Essay

KKN : Persoalan Akhlak Dipecahkan dengan Teknologi

By on November 20, 2013
Membicarakan kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) bukan hal yang dianggap tabu saat ini. Kasus ini malah menjadi sorotan utama di setiap berita apabila berhasil terungkap. Bagaimana tidak, Karena kasus ini bagai penyakit sosial yang telah menggerogoti mental para pejabat publik sehingga merusak tatanan pemerintahan  suatu Negara. Untuk menciptakan penyelenggaraan Negara yang bersih dan berwibawa, perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dibasmi hingga ke akar-akarnya.
Perilaku KKN di Negara kita, telah merambah dalam segala aspek kehidupan baik dalam lingkungan pemerintahan Negara dari pejabat tertinggi hingga pejabat terendah, dan tidak ketinggalan pula di lingkungan pejabat swasta telah terjankit penyakit KKN. Pemerintah telah mengeluarkan undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.  Namun bak jamur dimusim hujan, perilaku KKN makin bertambah bahkan susah dihentikan apalagi hingga akar.
Anehnya perilaku yang menyimpang ini seakan sudah bukan menjadi hal yang memalukan lagi. Hal ini bisa dilihat dari pelaku yang sudah terbukti melakukannya, namun tetap saja bisa tersenyum dan bertingkah layaknya arti yang sedang mendapat sorotan. Tak ayal, jika ada indikasi pergeseran akhlak yang terjadi di masyarakat Negara ini. Seperti sebait puisi ‘Ketika Burung Merpati sore Melayang’ karya Taufiq Ismail.
Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku
Dari puisi diatas bisa dilihat bahwa rakyatlah yang menjadi korban dari kebobrokan akhlak para pejabatnya. Amanah rakyat yang seharusnya mereka kerjakan dengan baik malah menjadi boomerang yang menyerang mereka sendiri. Rakyat dikelilingi para penjahat bertampang malaikat yang seenaknya mengambil uang mereka. Karena uang yang telah mereka setorkan kepada Negara melalui pajak malah dikorupsi dengan alasan anggaran dana proyek tertentu, bukankah hal ini seperti “air susu dibalas dengan air tuba”?
Berbicara soal akhlak manusia memang susah untuk dirubah. Apalagi jika sudah tertanam dalam diri seseorang dan tidak dilakukan sendiri melainkan “berjamaah”. Sehingga perlu gerakan nyata untuk menyadarkan bahwa KKN benar-benar telah merusak aspek kehidupan masyarakat diberbagai bidang. Kampanye anti korupsi dirasa kurang cukup untuk menggugah hati nurani para koruptor untuk berhenti melakukan tidakan itu. Ketamakan dan keserakahan mereka hanya bisa dikontrol oleh dirinya sendiri. Untuk itu harus ada cara lain sebagai langkah antisipasi dari pemerintah untuk mencegah oknum-oknum tertentu melakukan tindakan KKN.
Kemajuan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) di Indonesia bisa menjadi salah satu inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk memberantas KKN baik pada tataran pencegahan maupun pada tataran penindakan. Tindakan korupsi berkaitan erat dengan informasi. Oleh sebab itu, teknologi informasi memiliki  potensi peran yang besar dalam upaya-upaya menyelesaikan permasalahan ini.
Korupsi terjadi karena adanya niat dan peluang. Besarnya peluang terjadinya korupsi dapat diturunkan melalui peningkatan transparansi. Tingginya tingkat transparansi akan memperkecil ruang gerak mereka yang berniat korupsi karena segala sesuatunya terlihat terang benderang. Misalnya pada pengadaan barang tertentu seperti mobil, pemerintah dapat melakukan tender terbuka yang bisa diikuti masyarakat luas agar mereka dapat berkompetisi secara fair untuk mencegah adanya gratifikasi.
Sebenarnya DPR bersama-sama dengan pemerintah telah mengesahkan Undang Undang 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.  Di dalam pasal 7 dinyatakan: (1) Badan Publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan Informasi Publik yang berada di bawah kewenangannya kepada Pemohon Informasi Publik, selain informasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan. (2) Badan Publik wajib menyediakan informasi publik yang akurat, benar, dan tidak menyesatkan. (3) Untuk melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Badan Publik harus membangun dan mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi untuk mengelola informasi publik secara baik dan efisien sehingga dapat diakses dengan mudah.
Jadi jelas sekali dinyatakan dalam ayat 3 tentang kewajiban Badan Publik untuk membangun dan mengembangkan sistem informasi agar dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Jika transparansi informasi dapat berjalan dengan baik maka masyarakat dapat mengoptimalkan perannya dalam proses pengawasan dan juga lebih mengetahui proses pengalokasian dana anggaran pemerintah. Sehingga peran teknologi akan semakin dirasakan dalam mencegah terjadinya tindak pidana korupsi.
Selain itu, kejahatan korupsi berkaitan erat dengan proses aliran dana. Oleh sebab itu, teknologi memilki peran yang besar dalam melacak aliran dana yang tidak wajar. Para penegak hukum perlu belajar agar dapat menguasai teknologi dengan baik sehingga dapat melakukan analisis dengan baik ditengah besarnya data aliran dana yang ada. Kegiatan korupsi, yang sebagian besar dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai pihak, akan memerlukan sistem informasi dan komunikasi untuk koordinasi. Di sini teknologi memiliki peran untuk melakukan penelusuran data dan komunikasi yang berkaitan dengan kejahatan korupsi telah terjadi.
Dalam pemanfaatan teknologi, hampir setiap penggunaan teknologi akan meninggalkan jejak. Jejak-jejak informasi dan komunikasi yang ditinggalkan dapat ditelusuri menggunakan teknologi. Memang terlihat ada kecenderungan para pelaku korupsi menggunakan cara-cara konvensional, untuk mengindari cara praktis yang bisa dilakukan dengan teknologi. Namun tetap saja pasti ada titik-titik dimana jejak itu ditinggalkan. Disinilah para penegak hukum diharapkan menguasai teknologi dengan baik sehingga dapat dengan jeli menemukan jejak-jejak yang ditinggalkan para koruptor.
Tidak mudah memang mengatasi permasalahan akhlak seperti korupsi ini, karena para pelakunya sudah terorganisir dengan menyalahgunakan kekuasaan mereka demi menguntungkan diri sendiri dan kongsi-kongsinya. Untuk itu diperlukan tidakan nyata yang kreatif dan efisien untuk menyelesaikan persoalan ini. Teknologi yang dewasa ini semakin berkembang dapat dijadikan alat untuk melakukan pencegahan melalui transparasi data dan pelacakan data sebagai tindakan untuk mencari alat bukti jika terjadi tindak pidana korupsi. Jika penegak hukum dapat menjalankan hal ini dengan baik, maka dapat meminimalisir tindak pidana korusi dan menyelematkan uang rakyat.

Diikutsertakan dalam lomba Essay Sahabat Politeknik 2013 dan mendapat juara 3

Continue Reading

Essay

Sedihnya Kala Malu Menjauh

By on
Kehidupan merangkak dengan cepat seiring peradaban manusia. Sekarang kita hidup di tahun 2012 yang serba modern, praktis dan digital. Tahun selalu berubah, kita tidak tahu bagaimana 10 tahun ke depan kehidupan ini akan berlanjut di tahun 2022. Macam karakter manusia pun saling berbeda antara satu sama lain. Kolektifitas gaya elemen bangsa yang nantinya akan membentuk bentangan budaya. Malu menjadi salah satu produk budaya itu.
Gaya kehidupan yang diperagakan orang tak selalu sama. Tak ada yang sama! Ada orang yang peduli, ada juga yang tidak. Ada orang baik, ada juga yang jahat, ada orang kaya, begitu juga ada orang miskin. Semua itu bisa terjadi dalam satu periode ataupun lain periode. Selain itu, ada orang yang mempunyai sifat pemalu, namun ada juga orang yang tak punya malu. Celakanya, sifat tak punya malu inilah yang banyak menjadi tren di era kekinian di Indonesia. Bisa dibayangkan akan lebih celakanya kalau tak punya malu ini sudah menjadi budaya. Prediksi besar yang hampir menjadi kenyataan adalah semakin terpuruk dan porak-porandanya bangsa Indonesia.
Kebudayaan tidak pernah statis. Ia senantiasa bergerak, meliuk melakukan manuver  dan beradaptasi secara dialektis dan kreatif dengan dinamika masyarakat. Adakalanya  memengaruhi, juga sebaliknya dipengaruhi masyarakatnya. Kebudayaan mengalir dalam gerak saling-pengaruh yang tanpa akhir dalam denyut nadi kehidupan. Terkadang arusnya kecil, terkadang besar, bahkan ia bisa menjadi gelombang besar yang memengaruhi kesadaran dan laku kita. Sadar atau tidak sekarang kita hidup di negara yang sedang mengalami krisis budaya malu.
Malu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebisaaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya. Sedangkan budaya malu (shame cultur) merupakan budaya dimana seseorang melakukan sesuatu atas dasar malu. Malu apabila dia tidak melakukannya maka dia akan dicemooh orang lain. Itu menjadi motivasinya. Ia dilihat seakan seorang pahlawan. Berbeda dengan budaya tak punya malu tentunya. Budaya tidak malu (guilt culture) adalah budaya dimana seseorang melakukan sesuatu atas dasar tahu dirinya, tahu bagaimana kodratnya sebagai manusia. Budaya ini menghubungkan pelakunya dengan rasa sadar akan dosa.
Nyatanya, budaya malu yang kuat akan membawa pada kemajuan dan kemaslahatan bangsa secara makro. Dengan budaya malu yang kuat, kita akan selalu berjuang dan berusaha dengan keras untuk tidak gagal meraih cita. Sekadar menukil sebuah contoh, seperti yang kita ketahui dalam budaya Jepang ada yang namanya harakiri yaitu menyobek perut dengan samurai pendek. Harakiri adalah suatu tindakan bunuh diri disebabkan merasa malu atau menanggung aib akibat gagal menjalankan tugas yang dipercayakan padanya.
Harakiri biasanya dilakukan oleh jenderal yang mengalami kekalahan dalam perang, bisa juga pemimpin yang gagal menjalankan tugas yang diembannya. Dengan budaya malu yang kuat itulah, orang Jepang memiliki kinerja yang luar bisa dalam banyak hal. Intinya,mereka malu kalau gagal meraih prestasi. Hasilnya, Jepang pun menjadi macan Asia di bidang ekonomi dan perdagangan, tak lepas dari kuatnya budaya malu yang menghinggap di sanubari setiap orang Jepang.
Akan halnya di Negara kita. Indonesia memang tidak mempunyai budaya harakiri seperti Negara Matahari Terbit itu tapi sebagai bangsa timur, kita punya budaya malu yang sangat kuat. Ingatkah dulu kita sering diejek jika melakukan suatu kekeliruan. Kita juga diperingatkan untuk tidak boleh melakukan ini dan itu jika sedang bertamu di rumah orang “Jangan malu-maluin ya, Nak”. Itu kata orang tua dulu. Berarti sejak kecil kita sudah diajari untuk merasa malu bila melakukan kesalahan. Bahkan kadang ajaran malu ini sering begitu kuat dan berlebihan sehingga membuat orang merasa tidak percaya diri bila ingin melakukan sesuatu atau menunjukkan siapa dirinya.
Dewasa ini malu itu hilang lenyap entah ke mana sehingga memunculkan wabah penyakit tak tahu malu yang sudah terjangkit di berbagai elemen masyarakat. Baik laki-laki maupun perempuan. Mulai dari yang muda hingga yang tua. Dari yang miskin maupun yang kaya. Pejabat maupun rakyat jelata. Mereka merasa tidak malu jika membuat kesalahan besar yang diketahui publik. Mereka seakan acuh dengan penilaian orang lain apalagi memikirkan dosanya pada Tuhan.
Dimulai dari kasus kecil yang biasa kita temui seperti dengan bangganya anak-anak setingkat SMP bahkan SD merokok di depan umum. Kadang masih mengenakan seragam sekolah mereka menghisap batang rokok secara leluasa. Padahal jaman dulu walaupun sudah SMA saat ingin merokok mereka pasti sembunyi-sembunyi. Yah bukan karena malu sih kadang, sekadar  takut diomelin saja kalau ketahuan guru atau orang tua. Tapi paling nggak rasa jera masih tertanam dalam diri. Rasa malu atau sungkan dengan orang sekitarnya telah hilang digantikan euphoria sesaat yang mereka dapatkan bersama kumpulan teman yang keliru.
Contoh lain lunturnya budaya malu, banyak tercermin dalam keseharian warga ibu kota Jakarta. Sudah ada peraturan yang dibuat untuk mengatur tempat khusus bagi perempuan di kendaraan umum, baik dalam busway maupun kereta namun kenyataannya tetap saja banyak dari kaum laki-laki yang mengacuhkan hal itu. Mereka dengan seenaknya memasuki area yang dikhusukan bagi perempuan dengan berbagi alasan. Kadang alih-alih sebagai pasangan si laki-laki dengan muka tebalnya masuk di area itu dengan alasan ingin melindungi si perempuan. Padahal tanpa adanya laki-laki tersebut, area khusus sudah melindungi perempuan dari beberapa kejahatan dan pelecehan yang sering dialaminya.
Selain itu tak jarang kita melakukan hal yang tak sepatutnya di tempat umum yang telah menjadi tren masal bertameng isu toleransi. Sebagai perempuan kadang sangat miris ati melihat para perempuan lain yang mengenakan pakaian yang kurang sepantasnya. Masih hangat pernyataan Ketua DPR tentang aturan untuk tidak memperbolehkan staf dan asistan anggota DPR memakai rok mini. Yang kemudian menimbulkan pro-krontra. Padahal kalau dikaji ulang pernyataan tersebut bisa sampai diutarakan oleh seorang Ali Marzuki karena situasi yang sudah risih melihat suatu kekeliruan. Atau bahkan dia sudah berada titik nadir kesedihan melihat menipisnya budaya malu orang-orang yang berada di lingkar lingkung dewan yang terhormat itu.
Bagi mereka yang merasa disorot dan kritik, seharusnya melakukan instropeksi diri dan sadar bahwa selama ini keliru. Bolehlah memakai baju kerja dengan rok pendek namun tahu batasan, paling tidak panjang rok selutut. Seharusnya tanpa harus diingatkan para staf yang bandel ini mengerti sopan santun. Mereka seharusnya tahu apa yang dilakukan. Dalam Islam pun jelas mengharuskan perempuan menutup aurat dengan menggunakan jilbab pula.  Sebagai bangsa  yang mayoritas beragama Islam sepatutnya mereka bisa mengetahui hal itu.
Itulah fenomena yang ada dalam kehidupan ini. Hingga kini begitu banyak pemikiran kritis yang lahir dari perenungan yang dalam dan tulus untuk berbicara tentang budaya dan masyarakat Indonesia . Pandangan itu sering sangat kritis terhadap budaya dominan, sehingga tak jarang cukup mencerahkan. Sayang, setelah pemikiran itu dilontarkan, lantas disambut dan diperdebatkan dengan sangat hangat, kemudian dilupakan begitu saja. Seakan lenyap digerus rotasi sejarah. Seperti kasus-kasus sebelumnya, perdebatan larangan merokok di tempat umum dan area-area tertentu toh akhirnya tidak berjalan seperti yang dicitakan.
Dari situ kita bisa memetik pelajaran tentang betapa pentingnya rasa  malu itu sehingga harus dibudayakan. Kita tidak akan lagi menyaksikan tindakan amoral dan kekerasan yang meresahkan masyarakat banyak. Masyarakat selayaknya bersikap sosial yang baik dan mengubur tindakan amoral. Sebenarnya sebagian bangsa Indonesia secara sadar menyatakan bahwa “malu” merupakan bagian dari budaya bangsa.
Berbagai pernyataan dan tulisan di media telah membahas hal tersebut. Namun kiranya kurang arif manakala hanya karena ulah dari suatu pihak atau kelompok “yang tidak tahu malu”, kemudian dikaitkan dengan budaya bangsa secara keseluruhan. Faktor budaya adalah aset bangsa, maka perlu kearifan dalam memahami masalah ini.
Saat kapan untuk menunjukkan rasa malu bagi masing-masing individu adalah jika dia berbuat suatu kekeliruan. Karena kita juga tidak boleh terkurung dalam malu untuk menunjukkan potensi yang dimiliki. Untuk itu dalam membangun “budaya malu”, fungsi agama dan lembaga pendidikan adalah sangat penting dan ikut menentukan. Apabila sampai pada keadaan bahwa orang sudah tidak punya malu, maka misi agama dan lembaga pendidikan dianggap gagal.
Akhirnya marilah kita kembali menumbuhkembangkan dan memupuk budaya malu, paling tidak Malu Pada Diri Sendiri“  adalah hal yang paling penting dalam hidup. Jika saja kita semua bisa menerapkannya, maka segala hal akan menjadi baik. Ini merupakan satu keniscayaan yang teramat kuat, bahwasanya malu menjadi fondasi pembangunan Indonesia yang hakiki.
Dengan memberi titik penguatan yang lebih besar pada pentingnya budaya malu, Indonesia akan menjadi bangsa terhormat dan bermartabat.  Pendidikan, ekonomi, pemerintahan  dan semua relung kehidupan bangsa  akan maju. Negara ini akan maju, tidak ada kebodohan, kemiskinan,  egoisme serta KKN yang menjadi borok paling besar dan menyakitkan. Tentunya malu yang diterapkan bukan menjadi alasan kita tidak bisa maju akibat kurang percaya diri. Tapi lebih  malu jika melakukan hal-hal  negatif.

Continue Reading