Islam | Nikah Muda

Nikah Muda : Apakah Seperangkat Alat Sholat Sah Dijadikan Mahar?

By on June 17, 2015
2083-
Gambar dari sini

Oleh: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal

Sahkah seperangkat alat shalat dijadikan mahar nikah atau mas kawin?

Imam Nawawi memberikan sebuah kaedah berharga mengenai manakah yang bisa dijadikan mahar atau mas kawin. Beliau menyebutkan,

ﻭَﻣَﺎ ﺻَﺢَّ ﻣَﺒِﻴﻌًﺎ ﺻَﺢَّ ﺻَﺪَﺍﻗًﺎ

“Segala sesuatu yang bisa diperjualbelikan berarti sah untuk dijadikan mahar.” (Minhaj Ath Tholibin, 2: 478)

Yang perlu dipahami bahwa mahar bisa bernilai rendah dan bisa bernilai tinggi.

Contoh mahar yang bernilai rendah dapat dilihat dalam hadits berikut. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang wanita yang menawarkan untuk dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak tertarik dengannya. Hingga ada salah seorang lelaki yang hadir dalam majelis tersebut meminta agar beliau menikahkannya dengan wanita tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

“Apakah engkau memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar?”

“Tidak demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya.

“Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” pinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Laki-laki itu pun pergi, tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻧْﻈُﺮْ ﻭَﻟَﻮْ ﺧَﺎﺗَﻤﺎً ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳْﺪٍ

“Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.”

Laki-laki itu pergi lagi kemudian tak berapa lama ia pun kembali, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan walaupun cincin dari besi, tapi ini sarung saya, setengahnya untuk wanita ini.”

“Apa yang dapat kau perbuat dengan izarmu (sarungmu)? Jika engkau memakainya berarti wanita ini tidak mendapat sarung itu. Dan jika dia memakainya berarti kamu tidak memakai sarung itu.”

Laki-laki itu pun duduk hingga tatkala telah lama duduknya, ia bangkit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya berbalik pergi, maka beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut.

Ketika ia telah ada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertanya, “Apa yang kau hafal dari Al-Qur`an?”

“Saya hafal surat ini dan surat itu,” jawabnya.

“Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Iya,” jawabnya.

“Kalau begitu, baiklah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surat-surat Al-Qur`an yang engkau hafal,” sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 1425)

Salah satu faedah yang diutarakan oleh Imam Nawawi dari hadits di atas,

ﻭَﻓِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺠُﻮﺯ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥ‎ ‎ﺍﻟﺼَّﺪَﺍﻕ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻭَﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳُﺘَﻤَﻮَّﻝ ﺇِﺫَﺍ‎ ‎ﺗَﺮَﺍﺿَﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﺎﻥِ ، ﻟِﺄَﻥَّ ﺧَﺎﺗَﻢ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺪ‎ ‎ﻓِﻲ ﻧِﻬَﺎﻳَﺔ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻘِﻠَّﺔ . ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻣَﺬْﻫَﺐ‎ ‎ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲّ ، ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺬْﻫَﺐ ﺟَﻤَﺎﻫِﻴﺮ‎ ‎ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒ ﻭَﺍﻟْﺨَﻠَﻒ

“Hadits tersebut menunjukkan bahwa mahar (mas kawin) bisa sesuatu yang bernilai rendah dan bisa harta yang amat mahal jika kedua pasangan saling ridha. Karena penyebutan cincin dari besi menunjukkan nilai yang tak mahal. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i dan juga pendapat jumhur ulama dari salaf dan khalaf.” (Syarh Shahih Muslim, 9: 190)

Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa mahar boleh dengan sesuatu yang bernilai mahal dapat dilihat dalam firman Allah,

ﻭَﺁَﺗَﻴْﺘُﻢْ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻦَّ ﻗِﻨْﻄَﺎﺭًﺍ

“Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak” (QS. An Nisa’: 20)

Ada pendapat dari Mu’adz yang menyatakan bahwa qinthor adalah 1200 uqiyah dari emas atau perak. [1] Ini suatu jumlah yang begitu besar, maharnya hampir 1 Milyar rupiah. Intinya, qinthor adalah harta yang begitu banyak.

Dalam madzhab Syafi’i dan Imam Ahmad dinyatakan bahwa ukuran kadar minimal mahar tidak dibatasi. Pokoknya yang bisa dijadikan mahar adalah uang, barang yang bisa dijual, upah sewa, baik nilainya sedikit atau banyak atau sampai tak bisa disimpan di kantong sendiri.

Adapun madzhab Abu Hanifah dan madzhab Imam Malik memberikan batasan kadar minimal untuk mahar, seperti dibatasi paling minimal adalah 10 dirham perak. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 39: 160-161.

Kesimpulannya, jika merujuk pada mahar dengan seperangkat alat shalat, berarti boleh. Karena mahar tersebut punya nilai dan bisa dijual.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan kepahaman.

Referensi:
– Al Fiqhu Al Manhaji, Musthofa Al Bugho, Musthofa Al Khin dan ‘Ali Asy Syarji, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H.

– Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.

– Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

– Minhaj Ath Tholibin, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Darul Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H.


[1] 5 uqiyah = 200 dirham = 595 gram perak = 4 juta rupiah. 1200 uqiyah = 960 juta rupiah.

Sumber: https://fadhlihsan.wordpress.com/2015/06/17/seperangkat-alat-shalat-sebagai-mahar-nikah-sahkah

Continue Reading

Nikah Muda

Nikah Muda : Ilmu apa sih yang harus dipersiapkan?

By on June 16, 2015

Assalamaualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatu

Apa kabar semua? Menindak lanjuti postinganku sebelumnya yang membahas, “Nikah Muda : Apa sih yang harus dipersiapkan?”… Dari beberapa poin yang aku bahas di post tersebut. Salah satunya adalah ilmu. So kali ini aku ingin membahas ilmu-ilmu apa saja sih yang harus dipelajari sebelum menikah. Terutama bagi yang ingin menikah di usia muda, yang terkadang masih memiliki emosi yang labil serta mementingkan hawa nafsunya. Soalnya “Menua itu pasti tapi dewasa itu belum tentu” Nah loh…. jangan sampai kita menua tapi tidak dewasa. Dan berikut ulasanku mengenai ilmu apa saja yang harus dipelajari.

Gambaran keluarga sakinah idaman setiap shalih shaliha. Gambar dari sini
Gambaran keluarga sakinah idaman setiap shalih shaliha. Gambar dari sini

1. Agama

Agama memang menjadi dasar setiap manusia untuk menjalani hidup. Termasuk dalam sebuah rumah tangga. Terdapat adab atau aturan yang sudah ditentukan mengenai hak dan kewajiban seorang istri dan suami. Ditambah lagi cerita Nabi dan sahabatnya dalam menjalani mahligai pernikahan bisa dijadikan refernsi, saat ini sudah banyak buku yang secara khusus membahas tentang hal tersebut.

2. Psikologi dan Komunikasi

Menurutku psikologi akan erat hubungannya dengan komunikasi terutama dalam pernikahan. Untuk bisa berkomunikasi dengan baik kepada pasangan, kita harus mengetahui kondisi psikologi mereka. Kita harus mengerti kondisi pasangan, apakah dia sedang marah, sedih, bahagia, kecewa atau lainnya. Sehingga kita bisa menanggapi hal tersebut dengan memilih perkataan yang tepat saat berkomunikasi. Bukan hanya perkataan, melainkan juga moment atau waktu yang tepat. Ada kalanya kita harus diam terlebih dahulu, ada juga waktu dimana kita harus langsung berbicara.

Semua itu bisa dipelajari sejak dini, ketika menyiapkan pernikahan. Bagaimana arah pembicaraan dan kondisi psikologi pasangan jika menghadapi beberapa permasalahan menjelang pernikahan. dan bagiku adanya rasa empati juga sangat berperan sehingga tidak ada salah paham.

3. Kesehatan

Memiliki keluarga yang sehat tentunya sangat membahagiakan karena kesehatan mahal harganya. Menurutku ada beberapa sub ilmu kesehatan dalam pernikahan.

– Kesehatan Umum

Maksud dari kesehatan umum adalah cara menjaga kesehatan dan penanggulangan penyakit yang sering muncul pada umumnya. Contoh menjaga kesehatan yang mudah seperti berolah raga, mengatur pola makanan yang seimbang dan teratur, menjaga kebersihan diri dengan mandi dan gosok gigi 2-3 kali setiap hari, dan lainnya.

Lalu penyakit yang sering muncul seperti pilek/flu, batuk, demam, capek, luka jatuh ringan, luka bakar ringan seperti terkena percikan minyak saat menggoreng. Nah,  kita harus tau cara mengobatinya, bukan hanya tau obatnya namun juga treatment yang tepat untuk menanganinya, seperti membuat obat herbal sendiri atau lainnya. Sehingga keluarga kita tidak ketergantugan obat dengan bahan kimia.

– Kesehatan Reproduksi

Menurut Ida Bagus Gede Manuaba, 1998 kesehatan reproduksi adalah kemampuan seseorang untuk dapat memanfaatkan alat reproduksi dengan mengukur kesuburannya dapat menjalani kehamilannya dan persalinan serta aman mendapatkan bayi tanpa resiko apapun (Well Health Mother Baby) dan selanjutnya mengembalikan kesehatan dalam batas normal.

Menurut Depkes RI, 2000 kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi bukannya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sesudah menikah.

Sebenernya ada banyak pendapat mengenai kesehatan reproduksi, cuma aku mau konsen ke 2 pendapat diatas. Dari situ aku menyimpulkan bahwa kita harus tau langkah-langkah dasar tentang merawat kesehatan reproduksi, kesehatan seksual termasuk aktifitas seksual didalamnya yang harus sesuai syariat Islam, dan tentang kehamilan. Bagaimana mendeteksi gejala awal kehamilan dan perkembangannya hingga melahirkan.

– Kesehatan Anak

Kesehatan anak erat kaitannya juga dengan cara mengasuh anak. Anak terutama yang balita susah diditeksi penyakitnya, karena mereka hanya bisa menangis saat merasakan sakit. Sedangkan tidak semua tangisan menandakan mereka sedang sakit. Untuk itu kenali gejala-gejala awal seorang anak sakit.

Mungkin hampir sama seperti yang sudah dibahas sebelumnya penyakin yang sering datang, Nah ada penanganan berbeda untuk anak seperti pemberian obat dan treatment yang diberikan.

Dan menjadi Ibu Pro ASI (Air Susu Ibu) juga mampu menjadi kesehatan Anak. Karena kandungan ASI yang lengkap membuatnya  mampu menangkal beberapa penyakit dan memberikat nutrisi serta gizi yang cukup bagi anak. Perbanyak membaca artikel baik di website maupun buku kesehatan mengenai Ibu dan Anak akan sangat membatu dalam menambah ilmu ini.

4. Manajemen Keuangan.

Sebenarnya rizky saat menikah akan bertambah. Setiap orang memiliki rizky masing-masing. Nah menurutku pendapatan orang menikah itu seperti 1+1=3 atau 1=2. Maksudnya apa?

Maksudnya jika suami dan istri sama-sama pekerja alias karyawan maka pendapatan mereka adalah 3… Dari mana? 1. Gaji Suami, 2. Gaji Istri, 3. Tunjangan Istri dari kantor suami. Dan untuk yang istrinya tidak bekerja, tetap saja kan ada 2 rizky yaitu gaji suami dan tunjangan untuk Istri.

Lalu bagaimana mengatur pendapatan tersebut supaya semua kebutuhan rumah tangga terpenuhi dan tetap bisa beramal dan investasi masa depan. Banyak cara mengatur keuangan yang baik, banyak artikel yang membahas hal tersebut. Nah itu yang perlu dipelajari agar keuangan rumah tangga tetap terjaga dengan baik.

Kalau dariku cukup simple,

– kompak dalam menjaga keungan dalam rumah tangga, jangan sampai si suami udah mencoba hidup irit hemat namun istri suka belanja

– Membuat prioritas keuangan  dan komitmen untuk hal tersebut.

– Mampu membedakan keinginan dan kebutuhan

– Perbanyak sedekah, semakin banyak sedekah insyaAllah rizky akan barokah dan melimpah.

5. Tata Boga dan Tata Busana

 Untuk poin ke 5, bisa dianggap penting ataupun penyempurna kebahagiaan rumah tangga. Seperti di post “Nikah Muda : Apa sih yang harus dipersiapkan?” disitu aku bercerita tentang cara jitu temen kajianku, Mba Nunik dalam menyambut suaminya ketika pulang yaitu Penampilan yang cantik, masakan yang enak, dan rumah yang bersih. Nah makanya kita harus tau bagaimana berpenampilan yang baik, baik itu cara berpakaian maupun kecantikan dan menyiapkan hidangan masakan yang lezat untuk keluarga.

Namun apakah hanya seorang istri saja yang harus memperhatikan penampilannya. Laki-laki juga harus bisa berpenampilan yang baik, jangan sampai setelah menikah penampilannya sama seperti bujangan yang kadang suka gak keurus cara berpakaiannya. Nah peran istri menurutku harus bisa men”dandani” suami untuk tampil lebih baik. Gak harus macem-macem sih tapi tetep rapih dan modis. kalau ada yang sobek atau kacingnya lepas juga dijahit agar tidak mengurangi kerapihan pakaian yang dipakai.

Dan gak jamannya juga cuma perempuan yang harus pintar di dapur. Laki-laki juga harus tau bagaimana memasak. Setidaknya masakan simple yang resepnya banyak tersedia di website saat ini. Sapa tau nanti berguna, contoh saat istri pasca melahirkan, suami bisa menggantikan peran istri untuk urusan memasak.

Mungkin itu saja yang bisa aku sampaikan. Pada dasarnya ilmu tersebut memang harus dipelajari terus menerus seiring dengan pernikahan itu berlangsung. Tak ada pasangan yang sempurna karena manusia tidak ada yang sempurna, yang ada adalah pasangan yang mengerti dan saling melengkapi.

Lagipula tiada pernikahan tanpa adanya konflik, menurutku konflik bukan harus dihindari namun diselesaikan agar tak menjadi bom waktu di kemudian hari. Tapi ingat, terlalu banyak konflik juga tak baik, artinya ada yang salah dengan diri sendiri dan pasangan.

So mari mempelajari pernikahan sejak dini, agar tak salah langkah saat pernikahan nanti. And the last but not least from me is

Indahnya pernikahan bukan hanya karena ilmu pernikahan yang diimplemantasikan dengan baik, tapi jatuh cinta berkali-kali kepada pasangan menjadikan pernikahan lebih bahagia, langgeng, menua dan dewasa bersama dia yang dicinta.

 

NB :

Tulisan ini dibuat oleh seseorang yang belum menikah, tujuannya memotivasi diri sendiri menyiapkan bekal ilmu pernikahan, jadi jika ada yang kurang mohon dimaafkan, dan semoga tulisan ini bermanfaat terutama bagiku dan semua pembaca.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatu.

Continue Reading

Nikah Muda

Nikah muda : Apa Sih Yang Harus Dipersiapkan???

By on December 2, 2013

 

Assalamualaikum Warrahmatullah…

Menikah… Pernikahan… Sepertinya sudah menjadi topik pembahasan diantara temen-temen nih… Kadang kalau difikir kita masih terlalu muda untuk membicarakan suata hal sakral dan penuh akan komitmen itu. Tapi kada-akadang kalau ngelihat orang sekitar kita misalnya temen SMA dulu yang share foto pernikahan mereka atau temen pengajian yang bagi-bagi undangan nikahan, duh ada perasaan iri yang tiba-tiba muncul. Wih enak banget ya udah nikah, udah gak galau lagi soalnya sudah ada seseorang yang selalu mendampingi. Kayaknya bahagia banget menjadi pasangan muda. Sampai-sampai kakak kelas yang barusan nikah ngomong gini, ” Nikah itu enaknya 10%, tapi sisanya enaaaaaak bangeeet”, duh sebegitu bahagianya kah…

Sekarang mulai lah pembahasannya nikah, ga ngelihat dia cowok atau cewek pasti ada obrolan tentang itu. ga temen kuliah, kajian, dan teman yang lain juga bahsannya udah mengarah kesana. Apa ya emang aku sudah memasuki fase seperti ini yaah… tapi ya memang ditinggal seorang ayah sedari kecil membuatku butuh sosok laki-laki yang bisa di jadikan panutan alias imam dalam sebuah keluarga. Makanya aku memiliki niatan menikah muda untuk menyempurnakan ibadah dan pelengkap kasih sayang.

Tapi sebenernya ngomongin nikah muda, apakah sudah paham hakikatnya seperti apa? jangan sampai menikah muda tapi tidak bahagia atau menikah muda hanya untuk meng-halal-kan sesuatu yang dulu tidak diberbolehkan. Ya itulah hal-hal negatif jika kita hanya mengatas namakan nikah muda saja tanpa tau nilai-nilai dibaliknya. Nah sebenernya apa sih yang harus dipersiapkan untuk menikah muda agar tidak menjadi golongan yang seperti yang disebutin tadi….

1. Niat yang baik

tentunya segala sesuatu memang harus diawali dengan niat, maka niatkan nikah yang akan kamu jalani sebagai pelengkap ibadahmu, karena seperti yang kita ketahui bahwa segala sesuatu yang dijalankan dalam pernikahan bernilai berkah (*tapi yang sesuai syariat ya). Seperti kita yang seorang perempuan bisa melayani suami dengan baik misalnya menyiapkan baju ketika akan berngkat kerja dan menyambutnya saat pulang kerja dengan baju yang bagus, penampilan yang canti dan wangi, serta makanan yang enak (*dikutip dari pembicaraan temen kajian AGI, Mba Nunik). Pastilah hal tersebut membawa suatu keberkahan bagi kita dan keluarga.

2. Ilmu

Kemarin waktu ada kajian pas open recruitment rohis kampus, aku ketemu sama kaka kelas yang sekarang kebetulan jadi dosen di kampus dan pengajar BBQ Rohis (Belajar Baca Qur’an). Dia mengatakan bahwa pernikahan dan rumah tanggaada ilmunya dan ilmunya cukup banyak yang harus dipelajari, gitu katanya. Ada hal-hal yang harus kita pelajari seperti adab-adab suami istri dalam rumah tangga, pernikahan yang baik menurut islam, kewajiban dan hak antara pasangan suami istri, mendidik anak yang sholeh dan sholeha, terus ada juga ilmu psikologi dan kesehatan, seperti bagaimana menghadapi perbedaan yang menyulut pertengkaran, bagaimana menghadapi mertua, dan penganana jika suami atau istri atau anak kita sakit. Tuh kan, apa kita sudah punya ilmunya? ya memang sih bisa nanti dipelajari bersama tapi jika kita sudah memiliki dasarnya bukan kah jauh lebih enak… gitu kata dia… dan Alhamdulillah yang ngasih tau ini kemarin sabtu (30/11) telah menjalani akad nikah.

3. Keuangan

Nah ini juga menjadi sebuah persiapan yang penting, tapi ini juga yang biasanya digunakan sebagai alasan untuk menunda pernikahan. Biasanya “Saya belum siap menikah karena belum sukses” tapi itu bisa ditepis dengan “Kenapa nikahnya yang ditunda? kok ga sukses nya aja yang dipercepat”. Nah loh, hayoo mau berkelit apa lagi?. Tapi tanpa adanya kesiapa secara finansial juga kita tidak bisa serta merta menikah terutama bagi yang laki-laki dimana memiliki peran sebagai kepala keluarga yang mampu mencukupi kebutuhan istrinya baik jasmani maupun rohani. Ya mungkin belum bisa membeli rumah, tapi setidaknya ada tempat yang layak digunakan sebagai berteduh berdua, walaupun itu kontrak atau apa, tapi setidaknya ada tanggung jawab yang sudah diperlihatkan. Makanya kalau bisa pesta pernikahan dibuat sederhana agar masih ada dana yang dialokasikan untuk menjalani kehidupan pernikahan yang sesungguhnya.

4. Restu Orang Tua

Ini merupakan faktor penentu, setelah kita mempersiapkan segala hal maka ini lah bagian terpenting karena resttu orang tua seprti restu Allah swt. jika belum diberi dengan berbagai alasan, cobalah berfikir ulang dengan alasan yang diberikan orang tua, mencoba introspeksi diri. Kemudian jika ternyata kita sudah bisa memberikan bukti atau pemahaman tentang alasan yang diberikan orang tua bahwa kita siap namun belum juga mendapat restu maka jalan terakhir adalah berdoa. Karena setelah kita ikhtiar maka berserah dirilah, Allah tau yang waktu yang terbaik untuk kita. Oh ya restu bukan hanya dari orang tua kita loh, tapi juga orang tua dari kedua belah pihak, biasanya yang agak riskan adalah ketika calon laki-laki meminta restu orang tua perempuan, pasti ditanya kesiapannya untuk menikahi anaknya. Dan sebaliknya ketika calon perempuan ke orang tua laki-laki, pasti dilihat gerak geriknya, tutur kata, perangainya, dll yang bisa menarik simpati dan faktor untuk  memberikan restu dari masing-masing orang tua.

Mungkin itu dulu kali ya yang bisa aku sampaikan tentang apa sih yang harus dipersiapkan jika kita ingin menikah muda. Soalnya kadang-kadang temen2 itu bahasnya mesti tentang pestanya bukan pernikahnnya, semisal nanti aku pakai baju apa ya? resepsinya dimana ya? undangannya gimana ya? yang ngisi kajiannya siapa ya? pake adat apa ya, tradisonal, nasional, atau gimana ya? makanannya apa ya?. Aduuuh gengs, ya engga apa2 sih tapi kalo aku sepertinya yang disipain 4 poin yang aku tulis di atas dulu aja deh baru mikirin pesta pernikahan impiannya hehehe. Dan yang jelas saat ini untukku, selesaikan kuliah dulu, bekerja, dan baru menikah hehe…

Semoga tulisan ini bermanfaat dan kurang lebihnya mohon maaf yaaaa… ^_^

Wassalamualaikum Warrahmatullah…..

Continue Reading