itu. “Ini makam ayahmu nduk”, jawab bunda sambil mengelus kepalaku. Saat itu tetap biasa, aku cuma sadar bahwa aku tidak punya ayah, yang kupunya adalah bunda, eyang uti dan eyang kong serta om dan tante lainnya. Itulah keluargaku.

Tapi aku semakin beranjak remaja, bukan lagi Mirna kecil yang sukanya main tembak-tembakkan, petak umpet, dan permainan anak kecil biasanya. Aku makin mengerti, apa itu peran ayah, ya Ayah adalah kepala keluarga yang menyayangi, melindungi, dan bertanggung jawab atas sebuah keluarga. Peran bunda dalam membesarkanku sendiri memang luar biasa, bisa menjadi sosok yang tegar, kuat, dan tegas layaknya seorang ayah menurut teman-temanku yang terkadang mereka takuti sikap tersebut pada ayahnya sendiri, namun tetap saja, dia adalah seorang bunda yang memiliki sisi keibuan yang lembut dan menenangkan. Bunda juga bekerja untuk menghidupiku, walaupun masih mendapatkan bantuan dari eyang dan keluarga lainnya. sebenernya kalau bunda mau kerja dengan penghasilan yang lebih besar agar tidak merepotkan yang lain, bisa saja bunda menjadi wanita karir yang sibuk dengan pekerjaannya. Namun bunda memilih pekerjaan yang masih memiliki waktu luang agar bisa bertemu denganku, membantuku belajar, dan mengawasi pertumbuhanku. Tapi tetap saja, ada lubang kosong, dan lambat laun rasanya lubang itu semakin besar.

Ya, aku membutuhkan sosok seorang ayah. Bukan hanya untukku, melainkan untuk bunda juga. Artinya kami membutuhkan itu. Doa dan usaha dalam rangka mendapatkan seorang ayah terus kulakukan. Dan sosok itupun terlukiskan dalam seseorang yang tidak bisa kusebutkan, aku menginginkannya menjadi ayah dan suami bagi bunda. Dia baik dan perhatian padaku. Namun sepertinya itu berlaku padaku saja, nyatanya dia menikah dengan yang lain. Ketika itu akau masih kelas 1 SMP. Pengumuman pernikahan itu begitu mendadak, membuatku tak bisa membendung air mataku. Malam saat kutahu bahwa belia akan menikah esok paginya, sepanjang malam aku hanya menangis, rasanya aku kehilangan sosok ayah lagi… Sakit rasanya, baru kutahu apa itu arti dari sebuah kehilangan.

Hubunganku dengan beliau sempat renggang namun tetap baik, beliau masih menganggapku sebagai anak. Tapi pernikahannya tidak berlangsung lama, tapi saat itu aku sudah mulai mengikhlaskannya, jadi ketika ku tahu beliau sendiri, aku bersikap biasa saja. Namun kami menjadi dekat, semakin dekat seperti sediakala. Aku yang beranjak remaja memang butuh laki-laki yang bisa menasehati dan memanjakanku sesuai perannya sebagai seorang Ayah. Namun ternyata mungkin bunda tidak berjodoh dengan beliau. Ketika aku mengutarakan keinginanku agar dia menjadi ayah dan suami bunda, ternyata beliau sudah memiliki calon. Sekali lagi hatiku hancur, apalagi saat itu aku sudah dibangku kuliah… Aku begitu terpukul akan hal itu,   aku bertanya pada hatiku, apakah aku tidak bisa memiliki seorang ayah? apa aku tak bisa merasakan kasih sayang dari seorang ayah? atau aku seseorang yang tak layak? sempat aku menyalahkan Tuhan? Tapi untuk apa aku hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Mungkin Tuhan tahu bahwa aku kuat, aku bisa, dan aku harus mandiri. Sosok ayah bisa kucari nantinya dari suamiku yang nantinya akan menjadi kepala keluargaku sendiri. Ya aku pun ikhlas melepasnya, beliau telah kuanggap seperti ayahku sendiri, sikapnya pun hingga kini… Mungkin ayah memang jodoh terakhir untuk bunda.

Saat ini, bukan lagi saatnya aku mencari sosok ayah, toh aku telah dewasa, meski belum sepenuhnya, tapi tentunya lebih memahami apa itu arti hidup dengan rasa syukur yang luar biasa… Bunda adalah bunda terhebat yang pernah kumiliki seumur hidup. Seorang yang membesarkan putrinya selama 20 tahun ini sendirian. Seorang yang berhasil memainkan peran ganda dalam hidupku. Sosok kuat, tegar namun jauh dilubuk hatinya tersimpan kelembutan. Ya aku telah mengikhlaskan semua. Aku pun bersyukur dengan kehidupanku saat ini, mungkin jika tidak seperti itu, aku akan tumbuh menjadi perempuan yang manja, namun dengan cara ini Tuhan mengajarkanku untuk hidup mandiri sejak dini. Allah lebih tahu yang terbaik bagi umat-Nya hingga Dia pun juga mengatur kapan saat indah pada waktunya 🙂 Alhamdulillah Ya Rabb…

Berikut puisi yang kubuat ketika aku sekali lagi harus melepasnya…

Juli 2011,

Ayah..

Jika engkau saat ini ada disampingku…
Aku ingin bergelayut manja padamu…
Mengecap manis bersama senyum indahmu..
Tapi itu hanyalah ilusiku yang tak akan bisa menjadi nyata…
Aku ingin sekali engkau hadir dalam kehidupanku..
Entah dengan cara apa atopun rupa yang berbeda..
Karena yang kubuhankan adalah kehangatan dan kasih sayangmu…
Ayah…
Aku menginginkan dia tuk jadi penggantimu…
Bukan bermaksud tuk menghilangkan posisimu dalam kehidupanku…
Hanya saja aku ingin dia menggantikan figurmu …
Aku menyayangi dia ayah seperti layaknya aku menyayangimu…
Tapi lidahku terlalu kelu tuk katakan padanya..
Hingga aku tahu dia tak bisa menjadi apa yang ku mau…
Meski terlambat tapi aku akhirnya mencoba tuk katakan…
Sulit rasanya mengatakan hal ini karena memang aku terlalu munafik…
Mungkin aku adalah manusia batu yang hatinya terlalu keras…
Tapi taukah jika batu itu begitu rapuh…
karena dengan sedikit hantaman saja telah luluh dan hancur…
Ayah…
Aku kehilangan sosoknya…
Sekali lagi…
Aku kehilangan ia dalam hidupku…
Aku cba menahan perih ini…
Tapi ketika aku mendengar ikrar suci dari mulutnya…
Air mata ini tiba-tiba luruh begitu saja…
Ayah…
Aku pergi ayah…
Aku tak kuat melihat semua yang tertera tepat di depan mataku…
Jiwa ini ternyata tak sekuat  itu…
Padahal sudah banyak tempaan tapi tetap saja…
Bisa luluh lantak tanpa sisa…
Ayah…
Mungkin ini perjalanan yang harus ku tempuh…
Sebagai  putrimu aku seharusnya bisa menjadi putri yang manis nan tegar..
Agar bisa menguatkan bunda yang tlah lama kau tinggal…
Ayah,,,
Mungkin kau di surga sedang menyiapkan istana indah yang nanti bakal kita diami bersama…
Aku bisa memelukmu erat karena kita tak akan terpisah lagi…
Aku kan terus berjuang di dunia yang fana ini ayah..
Hingga waktu yang telah ditentukan…
Kita akan dipertemukan oleh-Nya….
Rasanya hidup dengan rasa ikhlas dan syukur itu jauh lebih baik. Masih banyak kebahagiaan yang Allah beri untuk seluruh umat-Nya, jangan hanya karena satu hal membuat kita tidak rela dan men-kufuri setiap nikmat yang sebetulnya tak pernah berhenti mengalir dalam hidup kita. 🙂
Tulisan ini diikutsertakan GIVEAWAY TENTANG IKHLAS presented by mak Adeanita
QuotesCover-pic58
  1. Huhu.. nangis bombay. Bunda adalah sosok kuat yang bisa membesarkan mbak sendirian. Mbak juga kuat, bisa tumbuh tanpa bimbingan seorang ayah. Salam buat bunda.

Let's write your opinion

%d bloggers like this: