Bahasa Pemrograman

Notasi Algoritma dan Aturan Penulisannya

By on November 20, 2013
Dalam suatu penulisan algoritma terkadang kita sulit untuk mengerti dan memahami maksud dari algoritma tersebut. Selain itu juga kita sulit untuk menuliskan algoritmanya. Untuk itu agar mempermudahnya dapat dilakukan notasi – notasi algoritma. Notasi algoritma merupakan rancangan penyelesaian masalah (algoritma) yang dituliskan ke dalam notasi (cara penulisan khusus).
Notasi algoritma yang sering dijumpai ada 3 macam yaitu :
  1. Notasi deskriptif, yaitu dengan cara menuliskan langkah-langkah penyelesaian masalah dengan kalimat-kalimat yang jelas dan deskriptif disertai dengan urutan (nomor urut) yang jelas. Selain itu juga Dengan notasi ini, deskripsi setiap langkah dijelaskan dengan bahasa yang jelas. Notasi ini cocok untuk algoritma yang pendek, namun untuk masalah yang algoritmanya besar, notasi ini jelas tidak efektif. Selain itu, pengkonversian notasi algoritma ke notasi bahasa pemrograman cenderung relatif sukar.
  2. Notasi bagan alir (flow chart), yaitu algoritma menggunakan bagan alir dengan memanfaatkan bentuk-bentuk geometri seperti persegi panjang, jajaran genjang, lingkaran dan sebagainya. Sama halnya dengan notasi deskriptif, notasi ini cocok untuk algoritma yang pendek, namun untuk masalah yang algoritmanya besar, notasi ini jelas tidak efektif. Selain itu, pengkonversian notasi algoritma ke notasi bahasa pemrograman cenderung relatif sukar.
  3. Notasi pseudo-code, yaitu notasi algoritma yang praktis dan mirip dengan bahasa pemrograman tingkat tinggi seperti Pascal. Banyak notasi pseudo-code yang digunakan oleh para ahli komputer dan berbeda-beda sehingga tidak ada aturan baku dalam penulisan pseudo-code ini, tetapi yang paling banyak digunakan dalam algoritma pemrograman adalah yang mendekati bahasa pascal. Keuntungan menggunakan notasi pseudo code adalah kemudahan mengkonversinya lebih tepat yang disebut mentranslasi ke notasi bahasa pemrograman, karena terdapat korespondensi antara setiap pseudo code dengan notasi bahasa pemrograman.
Aturan Penulisan Teks Algoritma
Teks algoritma berisi deskripsi langkah-langkah penyelesaian masalah. Deskripsi tersebut dapat ditulis alam bentuk notasi apapun , asalkan mudah dibaca dan dimengerti. Tidak ada notasi yang baku dalam penulisan teks algoritma. Tiap orang dapat membuat aturan penulisan dan algoritma sendiri. Namun, agar notasi algoritma dapat dengan mudah ditranslasi ke alam notasi bahasa pemrograman, maka sebaiknya notasi algoritma itu berkoresponden dengan notasi bahasa pemrograman secara umum. Pada dasarnya, teks algoritma disusun atas tiga bagian (blok) : bagian judul (header) agoritma, bagian deklarasi, dan bagian deskripsi. Setiap bagian dapat diberi komentar untuk memperjelas maksud teks yang dituliskan. Komentar biasanya ditulis menggunakan kurung kurawal.
1) Judul Algoritma
Judul algoritma adalah bagian yang terdiri atas nama algoritma dan penjelasan (spesifikasi) tentang algoritma tersebut. Nama algoritma sebaiknya singkat, namun cukup menggambarkan apa yang akan dilakukan oleh algoritma tersebut. Di bawah nama algoritma disertai dengan penjelasan singkat (intisari) tentang apa yang dilakukan oleh algoritma. Penjelasan di bawah nama algoritma sering dinamakan juga spesifikasi algoritma. Algoritma harus ditulis sesuai dengan spesifikasi yang didefinisikan.
2) Deklarasi
Di dalam algoritma, deklarasi nama adalah bagian untuk mendefinisikan semua nama yang dipakai di dalam algoritma. Nama tersebut dapat berupa nama tetapan, nama peubah, nama tipe, nama prosedur dan nama fungsi.
3) Deskripsi
Deskripsi adalah bagian terpenting dari struktur algoritma. Bagian ini berisi uraian langkah-langkah penyelesaian masalah. Langkah-langkah ini dituliskan dengan notasi yang lazim dalam penulisan algoritma. Setiap langkah algoritma dibaca dari langkah paling atas hingga langkah paling bawah. Urutan penulisan menentukan urutan pelaksanaan perintah.
— Algoritma berisi langkah-langkah penyelesaian masalah. Langkah-langkah tersebut dapat ditulis dalam notasi apapun, asalkan mudah dibaca dan dimengerti, karena memang tidak ada notasi baku dalam penulisan algoritma.
— Agar notasi algoritma mudah ditranslasi ke dalam notasi bahasa pemrograman, maka sebaiknya notasi algoritma tersebut berkorespnden dengan notasi bahasa pemrograman secara umum.
— Judul adalah bagian teks algoritma yang digunakan sebagai tempat mendefinisikan nama dengan menentukan apakah teks tersebut adalah program, prosedur, fungsi. Setelah judul disarankan untuk menuliskan spesifikasi singkat dari teks algoritma tersebut. Nama algoritma sebaiknya singkat namun cukup menggambarkan apa yang akan dilakukan oleh algoritma tersebut.
— Kamus adalah bagian teks algoritma sebagai tempat untuk mendefinisikan :
— Nama type
— Nama konstanta
— Nama variabel
— Nama fungsi
— Nama prosedur
— Algoritma adalah bagian inti dari suatu algoritma yang berisi instruksi atau pemanggilan aksi yang telah didefinisikan. Komponen teks algoritma dalam pemrograman procedural dapat berupa :
◦ Instruksi dasar seperti input/output, assignment
◦ Sequence (runtutan)
◦ Analisa kasus
◦ Perulangan
— Setiap langkah algoritma dibaca dari “atas” ke “bawah”. Urutan deskripsi penulisan menentuan urutan langkah pelaksanaan perintah.

Continue Reading

Bahasa Pemrograman

Pengantar Bahasa Pemrograman

By on
Bahasa pemrograman merupakan bahasa komputer yang digunakan dengan cara merancang atau membuat program sesuai dengan struktur (syntax) tertentu dan metode tertentu sesuai jenis bahasa pemrograman yang digunakan. Komputer berjalan sesuai kumpulan printah program yang telah dibuat oleh program. Bahasa pemrograman bisa berupa notasi yang sintaksis, terstruktur dan jelas, berbeda dengan bahasa manusia, misalkan Bahasa Indonesia dan Inggris yang luwes dan alamiah, sehingga bahasa pemrograman juga disebut sebagai bahasa formal (formal language).
Sejauh ini bahasa pemrograman dikelompokkan menjadi 5 generasi. Setiap generasi bahasa pemrograman memiliki karakteristik tersendiri. Semakin maju generasinya maka semakin dekat dengan bahasa manusia. Berikut ini penjelasan setiap generasi bahasa pemrograman :

Bahasa Pemrograman Generasi I

Bahasa ini  berorientasi pada mesin dan menggunakan bahasa mesin. Tentu saja program generasi ini sangat sulit untuk dipahami oleh orang awam dan sangat membosankan bagi programmer. Mereka harus benar-benar menguasai operasi komputer secara teknis. Namun bahasa generasi ini memberikan eksekusi program yang sangat cepat. Selain itu, bahasa mesin sangat bergantung pada mesin (machine dependent), artinya, bahasa mesin antara satu mesin dengan mesin lainnya akan berbeda.

Bahasa Pemrograman Generasi II

Bahasa pemrograman generasi kedua menggunakan bahasa rakitan (assembly). Sebagai pengganti kode-kode biner, digunakanlah kependekan dari kata-kata. Misalkan “MOV” untuk menyatakan “MOVE” dan JNZ yang berarti “jump non-zero” yang ada di bahasa generasi sebelumnya. Setiap instruksi dalam bahasa rakitan sebenarnya identik dengan satu instruksi dalam bahasa mesin. . Bahasa ini sedikit lebih mudah dipahami daripada bahasa mesin mengingat perintah dalam bentuk kata-kata yang dipendekkan lebih mudah daripada mengingat deretan angka biner.
Berikut adalah contoh instruksi yang ditulis dalam bahasa rakitan akan menjadi seperti berikut:
Tampak bahwa penggunaan notasi seperti MOV AH, 02
jauh lebih mudah diingat atau dipahami daripada penulisan instruksi dalam bahasa mesin: B402 atau 1011 0100 0000 0010.
 

Bahasa Pemrograman Generasi III

Bahasa pemrograman generasi ketiga menggunakan pendekatan prosedural. Sebagai bahasa prosedural, pemrogram perlu menuliskan instruksi-instruksi yang rinci agar komputer melaksanakan tugasnya. Program ditulis dengan menggunakan kata-kata yang biasa dipakai manusia, seperti WRITE untuk menampilkan sesuatu di layar dan READ untuk membaca data dari keyboard.
Bahasa generasi ketiga seringkali disebut sebagai high level language disebabkan bahasa ini menggunakan kata-kata yang biasa digunakan manusia. Beberapa contoh bahasa pemrograman yang masuk dalam kategori generasi ketiga yaitu ADA, ALGOL, C, BASIC, COBOL, FORTRAN, dan PASCAL.

Bahasa Pemrograman Generasi IV

Bahasa pemrograman generasi keempat dirancang untuk mengefisiensiensi waktu pembuatan program . Sehingga, bahasa pemrograman generasi keempat yang dikenal dengan sebutan 4GL dapat dipakai oleh pemakai yang kurang mengetahui hal-hal teknis tentang pemrograman tanpa bantuan programmer profesional. Sebagai contoh pemrogram dapat membuat program dengan Microsoft Access di lingkungan PC dengan mudah.
Bahasa pemrograman generasi keempat biasa disebut sebagai high level languageatau bahasa berorientasi pada masalah (problem oriented language) karena memungkinkan pemakai menyelesaikan masalah dengan sedikit penulisan kode dibandingkan pada bahasa prosedural. Bahasa pemrograman generasi keempat menggunakan pendekatan non-prosedural. Untuk mendapatkan suatu hasil, seorang pemakai tidak perlu memberitahukan secara detail tentang bagaimana mendapatkannya.

Bahasa Pemrograman Generasi V

Bahasa pemrograman generasi kelima merupakan kelompok bahasa-bahasa pemrograman yang ditujukan untuk menangani kecerdasan buatan (artificial intelligence). Kecerdasan buatan adalah disiplin dalam ilmu komputer yang mempelajari cara komputer meniru kecerdasan manusia.Berikut ini aplikasi dengan menggunakan kecerdasan buatan :
  • Pemrosesan bahasa alami (natural language processing), yakni mengatur komputer agar bisa berkomunikasi dengan manusia melalui bahasa manusia (Indonesia, Inggris, Spanyol, Prancis, dan sebagainya).
  • Aplikasi sistem pakar (expert system) yang meniru seorang pakar di bidang tertentu sehingga bisa menghasilkan nasehat atau pemikiran yang setara dengan seorang pakar.
Dengan menggunakan bahasa generasi kelima dimungkinkan untuk melakukan perintah dengan cara percakapan seperti berikut:
“Tampilkan semua nama mahasiswa yang IPK-nya di atas 3,0 dan urutkan berdasarkan IP secara ascending”

Continue Reading

Essay | IT

How IT Can Do to Reduce National Food Import?

By on

Indonesia is an agricultural country with considerable natural potential to contribute to national development and economic improvement of the Country. Several area in Indonesia are in the equator, it’s make the country climate is pretty good if developed as a farming state. Indonesia’s population is also largely dependent on the agricultural sector. Agricultural sector in this regard include agriculture, animal husbandry, fishery, and forestry have the potential to absorb labor. Data recorded at the Badan Pusat Statistik (BPS) as Statistic Agency on August of 2012, the number of agricultural employment of 38.8 million people, or 32.94% of the total national workforce.

At the World Food Summit (1996) defines food security as, “Food Security happens when all those continual basis whether physical, social, and economic access to food have adequate / sufficient, nutritious, and safe food that meets their needs and choices food for an active and healthy life “. As one of the countries that signed, Indonesian government showed their determination by pouring food security in Law number. 7 of 1996 which defines food security as a condition for the fulfillment of household food reflected the availability of sufficient food, both in quantity and quality, safe, equitable and affordable.

However, favorable geographical conditions do not make Indonesia free from the problems of food security. In 2012, there were 3000 villages across Indonesia which indicated food insecurity. This was said by the Head of Food Insecurity in the Availability and Food Security Agency, Tjuk Eko, based Map of Food Security and Vulnerability Assessment 2010, which is now reaching up to sub-district. Therefore to cover the shortage, the Government encouraged the national food imports.

Imported food commodities that have been performed since 1998 until now, more and more increasing. It’s ironic when considering that most of Indonesian territory developed for agriculture and agribusiness are still experiencing shortages. Indonesia was once a called as ‘Macan Asia’ which means capable supplicants own food self-sufficiency so that they can even be a state food exporters to various countries in Asia, but now in fact Indonesia become the importer. Food import dependence puts Indonesia as the country’s second importer of rice and wheat in the world.

Based on BPS data in 2012, there are several food commodities are always in Indonesian imports. Commodities such as rice, corn, wheat, soy, wheat, sugar, chicken, flour, salt, cassava, and potatoes. Throughout the year 2012, rice imports reached 1.8 million tons with a value of U.S. $ 945.6 million. Largest country supplying rice to the country is Vietnam with a total of 1.1 million tonnes worth U.S. $ 564.9 million. In addition, Australia is the country’s largest supplier of salt as much as 1.6 million tons with a value of U.S. $ 80.9 million. While America was ranked second as a supplier of potatoes is as much as 8,695 tons with a value of U.S. $ 7.5 million. (Source: asiabusinessinfo.com on 6 February 2013)

The impact is domestic agricultural products eroded stream from existing import. Domestic sales of agricultural products declined because the market is dominated by imported which goods is cheaper. This is a mistake in setting food import policy which results instead of domestic farmers did not sell in their own country. If there are problems of food shortages in some areas, particularly in eastern Indonesia and the surrounding areas such as Nusa Tenggara, the government signed an agreement with the easy foreign imports to bring food that will be distributed to the area. Meanwhile there are some areas in Indonesia, which is famous for their very good produce so it can meet its own food needs in the region even more and can be distributed to other areas.

Indeed, not all regions have the crops included in food category because of favorable conditions existing area. But of course there is the potential outcome areas that can be developed. Another result is referred to plantation crops, livestock and other food in general support needs such as fruits, vegetables, fish, salt, and others. These results can be well distributed throughout the territory of Indonesia. However, the distribution of the goods is less than optimal so that there are still areas that experienced food crisis.

Most local farmers commonly sell their produce to fence which usually called as middlemen. These parties are often monopolizing farmers. They crops which distributes agricultural to markets in other areas if not controlled properly then its spread is not balanced. Not only that, for get more benefit, sometimes they use fraudulent practices to hoard the crop farmers, they create some crisis condition for example, the onion. When the market needs are increasing but goods do not exist then they could easily raise prices of onion with the reason they get the goods hardly. They really harm both the farmers and consumers.

Actually, the government through the BPS has made reports to determine the amount of each harvest area that produced food per year. Reports contained detail data of the amount and presentation of goods produced by a particular category. The report was published and can be downloaded via the official website of BPS. But the data is considered less effective because present form of tables and we have to download first. Even though people who live in this technology era always want to get transparency data as quickly as possible. Information technology is one of the most popular solution in the delivering data for people. Internet as tools for distributing information around the world, it makes easier to do transaction everywhere and every time, unlimited.

If the data is derived crop farmers in Indonesia can be reported each day by the government there will be no hoarding of goods that can be done by middlemen. In addition, if there are areas that are experiencing a decrease harvest in certain food commodities and there are other areas that are experiencing the harvest area that has more number of crops that can be channeled into areas lacking. The existence of the data collected in these systems can also reduce imports which are often the shortcut chosen by the government.

The data collected from each area can be in the form of a website is processed by related government agencies. For example, Badan Pusat Statistik, Badan Ketahanan Pangan, and Kemetrian Pertanian. Websites chosen because of the easier access that can used by Indonesian’s people. Appearance was made more user friendly in the form of tables containing the area and number of harvests per day based on a certain category. This makes the community as a website visitor can easily understand the data or information presented without having to download the data.

Data can be design by the BPS who has previously done same thing such as harvest reporting. BPS reports that have been made can be made in reference in designing the data to be displayed on the website. They determine categories of food commodities that have been classified such as staple foods, vegetables, fruits, medicinal plants, fish, and other salts. This yields a data grouping is make easier to present the content in website. For daily data processing can be carried out by the Badan Ketahanan Pangan, where each region does have durability website each province. Then the admin of each provincial agency that input resistance yields per day from the region. Then Badan Ketahanan Pangan Pusat will verify the data which is then displayed in a national website where all the data is collected.

Procurement websites that integrate crop each region or province where the impact is enormous both governments’ related entities and even the president can monitor the competence of Indonesian farmers easily. In addition, people can also know the potential of their area and if there is a surge in market prices due to no availability of goods, they can easily ascertain the correct reason or not through the website. In addition, people can also compete separately increase yields in the region in order to show the current harvest rate is not far from other areas. And that becomes an important point as the goal of the creation of this website is minimizing food imports from abroad. When there is a shortage of local food, there can be another area that still has food reserves can be distributed, so that one region to region can complete each other need without having to import from abroad. If imports can be minimized so not much foreign exchange and then money can allocation for another need for communities. Finally domestic farmers are also more prosperous and Indonesia become to a better state for food security.

 

Continue Reading

Essay | Pendidikan

Transformasi Media Memborbardir Moral Bangsa

By on

Perkembangan dunia teknologi informasi yang demikian pesatnya telah membawa dampak yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia.Setiap orang memiliki kemudahan untuk dapat mengakses informasi di belahan bumi manapun. Karena sekat-sekat penyebaran informasi sudah terkikis akibat adanya suatu teknologi.Konsekuensinya masayarakat menjadi tanggap dan ingin selalu tahu informasi yang sedang berkembang.

Media massa sebagai agen  penyedia informasi yang selalu  mendapat perhatian masyarakat juga berubah mengikuti arus kemajuan teknologi. Informasi yang disajikan lebih cepat dan terbaru seiring tuntutan masyarakat yang selalu ingin mendapat informasi terkini. Tak ayal banyak perusahaan media mulai memperbarui teknologi mereka, seperti media cetak sekarang yang mulai beralih ke dunia digital dan elektronik. Hal ini makin mempercepat arus informasi yang di dapat masyarakat.

Tidak hanya media cetak  yang berubah, melainkan seluruh media massa juga memperbaiki system informasi mereka, seperti televisi, radio, dan lainnya. Mereka memanfaatkan internet sebagai alat untuk mengembangkan penyebaran informasi. Seperti radio dan televisi yang saat ini sudah dapat diakses melalui teknologi streaming sehingga jangkauan frekuensinya lebih luas. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa jarak sudah mulai terkikis oleh adanya teknologi, semua hal menjadi lebih transparan.

Secara garis besar perkembangan media memiliki dampak yang signifikan terhadap arus informasi dan komunikasi yang kita lakukan sehari-hari. Karena komunikasi yang kita lakukan berasal dari media yang kita baca, lihat, maupun dengar. Tanpa adanya media, maka akan sangat sedikit sekali informasi yang kita dapat. Itu akan membuat terbatasnya pembicaraan kita terhadap orang lain, maka secara otomatis komunikasi yang kita lakukan pun akan terasa membosankan karena hanya mengenai topik yang monoton.

Sayangnya perbaikan teknologi pada media tersebut tidak dibarengi dengan konten yang disajikan. Banyak informasi yang tersebar di media internet kurang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Sehingga media tidak dapat menjawab tuntutan masyarakat yang tanggap informasi dengan tepat. Hal ini kadang menciptakan keambiguan sehingga pembaca dapat memiliki asumsi tersendiri yang bisa saja keliru. Oleh karena itu, peran media di sini bukan hanya memberika informasi secara actual namun juga factual agar tidak ada kesalahan publik yang bersifat masif.

Belum lagi adanya situs-situs yang berisi informasi tetapi memiliki iklan yang jelas terpampang gambar yang mengandung unsur pornografi. Seharusnya pengelola situs atau blog tersebut yang juga menjadi media yang akses banyak orang dapat secara cerdas memilah dan memilih informasi yang akan disajikan dalam situs mereka. Karena seringkali informasi tersebut berupa artikel yang dibutuhkan pelajar untuk menjadi sumber atau bahan pembelajaran mereka. Namun dengan adanya tampilan seperti itu maka seorang anak di bawah umur dapat melihat suatu hal yang tidak pantas di usianya.

Lain halnya dengan media televisi, di era yang serba digital ini tak ubahnya seperti pintu lebar bagi perusahaan pertelevisian untuk makin memperbaiki kualitas visual mereka. Banyak inovasi yang ditampilkan oleh media televisi selama 24 jam sehari. Berdasarkan penelitian, televisi tetap menjadi media yang paling dekat dengan masyarakat, lantaran televisi hampir dimiliki oleh semua kalangan. Sehingga mereka dengan mudah menikmati tontonan yang ada.

Namun tetap saja media ini memiliki permasalahan yang sama, konten acara televisi Indonesia tidak berkembang seiring teknologinya. Untuk mengangkat rating suatu acara, media selalu mencoba mengemas sebuah tayangan semenarik mungkin sampai-sampai harus mengabaikan nilai-nilai edukasi yang sudah menjadi tanggung jawab mereka. Ditambah porsi tayangan dengan konten tersebut justru lebih banyak ketimbang yang memiliki nilai informasi dan edukasi. Sungguh suatu permasalahan yang belum tersadarkan masyarakat.

Lihat saja tayangan iklan sebuah mie instan versi “AYAM” di mana dalam iklan tersebut ada adegan yang merujuk pada pelecahan terhadap profesi guru, hal itu bisa dilihat di akhir tayangan saat seekor ayam diletakan di kepala sang guru. Ini jelas sebuah pelecehan terhadap profesi “pahlawan tanpa tanda jasa”. Lain lagi dengan iklan salah satu minuman, yang jelas telah menyebarkan adegan seronok, adegan itu terlihat ketika sebuah gigi palsu yang lepas kemudian terlempar dan jatuh tepat di bagian dada si perempuan.

Untungnya Iklan-iklan itu hari ini berhasil disensor karena ada aduan dari mayarakat. Namun apakah ini tidak terulang di iklan-iklan yang lain? Tentu saja tidak. Masih banyak iklan-iklan yang tak layak tayang namun masih saja di paksakan dan ini jelas TIDAK BAIK.

Lain dengan iklan, sinetron lebih ekstrem lagi. Tayangan kekerasan dan tidak pantas terus saja ditayangkan. Padahal dunia juga tidak sekejam seperti yang ditayangkan, justru itu yang membuat paradigma baru bahwa kekerasan itu memang ada dan biasa. Nilai-nilai konsumtif pun terus membombardir penonton. Penonton dipaksa untuk berhayal memiliki uang yang bayak sehingga dapat membeli semuanya dengan berbagai macam cara. Toh banyak cerita yang menggambarkan tentang adanya perebutan harta demi suatu kedudukan dan kekayaan. Adegan kekesaran, sex dan gaya hidup yang tak sesuai dengan kebiasaan di Indonesia terus saja bermunculan.

Di berita juga sama saja, baik itu infotainment maupun news. Di acara yang mengabarkan kehidupan para public figure ini setiap hari hanya diisi konflik-konfik yang mampu memberikan efek negatif buat penonton. Kasus perceraian, pertikaian, konsumsi narkoba seolah menjadi hal yang biasa. Infotainment telah memaksa kita untuk menganggap sesuatu yang tak pantas menjadi pantas, sesuatu yang tak layak dilakukan menjadi layak untuk dilakukan karena tokoh yang mereka gandrungi juga melakukannya.

Di berita “news”, adegan kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, perampokan, geng motor serta konflik-konflik para pejabat terus saja disuntikkan ke penonton. Memang banyak manfaatnya, namun rasanya tidak bisa dipungkiri bahwa berita-berita tersebut lah yang menyebabkan terjadinya rentetan kejadian yang sama. Perampokan misalnya, televisi tak malu-malu mengekspos cara-cara perampokan yang dilakukan. Dan hal ini tentu saja akan menjadi sebuah rentetan kejadian yang terus menerus, karena berkat informasi yang tayangkan di media tersebut para perampok jadi lebih tahu bagaimana meraih kesuksesan ketika melaksakan aksinya.

Menyadari hal ini jika kita tetap menganggap media menjadi  sumber informasi yang bermanfaat semata-mata malah dapat menjerumuskan manusia pada arus-arus negatif yang tersimpan di balik media jika tidak dipahami dengan baik. Tak dapat dipungkiri bahwa banyak kepentingan terselubung yang diselipkan melalui media yang disetting sedemikian rupa. Bila ini tidak difilter dengan baik, maka akan membawa pengaruh yang dapat menghancurkan nilai dan kepribadian suatu bangsa

Penyakit moral bisa makin menyeruak jika masyarakatnya terus menonton suatu tayangan yang tidak bermutu. Permasalahn yang disajikan seakan menutup kabar baik negera ini karena kurang terekspose oleh medianya. Jika ditilik dari negara lain seperti saat Jepang mengalami musibah ledakan PLTN (Pembangkit Listrik Tenakaga Nuklir) di Fukushima, media di sana dapat mengemas beritanya lebih bijaksana seperti lebih menyoroti perbaikan PLTN yang dilakukan pemerintah.

Secara psikologis warga Jepang menjadi lebih tenang dalam menanggapi isu paparan radioktif karena media disanatelah mengabarkan bahwa sudah dilakukan perbaikan. Coba hal itu terjadi di Indonesia, adanya malah menggambarkan suatu kepedihan yang berlebihan seakan negara ini tak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada.

Di sisi lain, menganggap media sebagai hal yang harus disingkirkan juga menghilangkan peluang untuk kita mengasah kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Howard Gardner (1999), mengemukakan definisi kecerdasan yakni suatu potensi biopsikologis untuk memproses informasi yang dapat diaktifkan dalam suatu latar kultural untuk memecahkan masalah atau menciptakan produk-produk yang merupakan nilai dalam suatu kultur. Jelaslah bahwa kecerdasan dapat diasah melalui media.Sehingga menafikkan media merupakan tindakan yang tidak bijaksana.

Melihat dua sisi yang berlawan dari transformasi media massa menimbulkan sebuah pemikiran kuat sekaligus mendesak. Pertanyaan yang mengemuka adalah “Bagaimana kita harus menyikapi kenyataan arah bola liar transformasi media agar dapat mengoptimalkan perubahan peradaban yang konstruktif dan efektif?” Juga “Bagaimana kita bersinergi dengan media massa agar bisa berperan  membangun kecerdasan majemuk bagi generasi bangsa?”

Jawabnya, kita semua harus mampu mengoptimalkan kecerdasan bermedia (media literacy). Kecerdasan yang satu ini  adalah suatu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan komunikasi dalam berbagai bentuk melalui media. Dengan kecerdasan bermedia, individu mampu mengelola pesan di media demi membekali diri menghadapi kenyataan hidup sehari-hari. Dengan begitu kita telah memiliki benteng kuat menghadapi dua sisi kontradiktif dari bombardir transformasi media seperti yang sedang dihadapi negeri ini sekarang.

Tulisan diikutsertakan lomba essay PNJ Fair 2013 dan memenangkan juara ke 3

Continue Reading

Essay

KKN : Persoalan Akhlak Dipecahkan dengan Teknologi

By on
Membicarakan kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) bukan hal yang dianggap tabu saat ini. Kasus ini malah menjadi sorotan utama di setiap berita apabila berhasil terungkap. Bagaimana tidak, Karena kasus ini bagai penyakit sosial yang telah menggerogoti mental para pejabat publik sehingga merusak tatanan pemerintahan  suatu Negara. Untuk menciptakan penyelenggaraan Negara yang bersih dan berwibawa, perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dibasmi hingga ke akar-akarnya.
Perilaku KKN di Negara kita, telah merambah dalam segala aspek kehidupan baik dalam lingkungan pemerintahan Negara dari pejabat tertinggi hingga pejabat terendah, dan tidak ketinggalan pula di lingkungan pejabat swasta telah terjankit penyakit KKN. Pemerintah telah mengeluarkan undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.  Namun bak jamur dimusim hujan, perilaku KKN makin bertambah bahkan susah dihentikan apalagi hingga akar.
Anehnya perilaku yang menyimpang ini seakan sudah bukan menjadi hal yang memalukan lagi. Hal ini bisa dilihat dari pelaku yang sudah terbukti melakukannya, namun tetap saja bisa tersenyum dan bertingkah layaknya arti yang sedang mendapat sorotan. Tak ayal, jika ada indikasi pergeseran akhlak yang terjadi di masyarakat Negara ini. Seperti sebait puisi ‘Ketika Burung Merpati sore Melayang’ karya Taufiq Ismail.
Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku
Dari puisi diatas bisa dilihat bahwa rakyatlah yang menjadi korban dari kebobrokan akhlak para pejabatnya. Amanah rakyat yang seharusnya mereka kerjakan dengan baik malah menjadi boomerang yang menyerang mereka sendiri. Rakyat dikelilingi para penjahat bertampang malaikat yang seenaknya mengambil uang mereka. Karena uang yang telah mereka setorkan kepada Negara melalui pajak malah dikorupsi dengan alasan anggaran dana proyek tertentu, bukankah hal ini seperti “air susu dibalas dengan air tuba”?
Berbicara soal akhlak manusia memang susah untuk dirubah. Apalagi jika sudah tertanam dalam diri seseorang dan tidak dilakukan sendiri melainkan “berjamaah”. Sehingga perlu gerakan nyata untuk menyadarkan bahwa KKN benar-benar telah merusak aspek kehidupan masyarakat diberbagai bidang. Kampanye anti korupsi dirasa kurang cukup untuk menggugah hati nurani para koruptor untuk berhenti melakukan tidakan itu. Ketamakan dan keserakahan mereka hanya bisa dikontrol oleh dirinya sendiri. Untuk itu harus ada cara lain sebagai langkah antisipasi dari pemerintah untuk mencegah oknum-oknum tertentu melakukan tindakan KKN.
Kemajuan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) di Indonesia bisa menjadi salah satu inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk memberantas KKN baik pada tataran pencegahan maupun pada tataran penindakan. Tindakan korupsi berkaitan erat dengan informasi. Oleh sebab itu, teknologi informasi memiliki  potensi peran yang besar dalam upaya-upaya menyelesaikan permasalahan ini.
Korupsi terjadi karena adanya niat dan peluang. Besarnya peluang terjadinya korupsi dapat diturunkan melalui peningkatan transparansi. Tingginya tingkat transparansi akan memperkecil ruang gerak mereka yang berniat korupsi karena segala sesuatunya terlihat terang benderang. Misalnya pada pengadaan barang tertentu seperti mobil, pemerintah dapat melakukan tender terbuka yang bisa diikuti masyarakat luas agar mereka dapat berkompetisi secara fair untuk mencegah adanya gratifikasi.
Sebenarnya DPR bersama-sama dengan pemerintah telah mengesahkan Undang Undang 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.  Di dalam pasal 7 dinyatakan: (1) Badan Publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan Informasi Publik yang berada di bawah kewenangannya kepada Pemohon Informasi Publik, selain informasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan. (2) Badan Publik wajib menyediakan informasi publik yang akurat, benar, dan tidak menyesatkan. (3) Untuk melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Badan Publik harus membangun dan mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi untuk mengelola informasi publik secara baik dan efisien sehingga dapat diakses dengan mudah.
Jadi jelas sekali dinyatakan dalam ayat 3 tentang kewajiban Badan Publik untuk membangun dan mengembangkan sistem informasi agar dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Jika transparansi informasi dapat berjalan dengan baik maka masyarakat dapat mengoptimalkan perannya dalam proses pengawasan dan juga lebih mengetahui proses pengalokasian dana anggaran pemerintah. Sehingga peran teknologi akan semakin dirasakan dalam mencegah terjadinya tindak pidana korupsi.
Selain itu, kejahatan korupsi berkaitan erat dengan proses aliran dana. Oleh sebab itu, teknologi memilki peran yang besar dalam melacak aliran dana yang tidak wajar. Para penegak hukum perlu belajar agar dapat menguasai teknologi dengan baik sehingga dapat melakukan analisis dengan baik ditengah besarnya data aliran dana yang ada. Kegiatan korupsi, yang sebagian besar dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai pihak, akan memerlukan sistem informasi dan komunikasi untuk koordinasi. Di sini teknologi memiliki peran untuk melakukan penelusuran data dan komunikasi yang berkaitan dengan kejahatan korupsi telah terjadi.
Dalam pemanfaatan teknologi, hampir setiap penggunaan teknologi akan meninggalkan jejak. Jejak-jejak informasi dan komunikasi yang ditinggalkan dapat ditelusuri menggunakan teknologi. Memang terlihat ada kecenderungan para pelaku korupsi menggunakan cara-cara konvensional, untuk mengindari cara praktis yang bisa dilakukan dengan teknologi. Namun tetap saja pasti ada titik-titik dimana jejak itu ditinggalkan. Disinilah para penegak hukum diharapkan menguasai teknologi dengan baik sehingga dapat dengan jeli menemukan jejak-jejak yang ditinggalkan para koruptor.
Tidak mudah memang mengatasi permasalahan akhlak seperti korupsi ini, karena para pelakunya sudah terorganisir dengan menyalahgunakan kekuasaan mereka demi menguntungkan diri sendiri dan kongsi-kongsinya. Untuk itu diperlukan tidakan nyata yang kreatif dan efisien untuk menyelesaikan persoalan ini. Teknologi yang dewasa ini semakin berkembang dapat dijadikan alat untuk melakukan pencegahan melalui transparasi data dan pelacakan data sebagai tindakan untuk mencari alat bukti jika terjadi tindak pidana korupsi. Jika penegak hukum dapat menjalankan hal ini dengan baik, maka dapat meminimalisir tindak pidana korusi dan menyelematkan uang rakyat.

Diikutsertakan dalam lomba Essay Sahabat Politeknik 2013 dan mendapat juara 3

Continue Reading

Essay

Sedihnya Kala Malu Menjauh

By on
Kehidupan merangkak dengan cepat seiring peradaban manusia. Sekarang kita hidup di tahun 2012 yang serba modern, praktis dan digital. Tahun selalu berubah, kita tidak tahu bagaimana 10 tahun ke depan kehidupan ini akan berlanjut di tahun 2022. Macam karakter manusia pun saling berbeda antara satu sama lain. Kolektifitas gaya elemen bangsa yang nantinya akan membentuk bentangan budaya. Malu menjadi salah satu produk budaya itu.
Gaya kehidupan yang diperagakan orang tak selalu sama. Tak ada yang sama! Ada orang yang peduli, ada juga yang tidak. Ada orang baik, ada juga yang jahat, ada orang kaya, begitu juga ada orang miskin. Semua itu bisa terjadi dalam satu periode ataupun lain periode. Selain itu, ada orang yang mempunyai sifat pemalu, namun ada juga orang yang tak punya malu. Celakanya, sifat tak punya malu inilah yang banyak menjadi tren di era kekinian di Indonesia. Bisa dibayangkan akan lebih celakanya kalau tak punya malu ini sudah menjadi budaya. Prediksi besar yang hampir menjadi kenyataan adalah semakin terpuruk dan porak-porandanya bangsa Indonesia.
Kebudayaan tidak pernah statis. Ia senantiasa bergerak, meliuk melakukan manuver  dan beradaptasi secara dialektis dan kreatif dengan dinamika masyarakat. Adakalanya  memengaruhi, juga sebaliknya dipengaruhi masyarakatnya. Kebudayaan mengalir dalam gerak saling-pengaruh yang tanpa akhir dalam denyut nadi kehidupan. Terkadang arusnya kecil, terkadang besar, bahkan ia bisa menjadi gelombang besar yang memengaruhi kesadaran dan laku kita. Sadar atau tidak sekarang kita hidup di negara yang sedang mengalami krisis budaya malu.
Malu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebisaaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya. Sedangkan budaya malu (shame cultur) merupakan budaya dimana seseorang melakukan sesuatu atas dasar malu. Malu apabila dia tidak melakukannya maka dia akan dicemooh orang lain. Itu menjadi motivasinya. Ia dilihat seakan seorang pahlawan. Berbeda dengan budaya tak punya malu tentunya. Budaya tidak malu (guilt culture) adalah budaya dimana seseorang melakukan sesuatu atas dasar tahu dirinya, tahu bagaimana kodratnya sebagai manusia. Budaya ini menghubungkan pelakunya dengan rasa sadar akan dosa.
Nyatanya, budaya malu yang kuat akan membawa pada kemajuan dan kemaslahatan bangsa secara makro. Dengan budaya malu yang kuat, kita akan selalu berjuang dan berusaha dengan keras untuk tidak gagal meraih cita. Sekadar menukil sebuah contoh, seperti yang kita ketahui dalam budaya Jepang ada yang namanya harakiri yaitu menyobek perut dengan samurai pendek. Harakiri adalah suatu tindakan bunuh diri disebabkan merasa malu atau menanggung aib akibat gagal menjalankan tugas yang dipercayakan padanya.
Harakiri biasanya dilakukan oleh jenderal yang mengalami kekalahan dalam perang, bisa juga pemimpin yang gagal menjalankan tugas yang diembannya. Dengan budaya malu yang kuat itulah, orang Jepang memiliki kinerja yang luar bisa dalam banyak hal. Intinya,mereka malu kalau gagal meraih prestasi. Hasilnya, Jepang pun menjadi macan Asia di bidang ekonomi dan perdagangan, tak lepas dari kuatnya budaya malu yang menghinggap di sanubari setiap orang Jepang.
Akan halnya di Negara kita. Indonesia memang tidak mempunyai budaya harakiri seperti Negara Matahari Terbit itu tapi sebagai bangsa timur, kita punya budaya malu yang sangat kuat. Ingatkah dulu kita sering diejek jika melakukan suatu kekeliruan. Kita juga diperingatkan untuk tidak boleh melakukan ini dan itu jika sedang bertamu di rumah orang “Jangan malu-maluin ya, Nak”. Itu kata orang tua dulu. Berarti sejak kecil kita sudah diajari untuk merasa malu bila melakukan kesalahan. Bahkan kadang ajaran malu ini sering begitu kuat dan berlebihan sehingga membuat orang merasa tidak percaya diri bila ingin melakukan sesuatu atau menunjukkan siapa dirinya.
Dewasa ini malu itu hilang lenyap entah ke mana sehingga memunculkan wabah penyakit tak tahu malu yang sudah terjangkit di berbagai elemen masyarakat. Baik laki-laki maupun perempuan. Mulai dari yang muda hingga yang tua. Dari yang miskin maupun yang kaya. Pejabat maupun rakyat jelata. Mereka merasa tidak malu jika membuat kesalahan besar yang diketahui publik. Mereka seakan acuh dengan penilaian orang lain apalagi memikirkan dosanya pada Tuhan.
Dimulai dari kasus kecil yang biasa kita temui seperti dengan bangganya anak-anak setingkat SMP bahkan SD merokok di depan umum. Kadang masih mengenakan seragam sekolah mereka menghisap batang rokok secara leluasa. Padahal jaman dulu walaupun sudah SMA saat ingin merokok mereka pasti sembunyi-sembunyi. Yah bukan karena malu sih kadang, sekadar  takut diomelin saja kalau ketahuan guru atau orang tua. Tapi paling nggak rasa jera masih tertanam dalam diri. Rasa malu atau sungkan dengan orang sekitarnya telah hilang digantikan euphoria sesaat yang mereka dapatkan bersama kumpulan teman yang keliru.
Contoh lain lunturnya budaya malu, banyak tercermin dalam keseharian warga ibu kota Jakarta. Sudah ada peraturan yang dibuat untuk mengatur tempat khusus bagi perempuan di kendaraan umum, baik dalam busway maupun kereta namun kenyataannya tetap saja banyak dari kaum laki-laki yang mengacuhkan hal itu. Mereka dengan seenaknya memasuki area yang dikhusukan bagi perempuan dengan berbagi alasan. Kadang alih-alih sebagai pasangan si laki-laki dengan muka tebalnya masuk di area itu dengan alasan ingin melindungi si perempuan. Padahal tanpa adanya laki-laki tersebut, area khusus sudah melindungi perempuan dari beberapa kejahatan dan pelecehan yang sering dialaminya.
Selain itu tak jarang kita melakukan hal yang tak sepatutnya di tempat umum yang telah menjadi tren masal bertameng isu toleransi. Sebagai perempuan kadang sangat miris ati melihat para perempuan lain yang mengenakan pakaian yang kurang sepantasnya. Masih hangat pernyataan Ketua DPR tentang aturan untuk tidak memperbolehkan staf dan asistan anggota DPR memakai rok mini. Yang kemudian menimbulkan pro-krontra. Padahal kalau dikaji ulang pernyataan tersebut bisa sampai diutarakan oleh seorang Ali Marzuki karena situasi yang sudah risih melihat suatu kekeliruan. Atau bahkan dia sudah berada titik nadir kesedihan melihat menipisnya budaya malu orang-orang yang berada di lingkar lingkung dewan yang terhormat itu.
Bagi mereka yang merasa disorot dan kritik, seharusnya melakukan instropeksi diri dan sadar bahwa selama ini keliru. Bolehlah memakai baju kerja dengan rok pendek namun tahu batasan, paling tidak panjang rok selutut. Seharusnya tanpa harus diingatkan para staf yang bandel ini mengerti sopan santun. Mereka seharusnya tahu apa yang dilakukan. Dalam Islam pun jelas mengharuskan perempuan menutup aurat dengan menggunakan jilbab pula.  Sebagai bangsa  yang mayoritas beragama Islam sepatutnya mereka bisa mengetahui hal itu.
Itulah fenomena yang ada dalam kehidupan ini. Hingga kini begitu banyak pemikiran kritis yang lahir dari perenungan yang dalam dan tulus untuk berbicara tentang budaya dan masyarakat Indonesia . Pandangan itu sering sangat kritis terhadap budaya dominan, sehingga tak jarang cukup mencerahkan. Sayang, setelah pemikiran itu dilontarkan, lantas disambut dan diperdebatkan dengan sangat hangat, kemudian dilupakan begitu saja. Seakan lenyap digerus rotasi sejarah. Seperti kasus-kasus sebelumnya, perdebatan larangan merokok di tempat umum dan area-area tertentu toh akhirnya tidak berjalan seperti yang dicitakan.
Dari situ kita bisa memetik pelajaran tentang betapa pentingnya rasa  malu itu sehingga harus dibudayakan. Kita tidak akan lagi menyaksikan tindakan amoral dan kekerasan yang meresahkan masyarakat banyak. Masyarakat selayaknya bersikap sosial yang baik dan mengubur tindakan amoral. Sebenarnya sebagian bangsa Indonesia secara sadar menyatakan bahwa “malu” merupakan bagian dari budaya bangsa.
Berbagai pernyataan dan tulisan di media telah membahas hal tersebut. Namun kiranya kurang arif manakala hanya karena ulah dari suatu pihak atau kelompok “yang tidak tahu malu”, kemudian dikaitkan dengan budaya bangsa secara keseluruhan. Faktor budaya adalah aset bangsa, maka perlu kearifan dalam memahami masalah ini.
Saat kapan untuk menunjukkan rasa malu bagi masing-masing individu adalah jika dia berbuat suatu kekeliruan. Karena kita juga tidak boleh terkurung dalam malu untuk menunjukkan potensi yang dimiliki. Untuk itu dalam membangun “budaya malu”, fungsi agama dan lembaga pendidikan adalah sangat penting dan ikut menentukan. Apabila sampai pada keadaan bahwa orang sudah tidak punya malu, maka misi agama dan lembaga pendidikan dianggap gagal.
Akhirnya marilah kita kembali menumbuhkembangkan dan memupuk budaya malu, paling tidak Malu Pada Diri Sendiri“  adalah hal yang paling penting dalam hidup. Jika saja kita semua bisa menerapkannya, maka segala hal akan menjadi baik. Ini merupakan satu keniscayaan yang teramat kuat, bahwasanya malu menjadi fondasi pembangunan Indonesia yang hakiki.
Dengan memberi titik penguatan yang lebih besar pada pentingnya budaya malu, Indonesia akan menjadi bangsa terhormat dan bermartabat.  Pendidikan, ekonomi, pemerintahan  dan semua relung kehidupan bangsa  akan maju. Negara ini akan maju, tidak ada kebodohan, kemiskinan,  egoisme serta KKN yang menjadi borok paling besar dan menyakitkan. Tentunya malu yang diterapkan bukan menjadi alasan kita tidak bisa maju akibat kurang percaya diri. Tapi lebih  malu jika melakukan hal-hal  negatif.

Continue Reading