Essay | Pendidikan

Beasiswa Bantu Wujudkan “Long Life Education”

By on June 10, 2014

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh…

Semangat Pagi… Kita Bisa… Luar Biasa….

Kali ini aku ingin share tulisan lama yang sempat aku ikutsertakan lomba namun belum beruntung, tapi enggak apalah, menulis bagiku bukan sebuah kompetisi, dia adalah alat yang tepat untuk membagi pendapat, ilmu, pandangan kita, yup seperti kali ini aku ingin mem publish tulisanku tentang pentingnya beasiswa, Nah semoga bermanfaat dan menambah semangat kita untuk terus mengejar impian dan meraih prestasi setinggi mungkin, kalo bisa juga dengan meraih beasiswa… hehehe Happy reading all 🙂

Essay

Beasiswa Bantu Wujudkan Long Life Education

Oleh : Mirna Puji Rahayu

Mahasiswa D3 Menejemen Informatika – Politeknik Manufaktur Astra

Diikutsertakan pada Essay Competition di Pemburu Beasiswa 2013

Pendidikan merupakan sebuah proses yang dialami seseorang untuk membentuk karakternya melalui ilmu yang dimiliki secara berkala. Kenapa seperti itu? Ya karena seseorang sebenarnya telah mengenyam pendidikan dari dalam kandungan yaitu belajar bertahan dalam kondisi rahim sang ibunda sehingga dia bisa lahir dengan selamat dan memulai kehidupannya di dunia. Manusia secara fitrah mendapat pendidikan pertama kali dalam lingkungan keluarga. Seseorang diajarkan bagaimana melakukan sesuatu untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari. Namun pendidikan tidak berhenti sampai disitu, kita juga harus keluar untuk mencari ilmu yang lebih.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, pendidikan memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan taraf hidup manusia. Bahkan, sebuah penelitian  yang dilakukan mahasiswa fisip UNS bahwa tingkat pendidikan akan mempengaruhi mata pencaharian seseorang yang berhubungan dengan tingkat kesejahteraan mereka. Seseorang dengan pendidikan yang tinggi akan memiliki cenderung mendapat pekerjaan yang baik seperti pegawai kantor, dokter, dan lainnya sehingga tingkat kesejahteraan yang baik, sebaliknya seseorang dengan pendidikan yang rendah akan memiliki pekerjaan kurang baik seperti buruh kasar yang tingkat kesejahteraan yang kurang baik. Namun anggapan tersebut tidak seutuhnya benar karena banyak juga orang di luar sana yang berpendidikan rendah dengan tingkat kesejahteraannya tinggi.

Pendidikan yang tinggi memang bukan satu-satunya kunci untuk mencapai kesuksesan. Tetapi, paling tidak pendidikan dapat memberikan jaminan bagi kehidupan seseorang, seperti yang diungkapkan dalam ajaran Islam, Allah SWT berfirman bahwa “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) . Hal ini dapat dijadikan suplemen pemacu semangat terhadap betapa pentingnya berjuang untuk mendapatkankan pendidikan setinggi mungkin karena ilmu pengetahuan berpengaruh pada kualitas kehidupan manusia di dunia maupun akhirat kelak.

Semakin ketatnya persaingan yang terjadi membuat peranan pendidikan semakin penting. Tidak dipungkiri bahwa sebagian besar orang yang berpendidikan tinggi lebih cerdas dalam memahami pergerakan situasi yang cepat berubah sehingga mereka mampu menjawab tuntutan perkembangan zaman dengan baik. Karena pendidikan pun secara tidak langsung dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Namun banyak kendala yang harus dihadapi untuk dapat memperoleh pendidikan yang tinggi. Salah satu dari kendala itu adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pendidikan. Banyak orang yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tetapi mereka terpaksa menyurutkan keinginannya karena kendala biaya. Ditambah himpitan ekonomi yang sangat berdampak pada menurunnya motivasi seseorang untuk melanjutkan pendidikannya. Mereka yang memilih jalan pintas akan berfikir,  daripada uang dikeluarkan untuk sekolah lebih baik bekerja yang dapat memberikan penghasilan berupa materi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Keadaan seperti ini tentunya sangat mengiris hati. Tidak bisa dipungkiri bahwa semakin tinggi pendidikan maka semakin besar pula biaya yang harus di keluarkan. Sehingga muncullah pertanyaan, apakah hanya orang-orang yang berkecukupan yang berhak untuk memperoleh pendidikan yang tinggi?. Lalu bagaimana jika kendala tersebut dialami oleh anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, apakah mereka dibiarkan putus sekolah?? Ini sungguh tidak adil bukan??

Pemberian beasiswa menjadi solusi yang tepat untuk mengentaskan permasalahan pendidikan seperti ini. Beasiswa merupakan bantuan subsidi dari suatu lembaga atau instansi untuk bidang pendidikan. Beasiswa umumnya berupa bantuan biaya pendidikan, namun bisa juga bantuan tersebut berupa fisik seperti bangunan sekolah, buku, dan fasilitas pendidikan lainnya yang menunjang jalannya proses belajar mengajar.

Beasiswa mampu memotivasi seseorang untuk meningkatkan kemampuannya. Mereka bisa lebih fokus belajar dan tidak lagi memikirkan biaya. Bahkan saya memiliki anggapan bahwa beasiswa bagaikan pupuk terbaik untuk setiap bibit. Artinya siapa pun dia dengan segala keterbatasan dan kelebihan dalam bidang pendidikan pasti akan menjadi lebih baik setelah mendapat beasiswa. Walaupun awalnya si penerima termasuk golongan yang kurang bagus di bidang akademik namun ketika orang tersebut telah mendapatkan beasiswa dia akan menjadi orang yang lebih lebih giat belajar. Hal ini dikarenakan mereka akan memiliki ambisi untuk bisa mendapatkan beasiswa secara terus menerus.

Mengingat peran beasiswa yang sangat penting untuk memacu semangat seseorang untuk memperbaiki kualitas dirinya jadi sebaiknya program ini dimulai dari jenjang pendidikan yang paling dasar hingga pendidikan tinggi. Sehingga anak sedari kecil dapat mengenyam pendidikan sebaik mungkin. Bantuan pendidikan pun membantu mewujudkan cita-cita mereka untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan membangun bangsa ini untuk menjadi yang lebih baik.

Jika pemberian beasiswa diberikan dari pendidikan dasar hingga tinggi, hal ini membantu terciptanya pendidikan berkelanjutan atau Long Life Education. Beasiswa dapat menjadi candu bagi si penerima maupun calon penerima. Kenapa demikian?? Ya karena bagi si penerima, dia akan berusaha untuk terus mendapatkan beasiswa lagi dan lagi sampai pendidikan tertingginya seperti yang dikisahkan Tjio Martin, seorang anak dari Medan yang berhasil mendapatkan beasiswa luar negeri mulai SMP hingga kuliah S3. Sedangkan bagi si calon penerima, dia akan terus “kepo” alias penasaran mengejar cita-cita untuk mendapat beasiswa dalam maupun luar negeri sehingga menuntutnya untuk terus berusaha dan belajar. Dengan kata lain, beasiswa mampu mengobarkan semangat seseorang orang untuk terus menambah ilmu pengetahuan dan memperoleh pendidikan setinggi mungkin selagi dia bisa.

beasiswa
Koleksi Pribadi

Continue Reading

Essay | IT | Pendidikan

Mewujudkan E-Learning di Dunia Pendidikan Indonesia

By on December 6, 2013

Dampak kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuka paradigma dan pandangan yang lebih luas di berbagai bidang, termasuk di bidang pendidikan. Metode pembelajaran semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi yang ada. Sarana dan prasarana penunjang proses belajar mengajar semakin lengkap, membuat murid mudah memahami materi yang sedang dibahas. Memanfaatkan komputer dalam proses pemenuhan bahan ajar juga dapat dilakukan dengan mudah dan cepat melalui situs-situs pendidikan yang ada di internet.

Banyak hal yang bisa didapat dari internet seperti bahan ajar berupa buku yang telah dibuat e-book sehingga mudah diunggah dan diunduh oleh pembaca, Ada juga literatur,  karya tulis dan jurnal yang telah dipublikasi, berbagai artikel ilmiah dan informatif, serta forum-forum diskusi yang bisa menjadi alat bertukar pendapat dan ide tentang suatu bahasan. Sungguh suatu aktivitas belajar yang menyenangkan dan memudahkan.

Di berbagai negara maju, metode pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan akses internet seperti itu atau yang biasa disebut e-learning telah dikembangkan dan dijalankan dengan baik. Tak heran jika mereka lebih cepat mengalami kemajuan di bidang pendidikan. Karena setiap perubahan yang ada di dunia dengan cepat mereka ketahui. Isu-isu dunia juga menjadi bahan materi yang mereka pelajari, sehingga pengetahuan mereka lebih luas dan mampu berkompetisi secara global.

Contohnya sistem pendidikan tingkat universitas di negara India yang telah menerapkan e-learning dengan cara membuat sebuah website yang bernama National Programme on Technology Enhanced Learning (NPTEL) . Konten website merupakan mata kuliah yang sedang dipelajari di sana. Terdapat berbagai macam materi yang disampaikan oleh yang bisa dilihat pada halama pertama website tersebut,  misalnya Mechanical Engineering, kemudian kita tertarik mempelajari sub materi tentang Finite Element Methode, kita bisa mendapat modul mengenai Finite Element Methode.

e-learningIndia
Webiste e-learning di India

Pengguna tidak perlu mendaftar, cukup mengunjungi situs dengan alamat http://nptel.iitm.ac.in/ . Dalam website tersebut juga disediakan cara mengakses materi yang ada baik secara individu maupun institusi. Materi yang disampaikan dalam bentuk paket materi yang terdiri dari e-book dan video yang dapat dilihat secara streaming dalam website tersebut, bisa juga dilihat via Youtube dan di download. Pengelola website merupakan gabungan dari beberapa departemen seperti IIT Delhi, ITC Boombay, dan lainnya yang bisa dilihat dalam halaman utama website tersebut.

Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama demi memudahkan penyebaran materi secara menyeluruh. Namun pada implementasinya, sistem e-learning tingkat universitas di Indonesia masih dilakukan secara terbatas. Hak akses hanya diperoleh untuk kalangan sendiri yaitu dosen, staff, dan mahasiswa yang bersangkutan dengan menggunakan jaringan Intranet. Misalnya saja kampus saya, Politeknik Manufaktur Astra yang sudah mencoba menggunakan sistem e-learning.

Situs sistem informasi akademik kampus berisi mengenai data – data atau informasi yang dibutuhkan mahasiswa seperti jadwal kuliah, nilai, dan lainnya, kemudian tersedia tab yang bernama OES (Online Education System) yang jika di klik maka akan muncul halaman baru yang berisi modul kuliah, tugas mahasiswa meliputi soal dan kantong pengumpulan yang telah diatur masa berlakunya, serta kuis atau ujian on line berupa soal yang harus langsung dijawab dalam waktu tertentu lalu jika selesai maka akan muncul nilai secara otomatis. Bahkan terdapat forum yang bisa dipakai untuk saling berbagi informasi yang bisa dilihat seluruh mahasiswa dalam satu program studi.

Namun semua yang saya jelaskan diatas hanya bisa diakses internal. Beda lagi dengan e-learning yang kampus – kampus lain seperti Politeknik Manufaktur Bandung, Universitas Gunadharma, Institut Teknologi Sepuluh November. Hal ini seakan terkotak-kotak padahal harapannya jika terdapat situs e-learning yang juga bisa dibuka untuk umum maka antar universitas dapat melakukan perbandingan atau benchmark materi yang sedang dibahas di universitas lainnya baik di dalam maupun  luar negeri.

Mungkin ada pertimbangan lain mengenai e-learning masih terbatas pada satu universitas itu saja yaitu faktor keterkaitan konten seperti tugas kuliah dan nilai mahasiswa yang tidak ada korelasinya dengan umum tidak mungkin seenaknya di publish . Nah solusinya adalah membuat 2 website yang dijalankan secara internal dan eksternal. Sehingga tetap bisa membagi dan membandingkan materi yang ada. Agar materi bisa dibaca atau didapat oleh semua orang dan mengetahui kualitas materi yang disampaikan.

Oleh karena itu mewujudkan e-learning seperti ini memang dibutuhkan konsep yang matang dan berjenjang. Dibutuhkan kerjasama berbagai pihak terutama Pemerintah  untuk mendorong iklim kampus, dosen , dan mahasiswa agar mampu mengubah paradigma pembelajaran konvensional yang mutlak mengandalkan dosen, menjadi pembelajaran modern dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, dan menjadikan dosen sebagai motivator dalam belajar dan fasilitator penyalur materi secara on-line. Serta membantu men-develop situs-situs e-learning kampus yang bisa diakses oleh umum.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog Pendidikan

1474440_627292684000484_1967180256_n

Continue Reading

Essay | IT | Pendidikan

Ketika Pendidikan dan Teknologi Disatukan Melalui E-Learning

By on December 4, 2013
e-learning
Diambil dari google.com

Dunia pendidikan kian berubah sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini. Proses belajar mengajar di sekolah semakin beragam. Pendidik dituntut supaya lebih kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran agar murid dengan mudah dapat memahami dan menyerap materi tersebut dengan baik. Hal ini sangat diperlukan mengingat generasi saat ini memiliki kemampuan keingintahuan yang lebih besar serta pemikiran yang lebih kritis. Sehingga mereka suka bereksperimen hal-hal baru yang sebelumnya tidak ada. Tak jarang percobaan-percobaan tersebut melahirkan suatu bentuk penemuan baru. Dan untuk menunjang rasa penasaran yang mereka miliki, internet sebagai sumber informasi dan berbagi data menjadi tempat untuk menggali informasi yang mereka butuhkan.

Teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang begitu pesat. Perkembangan ini sebenarnya di tandai semenjak ada jaringan penghubung antar negara yaitu Internet. komputer bukan lagi hanya sebagai alat untuk bekerja, melainkan juga sebagai alat untuk komunikasi. Ketika sebuah komputer telah tersambung dengan internet maka batas antar negara, benua, dan bahkan perbedaan waktu bukan lagi halangan seseorang untuk berinteraksi dengan yang lain. Mereka dengan leluasa berkomunikasi, berbagi data, dan mencari informasi terbaru di luaran sana. Tentulah hal ini juga berpengaruh pada dunia pendidikan saat ini.

e-learning
Ilustrasi Interaksi E-Learning
diambil dari ictineflupelipc.blogspot.com

E-learning merupakan singkatan dari Electronic Learning dan menjadi  tools  yang menyatukan dunia pendidikan dan teknologi. Menurut Darin E. Hartley, “e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.” Bisa dikatakan bahwa proses belajar mengajar saat ini bisa dilakukan tanpa harus bertemu antara pendidik dan muridnya secara langsung. Mereka bisa berinteraksi melalui fasilitas yang dimiliki internet seperti web forum, milis, chatting atau menggunakan video call melalui skype dan aplikasi web lainnya. Dari interaksi tersebut jika ada tugas maka murid dapat mencari bahan-bahan yang diperlukan dengan mudah di internet.

Cara belajar jarak jauh ini menjadi lebih efektif dan efisien jika diterapkan di negara yang wilayahnya terpisah, seperti negara kita, Indonesia. Dengan adanya e-learning maka materi tetap bisa disampaikan menyeluruh, tidak ada lagi kasus kesenjangan pendidikan yang mampu mempengaruhi kemajuan suatu daerah, sehingga nantinya sistem ini dapat membantu proses pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pendidikan di berbagai daerah.

Selain itu biaya pendidikan menjadi lebih hemat. Hal ini terlihat dari penyediaan modul yang selama ini membutuhkan biaya untuk percetakan bisa di ubah menjadi e-book, lalu keterbatasan ruangan yang selama ini diatasi dengan pembangunan gedung sekolah atau universitas tidak perlu lagi dilakukan. Kedua pengeluaran tersebut bisanya diambil dari anggaran pendidikan daerah dan negara yang rawan terjadinya korupsi. Untuk itu ketika e-learning mampu di wujudkan dengan baik maka dapat menekan pengeluaran anggaran pendidikan dan mencegah terjadinya korupsi di bidang pendidikan.

E-learning menjadi suatu bentuk perubahan yang baik dan bersinergi antara dunia pendidikan dan teknologi. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dalam mewujudkan sistem pendidikan tersebut. Dan faktor terpenting adalah penggunaan internet yang lebih positif, efektif, dan efisien karena digunakan sebagai fasilitas untuk belajar. Belajar menjadi suatu kegiatan yang tidak terasa karena ketika menjelajah internet dengan tujuan mencari materi pelajaran, kita juga terhibur dengan tampilan visual dari web-web penyedia materi tersebut. Tentunya pikiran kita semakin terbuka dan berkembang akibat dari luasnya dan banyaknya informasi yang didapat melalui e-learning yang notabene bisa berskala internasional.

Tulisan Ini Diikutsertakan dalam Kontes Blog Pendidikan

1474440_627292684000484_1967180256_n

Continue Reading

Curhat | Essay

Sumpah Pemuda Masa Kini

By on November 20, 2013

Ya, pemuda diibaratkan tulang punggung suatu negara dimana ia akan menopang bangsanya kedepan yang jika patah maka akan menghancurkan negara tersebut. Sebegitu pentingnya sampai Ir. Soekarno sebagai Proklamator dan Presiden pertama Indonesia mengatakan “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”

Namun apa yang terjadi pada pemuda di jaman globalisasi saat ini?  Secara tidak sadar mereka “dijajah” kembali oleh bangsa lain. Masuknya budaya asing memang menambah keanekaragaman budaya bangsa ini. Namun pemuda sebagai agen perubahan kurang dapat menyeleksi budaya-budaya tersebut sehingga dengan serta merta menyerapnya yang berakibat lunturnya rasa cinta tanah air.

Misalnya saja K-POP, buikan maksud untuk menjelekkan karena saya sendiri juga suka terutama Drama-K nya. Namun disini yang dilihat adalah banyaknya konser artis Korea yang dengan mudah tiket laris manis terjual. Hal ini membuat promotor terus menerus melaksanakan konser lagi dan lagi. Berbeda dengan pameran budaya atau pertunjukan kesenian tradisional yang terkadang dilaksanakan secara gratis masih saja sepi pengunjung.

Belum lagi, permasalahan pemuda yang diramaikan dengan pesta narkoba, minuman keras, dan tawuran menjadi perusak moral dan boomerang pemecah persatuan dan kesatuan Indonesia. Dengan bangsa sendiri saja tidak akur, lalu akan seperti apa jikat tiba-tiba penjajah yang sebenarnya datang? mereka dengan mudah terpecah kembali.

Nah, sudah saatnya kita melakukan pembaharuan. Tidak perlu berkoar-koar melakukan demonstrasi menyalahkan pemerintah yang memang sudah buruk dan carut marut. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata pemuda untuk bersatu melakukan kegiatan positif dilingkungannya. Menghidupkan kembali karang taruna di tempatnya untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti mengajar, membuat perpustakaan, berwirausaha atau mengadakan kerja sosial lainnya. Hal – hal kecil sepert ini jika dilakukan serentak di seluruh Indonesia maka dampaknya akan sangat terasa.

Jadi sumpah pemuda saya saat ini adalah “Menjadi pemuda yang lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan menularkan semangat ini kepada pemuda lainnya”

Salam Pemuda.

Continue Reading

Essay | IT

How IT Can Do to Reduce National Food Import?

By on

Indonesia is an agricultural country with considerable natural potential to contribute to national development and economic improvement of the Country. Several area in Indonesia are in the equator, it’s make the country climate is pretty good if developed as a farming state. Indonesia’s population is also largely dependent on the agricultural sector. Agricultural sector in this regard include agriculture, animal husbandry, fishery, and forestry have the potential to absorb labor. Data recorded at the Badan Pusat Statistik (BPS) as Statistic Agency on August of 2012, the number of agricultural employment of 38.8 million people, or 32.94% of the total national workforce.

At the World Food Summit (1996) defines food security as, “Food Security happens when all those continual basis whether physical, social, and economic access to food have adequate / sufficient, nutritious, and safe food that meets their needs and choices food for an active and healthy life “. As one of the countries that signed, Indonesian government showed their determination by pouring food security in Law number. 7 of 1996 which defines food security as a condition for the fulfillment of household food reflected the availability of sufficient food, both in quantity and quality, safe, equitable and affordable.

However, favorable geographical conditions do not make Indonesia free from the problems of food security. In 2012, there were 3000 villages across Indonesia which indicated food insecurity. This was said by the Head of Food Insecurity in the Availability and Food Security Agency, Tjuk Eko, based Map of Food Security and Vulnerability Assessment 2010, which is now reaching up to sub-district. Therefore to cover the shortage, the Government encouraged the national food imports.

Imported food commodities that have been performed since 1998 until now, more and more increasing. It’s ironic when considering that most of Indonesian territory developed for agriculture and agribusiness are still experiencing shortages. Indonesia was once a called as ‘Macan Asia’ which means capable supplicants own food self-sufficiency so that they can even be a state food exporters to various countries in Asia, but now in fact Indonesia become the importer. Food import dependence puts Indonesia as the country’s second importer of rice and wheat in the world.

Based on BPS data in 2012, there are several food commodities are always in Indonesian imports. Commodities such as rice, corn, wheat, soy, wheat, sugar, chicken, flour, salt, cassava, and potatoes. Throughout the year 2012, rice imports reached 1.8 million tons with a value of U.S. $ 945.6 million. Largest country supplying rice to the country is Vietnam with a total of 1.1 million tonnes worth U.S. $ 564.9 million. In addition, Australia is the country’s largest supplier of salt as much as 1.6 million tons with a value of U.S. $ 80.9 million. While America was ranked second as a supplier of potatoes is as much as 8,695 tons with a value of U.S. $ 7.5 million. (Source: asiabusinessinfo.com on 6 February 2013)

The impact is domestic agricultural products eroded stream from existing import. Domestic sales of agricultural products declined because the market is dominated by imported which goods is cheaper. This is a mistake in setting food import policy which results instead of domestic farmers did not sell in their own country. If there are problems of food shortages in some areas, particularly in eastern Indonesia and the surrounding areas such as Nusa Tenggara, the government signed an agreement with the easy foreign imports to bring food that will be distributed to the area. Meanwhile there are some areas in Indonesia, which is famous for their very good produce so it can meet its own food needs in the region even more and can be distributed to other areas.

Indeed, not all regions have the crops included in food category because of favorable conditions existing area. But of course there is the potential outcome areas that can be developed. Another result is referred to plantation crops, livestock and other food in general support needs such as fruits, vegetables, fish, salt, and others. These results can be well distributed throughout the territory of Indonesia. However, the distribution of the goods is less than optimal so that there are still areas that experienced food crisis.

Most local farmers commonly sell their produce to fence which usually called as middlemen. These parties are often monopolizing farmers. They crops which distributes agricultural to markets in other areas if not controlled properly then its spread is not balanced. Not only that, for get more benefit, sometimes they use fraudulent practices to hoard the crop farmers, they create some crisis condition for example, the onion. When the market needs are increasing but goods do not exist then they could easily raise prices of onion with the reason they get the goods hardly. They really harm both the farmers and consumers.

Actually, the government through the BPS has made reports to determine the amount of each harvest area that produced food per year. Reports contained detail data of the amount and presentation of goods produced by a particular category. The report was published and can be downloaded via the official website of BPS. But the data is considered less effective because present form of tables and we have to download first. Even though people who live in this technology era always want to get transparency data as quickly as possible. Information technology is one of the most popular solution in the delivering data for people. Internet as tools for distributing information around the world, it makes easier to do transaction everywhere and every time, unlimited.

If the data is derived crop farmers in Indonesia can be reported each day by the government there will be no hoarding of goods that can be done by middlemen. In addition, if there are areas that are experiencing a decrease harvest in certain food commodities and there are other areas that are experiencing the harvest area that has more number of crops that can be channeled into areas lacking. The existence of the data collected in these systems can also reduce imports which are often the shortcut chosen by the government.

The data collected from each area can be in the form of a website is processed by related government agencies. For example, Badan Pusat Statistik, Badan Ketahanan Pangan, and Kemetrian Pertanian. Websites chosen because of the easier access that can used by Indonesian’s people. Appearance was made more user friendly in the form of tables containing the area and number of harvests per day based on a certain category. This makes the community as a website visitor can easily understand the data or information presented without having to download the data.

Data can be design by the BPS who has previously done same thing such as harvest reporting. BPS reports that have been made can be made in reference in designing the data to be displayed on the website. They determine categories of food commodities that have been classified such as staple foods, vegetables, fruits, medicinal plants, fish, and other salts. This yields a data grouping is make easier to present the content in website. For daily data processing can be carried out by the Badan Ketahanan Pangan, where each region does have durability website each province. Then the admin of each provincial agency that input resistance yields per day from the region. Then Badan Ketahanan Pangan Pusat will verify the data which is then displayed in a national website where all the data is collected.

Procurement websites that integrate crop each region or province where the impact is enormous both governments’ related entities and even the president can monitor the competence of Indonesian farmers easily. In addition, people can also know the potential of their area and if there is a surge in market prices due to no availability of goods, they can easily ascertain the correct reason or not through the website. In addition, people can also compete separately increase yields in the region in order to show the current harvest rate is not far from other areas. And that becomes an important point as the goal of the creation of this website is minimizing food imports from abroad. When there is a shortage of local food, there can be another area that still has food reserves can be distributed, so that one region to region can complete each other need without having to import from abroad. If imports can be minimized so not much foreign exchange and then money can allocation for another need for communities. Finally domestic farmers are also more prosperous and Indonesia become to a better state for food security.

 

Continue Reading

Essay | Pendidikan

Transformasi Media Memborbardir Moral Bangsa

By on

Perkembangan dunia teknologi informasi yang demikian pesatnya telah membawa dampak yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia.Setiap orang memiliki kemudahan untuk dapat mengakses informasi di belahan bumi manapun. Karena sekat-sekat penyebaran informasi sudah terkikis akibat adanya suatu teknologi.Konsekuensinya masayarakat menjadi tanggap dan ingin selalu tahu informasi yang sedang berkembang.

Media massa sebagai agen  penyedia informasi yang selalu  mendapat perhatian masyarakat juga berubah mengikuti arus kemajuan teknologi. Informasi yang disajikan lebih cepat dan terbaru seiring tuntutan masyarakat yang selalu ingin mendapat informasi terkini. Tak ayal banyak perusahaan media mulai memperbarui teknologi mereka, seperti media cetak sekarang yang mulai beralih ke dunia digital dan elektronik. Hal ini makin mempercepat arus informasi yang di dapat masyarakat.

Tidak hanya media cetak  yang berubah, melainkan seluruh media massa juga memperbaiki system informasi mereka, seperti televisi, radio, dan lainnya. Mereka memanfaatkan internet sebagai alat untuk mengembangkan penyebaran informasi. Seperti radio dan televisi yang saat ini sudah dapat diakses melalui teknologi streaming sehingga jangkauan frekuensinya lebih luas. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa jarak sudah mulai terkikis oleh adanya teknologi, semua hal menjadi lebih transparan.

Secara garis besar perkembangan media memiliki dampak yang signifikan terhadap arus informasi dan komunikasi yang kita lakukan sehari-hari. Karena komunikasi yang kita lakukan berasal dari media yang kita baca, lihat, maupun dengar. Tanpa adanya media, maka akan sangat sedikit sekali informasi yang kita dapat. Itu akan membuat terbatasnya pembicaraan kita terhadap orang lain, maka secara otomatis komunikasi yang kita lakukan pun akan terasa membosankan karena hanya mengenai topik yang monoton.

Sayangnya perbaikan teknologi pada media tersebut tidak dibarengi dengan konten yang disajikan. Banyak informasi yang tersebar di media internet kurang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Sehingga media tidak dapat menjawab tuntutan masyarakat yang tanggap informasi dengan tepat. Hal ini kadang menciptakan keambiguan sehingga pembaca dapat memiliki asumsi tersendiri yang bisa saja keliru. Oleh karena itu, peran media di sini bukan hanya memberika informasi secara actual namun juga factual agar tidak ada kesalahan publik yang bersifat masif.

Belum lagi adanya situs-situs yang berisi informasi tetapi memiliki iklan yang jelas terpampang gambar yang mengandung unsur pornografi. Seharusnya pengelola situs atau blog tersebut yang juga menjadi media yang akses banyak orang dapat secara cerdas memilah dan memilih informasi yang akan disajikan dalam situs mereka. Karena seringkali informasi tersebut berupa artikel yang dibutuhkan pelajar untuk menjadi sumber atau bahan pembelajaran mereka. Namun dengan adanya tampilan seperti itu maka seorang anak di bawah umur dapat melihat suatu hal yang tidak pantas di usianya.

Lain halnya dengan media televisi, di era yang serba digital ini tak ubahnya seperti pintu lebar bagi perusahaan pertelevisian untuk makin memperbaiki kualitas visual mereka. Banyak inovasi yang ditampilkan oleh media televisi selama 24 jam sehari. Berdasarkan penelitian, televisi tetap menjadi media yang paling dekat dengan masyarakat, lantaran televisi hampir dimiliki oleh semua kalangan. Sehingga mereka dengan mudah menikmati tontonan yang ada.

Namun tetap saja media ini memiliki permasalahan yang sama, konten acara televisi Indonesia tidak berkembang seiring teknologinya. Untuk mengangkat rating suatu acara, media selalu mencoba mengemas sebuah tayangan semenarik mungkin sampai-sampai harus mengabaikan nilai-nilai edukasi yang sudah menjadi tanggung jawab mereka. Ditambah porsi tayangan dengan konten tersebut justru lebih banyak ketimbang yang memiliki nilai informasi dan edukasi. Sungguh suatu permasalahan yang belum tersadarkan masyarakat.

Lihat saja tayangan iklan sebuah mie instan versi “AYAM” di mana dalam iklan tersebut ada adegan yang merujuk pada pelecahan terhadap profesi guru, hal itu bisa dilihat di akhir tayangan saat seekor ayam diletakan di kepala sang guru. Ini jelas sebuah pelecehan terhadap profesi “pahlawan tanpa tanda jasa”. Lain lagi dengan iklan salah satu minuman, yang jelas telah menyebarkan adegan seronok, adegan itu terlihat ketika sebuah gigi palsu yang lepas kemudian terlempar dan jatuh tepat di bagian dada si perempuan.

Untungnya Iklan-iklan itu hari ini berhasil disensor karena ada aduan dari mayarakat. Namun apakah ini tidak terulang di iklan-iklan yang lain? Tentu saja tidak. Masih banyak iklan-iklan yang tak layak tayang namun masih saja di paksakan dan ini jelas TIDAK BAIK.

Lain dengan iklan, sinetron lebih ekstrem lagi. Tayangan kekerasan dan tidak pantas terus saja ditayangkan. Padahal dunia juga tidak sekejam seperti yang ditayangkan, justru itu yang membuat paradigma baru bahwa kekerasan itu memang ada dan biasa. Nilai-nilai konsumtif pun terus membombardir penonton. Penonton dipaksa untuk berhayal memiliki uang yang bayak sehingga dapat membeli semuanya dengan berbagai macam cara. Toh banyak cerita yang menggambarkan tentang adanya perebutan harta demi suatu kedudukan dan kekayaan. Adegan kekesaran, sex dan gaya hidup yang tak sesuai dengan kebiasaan di Indonesia terus saja bermunculan.

Di berita juga sama saja, baik itu infotainment maupun news. Di acara yang mengabarkan kehidupan para public figure ini setiap hari hanya diisi konflik-konfik yang mampu memberikan efek negatif buat penonton. Kasus perceraian, pertikaian, konsumsi narkoba seolah menjadi hal yang biasa. Infotainment telah memaksa kita untuk menganggap sesuatu yang tak pantas menjadi pantas, sesuatu yang tak layak dilakukan menjadi layak untuk dilakukan karena tokoh yang mereka gandrungi juga melakukannya.

Di berita “news”, adegan kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, perampokan, geng motor serta konflik-konflik para pejabat terus saja disuntikkan ke penonton. Memang banyak manfaatnya, namun rasanya tidak bisa dipungkiri bahwa berita-berita tersebut lah yang menyebabkan terjadinya rentetan kejadian yang sama. Perampokan misalnya, televisi tak malu-malu mengekspos cara-cara perampokan yang dilakukan. Dan hal ini tentu saja akan menjadi sebuah rentetan kejadian yang terus menerus, karena berkat informasi yang tayangkan di media tersebut para perampok jadi lebih tahu bagaimana meraih kesuksesan ketika melaksakan aksinya.

Menyadari hal ini jika kita tetap menganggap media menjadi  sumber informasi yang bermanfaat semata-mata malah dapat menjerumuskan manusia pada arus-arus negatif yang tersimpan di balik media jika tidak dipahami dengan baik. Tak dapat dipungkiri bahwa banyak kepentingan terselubung yang diselipkan melalui media yang disetting sedemikian rupa. Bila ini tidak difilter dengan baik, maka akan membawa pengaruh yang dapat menghancurkan nilai dan kepribadian suatu bangsa

Penyakit moral bisa makin menyeruak jika masyarakatnya terus menonton suatu tayangan yang tidak bermutu. Permasalahn yang disajikan seakan menutup kabar baik negera ini karena kurang terekspose oleh medianya. Jika ditilik dari negara lain seperti saat Jepang mengalami musibah ledakan PLTN (Pembangkit Listrik Tenakaga Nuklir) di Fukushima, media di sana dapat mengemas beritanya lebih bijaksana seperti lebih menyoroti perbaikan PLTN yang dilakukan pemerintah.

Secara psikologis warga Jepang menjadi lebih tenang dalam menanggapi isu paparan radioktif karena media disanatelah mengabarkan bahwa sudah dilakukan perbaikan. Coba hal itu terjadi di Indonesia, adanya malah menggambarkan suatu kepedihan yang berlebihan seakan negara ini tak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada.

Di sisi lain, menganggap media sebagai hal yang harus disingkirkan juga menghilangkan peluang untuk kita mengasah kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Howard Gardner (1999), mengemukakan definisi kecerdasan yakni suatu potensi biopsikologis untuk memproses informasi yang dapat diaktifkan dalam suatu latar kultural untuk memecahkan masalah atau menciptakan produk-produk yang merupakan nilai dalam suatu kultur. Jelaslah bahwa kecerdasan dapat diasah melalui media.Sehingga menafikkan media merupakan tindakan yang tidak bijaksana.

Melihat dua sisi yang berlawan dari transformasi media massa menimbulkan sebuah pemikiran kuat sekaligus mendesak. Pertanyaan yang mengemuka adalah “Bagaimana kita harus menyikapi kenyataan arah bola liar transformasi media agar dapat mengoptimalkan perubahan peradaban yang konstruktif dan efektif?” Juga “Bagaimana kita bersinergi dengan media massa agar bisa berperan  membangun kecerdasan majemuk bagi generasi bangsa?”

Jawabnya, kita semua harus mampu mengoptimalkan kecerdasan bermedia (media literacy). Kecerdasan yang satu ini  adalah suatu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan komunikasi dalam berbagai bentuk melalui media. Dengan kecerdasan bermedia, individu mampu mengelola pesan di media demi membekali diri menghadapi kenyataan hidup sehari-hari. Dengan begitu kita telah memiliki benteng kuat menghadapi dua sisi kontradiktif dari bombardir transformasi media seperti yang sedang dihadapi negeri ini sekarang.

Tulisan diikutsertakan lomba essay PNJ Fair 2013 dan memenangkan juara ke 3

Continue Reading