Islam | Self Reflection

Beribadah Selagi Muda

May 18, 2019

Assalamualaikum. Marhaban Ya Ramadhan.

Halo apa kabar ? Udah lama banget ya gak nulis di blog. Nah, mumpung masih hangat di otakku tentang beberapa kejadian yang ku alami belakangan ini. Aku mau sedikit sharing atau lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg yang membuatku menyimpulkan satu hal yaitu ibadah itu butuh tenaga maka rajin beribadahlah selagi muda.

Syukur alhamdulillah aku dan sekeluarga termasuk bunda, eyang uti dan mama mertua diberi kesempatan untuk beribadah umroh di akhir bulan April lalu. Sebuah perjalanan impian yang sudah lama kami idamkan dan terwujud tahun ini. Kalau diingat-ingat air mata ini sering menetes di setiap kesempatan saat berada di Baitullah. Rasa haru dan bahagia bercampur terlebih karena bisa melakukannya dengan orang tua.

Dari pengalaman kemarin, aku merasakan betapa Allah itu sungguh membuka mataku agar lebih rajin ibadah mumpung masih muda. Kenapa ? Ya karena tenaga kita masih bagus, memori atau ingatan kita masih tajam, dan semangat yang masih bisa dikejar. Contoh yang paling dekat itu ya ibadah sholat. Ketika tulang kita masih kuat, oil di dengkul ini masih bagus, dan tenaga masih ada. Insya Allah sempurnanya sholat bisa kita raih.

Gerakan sholat seperti berdiri, rukuk, sujud dan duduk bisa dilakukan tanpa halangan yang berarti. Berbeda dengan orang tua yang rukuk rasanya sakit di bagian pinggang, belum lagi dari posisi duduk ke berdiri lagi itu banyak yang kesusahan. Sehingga sekarang banyak dijumpai Masjid yang menyediakan kursi untuk lansia yang tetap ingin sholat berjamaah meski dengan gerakan isyarat karena keterbatasan tenaga dan kesehatan.

Bagiku ini jadi peringatan dimana aku suka menyepelekan sholat di waktu mepet dengan gerakan kilat. Mumpung masih muda dan ada tenanga sholatnya bisa naik kelas yang lebih berat misal ditambahi sholat sunnah qobliah atau ba’diah, sholat malam seperti tahajjud, dan sholat berjamaah di masjid apalagi bagi yang laki-laki.

Selain itu ada puasa yang juga bagi sebagian orang tua atau beberapa orang sudah memiliki penyakit tidak bisa melakukannya dengan baik. Puasa ramdahan, sunnah dan lainnya bisa ditingkatkan selagi muda dan sehat.

Lalu saat umroh, kebetulan satu rombonganku range usianya cukup seimbang. Ada yang remaja, ibu muda macem aku wkwkwk, orang tua dan sepuh banget kayak uyutku yang udah 70+++. Rangkaian ibadah yang lumayan menguras tenaga dimana banyak jalan kaki dan bermunajat kepada Allah itu tantangan. Dimulai dengan perisiapan umroh, miqot yaitu membaca niat umroh, Thawaf yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali, dan Sai yaitu lari-lari kecil dari Bukit Sofa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali, dan ditutup dengan Tahalul atau mencukur rambut.

Tantangannya adalah udara yang lebih panas, lantai Masjid yang begitu dingin, ruang  gerak yang terbatas dimana semua orang tumplek blek di depan Ka’bah, dan tempat Sai yang begitu dingin serta ada tanjakan di beberapa sisi. Mungkin saat ini ada kemudahan dengan disediakannya jasa kursi roda dan pendorongnya utuk Thawaf dan Sai. Namun bagi jamaah yang tidak membawa sendiri kursi roda dan yang mendorong akan merogoh kocek sekitar 350-480 rial.

Tantangan lain adalah jalan dari hotel ke Masjidil Haram. Beruntung bagi yang bisa mendapat penginapan di Tower Zam Zam yang berada di Pelataran Masjidil Haram. Bagi yang tidak jalannya cukup lumayan belum lagi ada yang nanjak. Kebetulan aku dapat hotel yang di daerah nanjak. Tidak jauh memang dari Masjidil Haram namun tanjakkannya lumayan apalagi bagi lansia. Karena kontur kota Mekkah yang memang naik turun. Lalu kesempatan menyentuh Ka’bah, sholat di Hijr Ismail, mencium Rukun Yamani, mencium Hajar Aswad, dan bermunajat di Multazam itu butuh tenaga meski tidak boleh dipaksakan tapi sebisa mungkin diusahakan.

Belum lagi aktifitas saat di Madinah saat antri ke Raudah dan city tour ke Jabal Rahmah, Jabal Uhud, Masjid Quba dan lainnya sesuai dengan kesepakatan travel umroh yang dipakai. Udara dan aktifitas yang banyak bisa jadi pemicu seseorang sakit selama beribadah di sana. Qodarullah kalau rombonganku kemarin lancar semua. Orang sepuh-sepuhnya semangat banget beribadah. Mumpung lagi di Mekkah atau Madinah, menjadi andalan mereka rajin beribadah selama di sana.  Aku yang kadang sholat subuh mepet jadinya kebangun jam 2 pagi untuk bersegera iktikaf baik di Nabawi maupun di Masjidil Haram dan itu pun bertemu dengan jamaah lain yang sudah sepuh tapi semangatnya lebih luar biasa.

Alhamdulillah selama disana semua jamaah sehat dan aman tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin terpisah dari rombongan menjadi hal yang paling bermasalah kemarin. Selebihnya lancar.

Namun sesampainya di tanah air, banyak jemaah yang mulai batuk dan demam. Termasuk aku sekeluarga. Sampai ada salah satu jamaah yang sudah sepuh meninggal karena sesak nafas saat tiba di Indonesia. Capek dan sakitnya baru terasa setelah pulang, bahkan ada yang langsung di panggil Allah kembali. Innalillahi wainnalillahi rajiun.

Umur memang kuasa Allah, tapi kalau boleh aku bilang ya karena tadi, mungkin faktor usia yang mudah lelah. Makanya selagi muda, Masya Allah kalau bisa ibadah yang banyak dan ngambil yang berat-berat, bisa umroh ya umroh, bisa haji ya daftar dari sekarang, mumpung masih muda, mumpung masih ada tenaga untuk berusaha dan melakukannya, mumpung masih ada usia. Ini sih reminder buat aku.

Well, tulisan ini aku pyur uneg-uneg dan reminder buat aku sendiri berdasarkan apa yang ku alami kemarin. Tapi semoga bisa jadi pertimbangan buat memanfaatkan masa muda yang lebih baik.

Selamat Berpuasa. Wassalamualaikum

 

Let's write your opinion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: