Curhat | Self Reflection

Overweight and Overbudget

July 7, 2018

Hai hai assalamualaikum…

Everythings gone be over beb haha.. Kalo lihat foto diatas, itu aku lagi buka puasa di Gyukaku, jujur aku syok pas tau difoto keliatan ginuk-ginuk banget yang dengan pedenya makan all you can eat di Japanese restaurant. Yup cerita receh kali ini tentang diriku yang sedang dihadapkan dengan ke-over-an. Overweight for my body and overbudget for my financial condition. Sebenernya bagaikan gunung berapi, semuanya belum sampai waspada sih cuma siaga satu, cuma it’s means aku kudu hati-hati dong ya, aku harus punya alarm pada diri sendiri supaya tidak kebablasan.

Ini tuh berawal dari mudik yang ceritanya belum ketulis sama sekali di blog ini. Pas mudik kemaren rasanya semua jadi over. Pasalnya pas mudik ke Surabaya aku sengaja gak masak biar gak perlu beberes rumah lagi yang nantinya akan ditinggal setahun karena semua penghuninya sudah tinggal di Jakarta saat ini. Jadi pertimbangannya biar praktis dan mikirnya beli makanan di Surabaya itu murah ples aku memang lebih suka jajan, secara aji mumpung gitu makan makanan yang jarang aku temui kalau di Jakarta.

Sebut saja makanan yang biasa aku cari kalau di Surabaya, lontong balap, sate kelopo, soto daging, bubur campur, lontong kupang, gado-gado siram, rujak cingur, bakso, nasi goreng, dawet dan masih banyak lagi. Apalagi aku juga sempet mampir ke Malang, sudah barang tentu Bakso Bakar Pahlawan tak pernah boleh kelewatan. Memang sih beberapa bisa ditemukan di Jakarta tapi tetep rasanya beda banget, kalian tidak akan menemukan saos merah dan soun biru di abang-abang bakso di Jakarta. Jadi ya gitu deh, tahun lalu aja aku seminggu di Surabaya sukses naik 3 kilo pas hamil, lah kali ini ya cuma 1 kilo lebih sih tapi sama aja euy kan berat badanku belum benar-benar kembali pasca melahirkan.

Well, pas menjelang balik ke Jakarta mulailah aku ngerasa, okey we are gone be over beb. Yup overweight and overbudget. Udah kujelasin kan gimana puasnya aku kulineran selama mudik, nah budget mudik pun jadi over banget untuk itu. Suatu sore aku pernah beli makan malam sama suami yang struknya bikin melongo. Yup kita dibandrol 88 ribu untuk 1 nasi penyet ayam, 1 nasi penyet burung dara, dan 1 nasi penyet bebek, padahal belinya warung pinggir jalan biasa yang ada di komplek. Dan karena lebaran pula, nasi pecel yang kukira bisa 8 ribu pake telor nyatanya 10 – 12 ribu pakai telor, lah kok setara uduk pinggir jalan di Jakarta ya beb, malah murahan uduk menurutku. Jadi harga makanan di Surabaya sudah tak semurah yang ku bayangkan, hehehe.

Beruntung pas balik ke Jakarta pas tanggal gajian jadinya harapan kembali datang, aku gak langsung ngatur uangku dulu, aku menghabiskan budget mudik yang sisa walaupun dikit banget, memanfaatkan oleh-oleh dan belanjaan yang sudah dibeli, pokoknya memaksimalkan dulu apa yang dipunya, baru deh ngatur budget bulan ini yang sekarang harus dihitung dengan baik, secara bulan ini aku resmi memakai jasa IRT yang ceritanya bisa dibaca di Menjadi Lebih  Produktif, Sebenernya ini sudah lama aku ngerasa financialku kurang dihitung dengan baik. Kadang ngerasa kurang banget, kadang belanja atau jajan gak ke kontrol, baru pas puasa dihitung ulang untuk disisihkan sebagian menjadi zakat maal aku pun mulai bebenah walau tetep kelolosan pas mudik.

Nah, aku pun kembali memanfaat aplikasi yang dulu sempat kupakai lalu kuabaikan untuk menolong pengaturan keuanganku. Ini juga harus dibarengi sikap disiplinku untuk mengisinya, jangan sampai ada yang tidak tercatat biar tahu uangnya kemana aja. Nama aplikasinya Money Management, ikonnya babi warna merah, duh seandainya ada yang lebih keren ikonnya ya, masalahnya aku sudah familiar dengan aplikasi ini, dulu pernah pakai saat ikonnya masih warna coklat. Aplikasi ini enak menurutku, ketahuan mana uang yang bergerak, mana uang yang memang untuk saving, pengeluaran diambil dari dana mana, lalu ada report daily, weekly, dan lainnya. Kita bisa mengatur currency nya menjadi rupiah atau IDR. Jadi aku bisa tahu aset ples cash flowku.

Lalu untuk urusan overweight belum terpecahkan, aku malah tambah kalap pas rutin masak sendiri tiap hari. Aku memang paling gak bisa nolak masakan rumahan, rasanya pengen nambah aja, nambah lauk emang gak komplit kalo gak sekalian nambah nasi kan. Makanya pas rutin masak sendiri, aku suka bawa bekal  untuk sarapan dan rajin makan malam malah sering kali nambah saat makan malam. Duh, ini gimana ya sudah hemat di keuangan tapi malah badanku makin melar. Sepertinya aku perlu mengatur kembali asupanku. Aku perlu konsen lagi dengan komposisi makanan yang ku makan, jangan sampai berat di karbo tapi rendah di serat dan protein.

Kebetulan Kania Dahlan kemaren sempet sharing tentang aplikasi yang cocok dipakai untuk menghitung kalori yang masuk dan keluar saat dia bahas Body Shamming di instastory nya. Betul sih kita juga perlu memperbaiki diri, apalagi aku yang sudah bersuami, kadang dia yang suka protes, ko ginuk-ginuk sih hehehe, Tapi karena menyusui ya dia gak terlalu bisa protes. Namun dari diriku sendiri yang pengen berubah, badan terlalu berat gak enak juga rasanya jadi gampang capek dan gak bisa gesit. Sesuai Kania aku memanfaat Calorie Counnter by FatSecret untuk menghitung berapa sih kalori yang aku makan, aku tinggal memasukkan makanan saat sarapan misal 5 sendok nasi putih, 2 tempe goreng dan 1 telur goreng kehitung deh kalorinya. Dan aktifitas aku apa aja keitung juga aktifitasnya. Mungkin camilanku kudu dikurangi yang lebih rendah lemak, toh aku punya 6 dus snack bar dari Heavenly Blush dan aku kembali mengkonsumsi Greek Yougurt biar kenyang lebih lama.

Intinya sih, aku harus disiplin dengan semuanya karena meski secanggih apa aplikasinya tapi kalau dari diri sendiri gak ada keinginan untuk berubah ya susah. Ya semoga aku bisa jadi lebih baik. Kalau berhasil kan aku yang sangat merasakan manfaatnya, dan aplikasinya memang tepat guna hehehe.

Yup mungkin itu saja curhat receh kali ini, semoga tetap ada manfaatnya.

Keep Healthy and Saving ya guys.

Wassalamualaikum.

 

 

 

Let's write your opinion

%d bloggers like this: