Give Away | Islam | Self Reflection

8 Hari Terakhir di Bumi

By on March 31, 2016

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabrrakatuh

Pernah gak sih berfikir gimana rasanya menjalani 8 terakhir di Bumi ? dengan kata lain 8 hari sebelum kita mati ? Meski menakutkan untuk dibayangkan namun dengan mengingat kematian, kita bisa lebih “benar” dalam menjalani hidup sehingga siap ketika menghadapi Sakaratul Maut. Karena “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati” (QS. Al-Imran : 185).

Sejatinya kapan terjadinya kematian memang rahasia Sang Pencipta, namun tak ada salahnya mencoba menyiapkan diri jika kematian itu tiba, toh tidak ada yang bisa menghindari takdir yang satu ini. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78). Dan jika ditanya 8 Hari Terakhir di Bumi, Mirna mau ngapain???

Continue Reading

Self Reflection

Pertanyaan Basa-Basi Tanpa Menyakiti

By on March 11, 2016

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatu

“Mulutmu, Harimau mu”

Pepatah ini emang bener banget karena mulut ini entah sengaja atau tidak suka mengeluarkan kata-kata yang mampu menyakiti orang lain. Meskipun tidak terang-terangan menghina namun kadangkala ada pertanyaan spontan yang bisa menohok hati lawan bicara.. hiks… Pertanyaan sepele yang maksudnya basa-basi malah bikin lawan bicara sensi…

Coba diubah pertanyaan basa-basi itu biar lebih hepi… Emang seperti apa sih pertanyaan basa-basi yang menyakiti itu? Berikut Contohnya :

  1. Kapan Lulus?
  2. Kapan Nikah? Sudah kerja belum? Kerja dimana?
  3. Sudah punya anak belum? ato Lagi “isi” ya?
  4. Kapan nih si A punya dedek ?
  5. Wah mana nih oleh-olehnya?

Pertanyaan umum sih, tapi apa kamu (aku juga) sadar bahwa itu mampu membuat lawan bicara jadi gak nyaman, ada beban pikiran, dan lainnya.. So biar basa-basi tidak menyakiti coba kita ubah pertanyaannya

  • Kapan Lulus ? diganti Gimana Kuliahmu?

Ga gampang loh jawab “Kapan Lulus”.. Apalagi yang ditanya lagi gundah gulana menyelesaikan tugas akhir yang gak berakhir-akhir… Atau habis dapet kenyataan bahwa ada SKS yang harus diulang karena nilanya kurang. Kan pertanyaan itu bisa bikin dia patah arang lalu geram… *apasih.. Toh ga semua mahasiswa itu cuma kuliah saja, ada yang sembari kerja bahkan sambil membina rumah tangga *eeaaaa…

Jadi alangkah lebih indahnya jika bertanya “Gimana Kuliahnya?” dia akan merasa kita lebih care dengan keadaan kuliahnya. Kalau dia mengeluh kita bisa dengarkan dan beri semangat, kalo begitu kan basa basi bisa lebih bermanfaat.

Continue Reading

Self Reflection

Hidup itu “sawang-sinawang”

By on February 4, 2016

Assalamulaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh

 

happy

Sebelum panjang lebar nulis ini itu, aku mau bilang mungkin ini tulisan isinya benar-benar curhat yang mungkin tidak ada solusi atau ujung pangkalnya…

Oke, kata orang jawa “Orep iku sawang sinawang” alias hidup itu liat melihat.

Dijaman digital seperti ini semua orang “seakan” berlomba-lomba share kegiatan mereka sehari-hari. Beragam social media yang ada membuat kehidupan kita menjadi ter expose secara sengaja maupun tidak disengaja. Kalau sengaja memang kita sendiri yang share, posting, twit, dll tentang apa yang kita lakukan, rasakan, dengarkan, baca, dll… Kalaupun engga selalu ada tag, mention, dll yang gak sengaja akhirnya memunculkan kondisi kita di sosial media. From prive to public.. itulah peran sosial media. Mau digembok pun akunnya tetep aja kan ya share ke teman jadi all your friend will know you.

So dari situ orang jadi ngelihat kehidupan orang lain, si A begitu ya, si B begini ya, si C begono ya… Kalau ada yang share kesusahan… ada yang ngerasa kasihan, tapi ada juga loh yang ngerasa seneng diatas penderitaan kita. Soalnya kan ga semua orang menyukai kita… hehehe … Tapi kalo ada yang share kebahagiaan seolah  “rumput tetangga terlihat lebih hijau” … Wah ngiler, kepingin… hehehe … Semua itu wajar, sangat wajar. Karena kita hidup berdampingan dalam era social media sehingga dengan mudah kita “sawang-sinawang”.

Continue Reading

Self Reflection

Self Reflection : Diuji Artinya Disayangi

By on October 27, 2015

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatu

Kehidupan manusia ibarat roda yang selalu berputar, terus menerus dari atas kebawah bergulir seiring perjalanan hidup. Dalam perjalanannya pasti ada saja kerikil, batu atau bahkan paku yang bisa saja merusak jalannya roda. Seperti halnya kehidupan yang memiliki ujiannya tersendiri. Setiap orang, selagi dia hidup pasti akan diuji entah dalam bentuk apa pun itu, dinamika kehidupan itu yang harus di hadapi dengan baik. Karena setiap ujian akan memberikan dampak yang akan memebawa kehidupan kita menjadi lebih baik atau tidak, akan ‘naik kelas’ atau ‘tetap tinggal’.

Namun setiap menghadapi ujian-Nya selalu ingat janji -Nya yang tidak akan memberikan ujian melewati kemampuan umat-Nya yang ditunagkan dalam Surat AL- Baqarah ayat 286. Jadi setiap permasalahan seharusnya bisa kita lalui tergantung kita bisa memahami kemampuan untuk menyelesaikan atau tidak karena kadarnya telah sesuai pada kemapuan yang kita miliki. Dan yakinlah bahwa di bersama kesulitan ada kemudahan seperti yang ada di Surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6.

Jadi yakinlah bahwa ujian itu artinya Allah menyayangi kita karena Dia telah memberikan ujian sesuai kemampuan lalu memberi kemudahan setelah menghadapi kesulitan. Moment paling tepat untuk bermuhasabah dan lebih dekat pada-Nya. Allahu Akbar..

Semoga kita bisa ‘naik kelas’ terus ya… Aamiin..

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatu

Continue Reading

Self Reflection

Self Reflection : Bersyukur

By on August 5, 2015

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh

Alhamdulilllah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam.

Aku ingin berceloteh ringan tentang indahnya hidup jika kita bersyukur atas segala yang telah kita dapatkan dan kita alami saat ini. Kenapa 2? karena bisa jadi yang kita dapatkan adalah sesuatu yang berwujud dan yang kita alami adalah sebuah peristiwa atau apapun kondisi yang terjadi dalam hidup ini.

Kehidupan itu seperti roda yang berlalu dari atas ke bawah dan seterusnya. Kehidupan juga tak ubahnya seperti pohon, yang semakin keatas semakin kencang pula angin yang menderanya. Seperti itulah kehidupan manusia, mungkin banyak analogi lain tentang kehidupan yang lebih pas untuk masing-masing individu. Salah satu godaannya adalah ambisi yang berlebihan.

Aku pernah menulis sesuatu tentang Ambisi Kehidupan . Nah terkadang ambisi yang berlebihan menyebabkan seseorang kurang bersyukur dengan segala keadaan yang diterimanya. Sampai-sampai banyak mengeluh seolah hidupnya tak mendapatkan apapun. Dia tidak menyadari bahwa udara yang dia hirup adalah nikmat yang luar biasa dalam hidup.

Bersyukur membuat hidup lebih tenang, banyak yang bisa dinikmati dari ke Redhaan Allah SWT. Bahkan Allah tak segan-segan akan menambahkan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. Apapun yang terjadi, apapun yang kita dapatkan adalah yang terbaik dari Allah, karena usaha dan doa tidak akan membohongi hasil. Lagi pula setiap cobaan pasti ada hikmahnya dan Allah juga tidak akan mencoba umat-Nya diluar kemampuan umat itu sendiri.

So jalani hari dengan rasa beryukur agar hidup lebih tenang dan bahagia ^_^

Wassalam … #SelfReflection for me

Continue Reading

Self Reflection

Ocehanku Untuk Sesama Perempuan Pekerja Muda

By on August 4, 2015

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh

Sumber dari google
Sumber dari google

Kemarin sempet geregetan dengan seorang teman yang mengunggah status di hari minggu kalau dia harus bekerja alias lembur padahal di hari sebelumnya, Sabtu dia juga mengunggah status di facebook bahwa dia juga masuk kerja. Di hari minggu sore dia kembali menggunggah foto status dengan caption “wajah anak pabrik.. wajah lembur, senang-seneng-senep”

Oh My God,,,, Well temenku itu perempuan loh… dia kerja 7 hari dalam seminggu, Dan bukan hanya kali ini beberapa kali dia juga keja setiap hari tanpa jeda sama sekali…  prok prok prok hebat.. tapi dari captionnya dia sebenernya antara bahagia dan susah “senang-seneng-senep”… ya yailah seneng kan artinya gajinya nanti akan lebih besar tapi susah juga.. ya iyalah kerja 7 hari dalam seminggu tentu sangat menguras tenaga dan fikiran…

Bingung, miris, geregetan campur-campur lah yang aku rasain ngeliat dia segitunya dalam bekerja… Tujuannya apa? ingin mendapatkn gaji yang lebih banyak? kenapa ga memulai usaha kecil-kecilan sendiri disamping pekerjaan rutin? ingin naik jenjang karir? kenapa ga berorientasi bahwa ibu rumah tangga adalah karir sesungguhnya bagi perempuan syukur-syukur sembari menjadi pengusaha alias bekerja dari rumah.

Gegara ini aku langsung ke inget share dari group whatsapp dari temen tentan 7 alasan untuk pulang kantor tepat pada waktunya yang ternyata sumbernya dari hipwee.com berikut rinciannya

Pulang kantorlah tepat pada waktunya.

 

Meski teman kerja masih di kantor, pulang saja kalau memang sudah waktunya. Tak perlu tak enak hati karena itu hakmu pribadi

Sejatinya pulang kerja tepat pada waktunya adalah hak pribadi setiap pekerja. Kamu tak perlu sungkan pulang lebih dulu daripada teman kerjamu lainnya. Untuk terbiasa dengan pola kerja yang menyehatkan ini, kamu bisa membiasakannya sedini mungkin. Bahkan, kamu bisa memulainya dari hari pertama bekerja. Hilangkan rasa sungkan dan ragu, yakinilah bahwa hal ini yang akan membuatmu hidupmu memiliki porsi yang seimbang.

Kamu boleh mencintai pekerjaanmu, tapi ingat jangan jatuh cinta pada perusahaan tempatmu bekerja.

Love your job but don’t love your company, because you may not know when your company stops loving you.”

– Dr. APJ Abdul Kalam

Mencintai pekerjaan tentu sah-sah saja, karena dengan begitu beban pekerjaanmu justru makin terasa ringan. Mencintai apa yang kamu kerjakan juga membuatmu merasa lebih dapat menikmati hidup. Namun, tentu saja kamu harus mampu memilah antara cinta dengan pekerjaan dan cinta dengan perusahaan.

Jatuh cinta pada perusahaan tempatmu bekerja membuatmu mau melakukan apapun yang disodorkan oleh atasan. Kamu bersedia menggadaikan waktu berhargamu hanya demi menggeluti beban pekerjaan yang tak masuk akal. Bahkan, kamu juga menelan mentah-mentah kebijakan perusahaan yang sebenarnya merugikan. Ingat bahwa kamu tak harus memanjakan perusahaan meskipun kamu jatuh cinta pada pekerjaanmu. Karena kamu tak akan tahu sampai kapan perusahaan masih membutuhkan tenagamu.

Hidup jadi bermakna karena banyak unsur di dalamnya. Apakah hidupmu akan sama kayanya jika kamu terlalu tenggelam dalam pekerjaan?

Bekerja merupakan bagian dari kehidupan sebagai manusia dewasa. Namun, tentu saja selain bekerja kamu memiliki porsi kehidupan lainnya. Ada waktu untuk menyenangkan dirimu sendiri, waktu untuk berkumpul bersama dengan keluarga, bercengkerama bersama kawan, hingga menghabiskan waktu bersama kekasih.

Jangan hanya karena menggilai pekerjaanmu yang sekarang kamu justru memangkas waktu untuk kehidupan pribadimu. Kebiasaan pulang terlambat hanya akan membuat kegiatanmu setelah jam kantor terasa tak bermakna. Hal ini karena tenagamu sudah tersedot habis di tempat kerja dan kamu hanya tinggal membawa rasa lelah saat pulang ke rumah.

Selama ini kamu tidak disekolahkan hanya untuk menjadi mesin. Kamu tetaplah manusia yang punya kehidupan di sela-sela kesibukan.

Setelah selesai menyelesaikan pendidikan, kamu memang wajib bekerja demi menyambung hidup. Selain itu, bekerja juga merupakan penanda bahwa kamu memang telah siap memasuki usia dewasa. Namun, kamu tentu harus mengingat bahwa kamu tak dibentuk sebagai robot untuk menjalani rutinitas harian. Jangan jadikan rutinitas bekerja sebagai jebakan yang akan membelenggumu dengan beban kerja yang tak ada habisnya. Di sela-sela kesibukan, kamu masih memiliki waktu berharga yang bisa digunakan untuk menikmati hidup.

Sekian puluh ribu orang terindikasi jadi jomblo karena bekerja >8 jam per hari. Kamu gak mau ‘kan masuk ke dalam golongan ini?

Durasi normal untuk bekerja selama satu hari adalah 8 jam. Selebihnya sisa waktu yang kamu miliki harus digunakan untuk menjalani kehidupan pribadi. Karena terjebak dengan kesibukan kantor lebih dari 8 jam perhari tanpa disadari akan memperlemah kehidupan sosialmu.

Tak hanya kemampuan bersosialisasi yang kemudian tumpul karena jarang bercengkerama bersama kawan, kehidupan asmaramu juga bisa terganggu. Apabila kamu sudah memiliki pasangan, tak jarang kalian akan sering bertengkar karena dia merasa diabaikan. Dan bagi kamu yang masih lajang hingga sekarang, kamu makin tak ada waktu untuk memperhatikan hubungan asmaramu. Bukankah kamu tak mau terjebak dalam pola hidup yang tak sehat ini?

Banyak orang pulang malam bukan karena rajin bekerja, namun tak bisa saja me-manage waktunya.

Perlu dijadikan catatan bahwa mereka yang selalu pulang terlambat dari tempat kerja tak selalu berarti rajin. Bisa saja, mereka hanya gagal mengatur waktunya demi menyelesaikan tugas yang dibebankan pada mereka. Saat harusnya fokus kerja, mereka terlalu banyak bercanda; ketika duduk di laptop, justru Facebookan sampai berjam-jam. Ini pun berimbas pada molornya jam pulang mereka dari kantor.

Tak ada orang yang perlu bangga jika harus menolak ajakan bertemu teman atau keluarga dengan alasan lembur atau pulang malam. Jika ini mencerminkan pribadi yang gagal dalam me-manage waktu, apa yang bisa dibanggakan?

Kamu bekerja keras demi mengulas senyum orangtua. Tapi senyum mereka akan memudar jika kamu sibuk di kantor saja.

Di usia muda ini kamu bekerja masih hanya untuk dirimu sendiri. Selain kebutuhanmu yang harus dipenuhi, kamu juga bekerja demi membanggakan orangtua. Menyisihkan sedikit uang untuk ayah dan ibu sebagai persembahan atas jerih payah mereka membesarkanmu.

Dengan bekerja, kamu juga mengukir senyum di paras orangtua. Karena inilah pembuktian kepada mereka bahwa kamu bisa berdiri di atas kaki sendiri. Namun, tahukah kamu, senyum mereka akan memudar ketika menyadari waktumu tersedot habis pada pekerjaan saja. Usia mereka sudah semakin senja dan waktu luangmu bersama mereka lebih berharga dari apapun juga.

Pekerja yang selalu pulang tepat waktu memiliki sifat yang efisien, memiliki kehidupan sosial yang seimbang, dan memiliki waktu yang berkualitas bersama keluarga. Kini, bersediakah kamu merapikan meja kerja dan beranjak pulang tepat pada waktunya?

Bagiku, Jangan pernah memaksakan diri daripada setengah hati, kita sekolah tingi bukan hanya untuk bekerja dan memperkaya diri, adakalanya ilmu yang kita peroleh diamalkan kepada orang lain atau lebih baik membuat sendiri lapangan pekerjaan yang berguna bagi orang lain. Apalagi untuk kita yang masih muda, hidup bukan hanya sekotak meja kerja. Lebih baik mengembangkan kualitas diri atau cukup isi hari liburmu dengan istirahat demi menjaga kesehatan.. Tanpamu perusahaan tak akan merugi adanya keluarga dan temanmu yang akan bersedih hati. Dan menjadi ibu cerdas dalam rumah tangga yang sakina mawadah warahma adalah sebaik baiknya profesi untukmu ukhti…

Dedicate to my friend… Ratria… I love you…

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatu

Continue Reading