Review

Menikmati Susu Sapi Kelas Atas dari KIN Fresh Milk

By on October 19, 2018

Hai hai Assalamualaikum…

Berkunjung ke sebuah kampung dalam rangka silaturahmi antar warga sungguh sangat menyenangkan. Apalagi kita disuguhkan pemandangan yang hijau penuh tanaman dan perkebunan sayur. Tak hanya itu ada juga hewan ternak seperti rusa, burung beo dan ayam kalkun yang dipelihara di desa wisata bernama Kampoeng Bambu.

Kebetulan aku lagi pengen banget minum susu segar soalnya biasanya di desa wisata seperti ini ada yang menjual susu murni dari sapi perah yang diternak. Sayangnya di kampoeng bambu tidak ada hal itu, jadi ya cuma jalan santai aja, kalau mau ya berenang di kolam yang tersedia.

Meski bertajuk Kampoeng Bambu namun lokasinya gak kampung banget sih masih disekitaran Bogor bawah. Makanya masih banyak ditemukan minimarket. Aku yang memang ingin minum susu mencoba mencarinya di minimarket sekalian beli teh dan kopi titipan bapak-bapak di acara.

Dari dereta susu siap minum yang ada di dalam lemari pendingin minimarket, aku penasaran lebih tepatnya tertarik dengan susu murni siap minum kemasan botol, karena jarang loh susu sapi dikemas botol gini. Kalaupun ada berarti kayak jaman dulu pakai botol beling. Tapi ini botol plastik yang asik dibawa kemana-mana, gak takut tumpah apalagi ribet dengan sedotan sehingga traveling friendly

Continue Reading

Self Reflection

Gamang

By on October 8, 2018

Resah hati kian membucah
Ketika yang dinanti tak jua terlihat
Hari demi hari kulalui
Hingga akhirnya meberanikan diri

Pasti selalu ada 2 kemungkinan
Iya dan Tidak
Jawabannya kali ini Iya

Lalu ku ingat masa lalu
Kekhawatiran langsung muncul
Meski terselip bahagia
Dan terus berusaha afirmasi positif

Senja akan menjadi jawaban
Iya dan tidak
baik dan buruk
Semoga ridha Tuhan ada pada jawaban itu

Continue Reading

Kesehatan

Perlunya Memiliki Kebiasaan Minum Susu Tanpa Takut Sakit Perut dengan KIN Fresh Milk

By on October 5, 2018

Hai – Hai Assalamualaikum

“Mirna kok pagi-pagi langsung minum susu sih gak makan dulu, emang gak eneg  perutnya ? gak takut sakit perut ?” kata si Agnes, temen seperjuangan sewaktu ngekos jaman kuliah. Lah gimana je aku tuh dari kecil emang sukanya minum susu, sampai kadang gak kira-kira minumnya, pagi siang sore malem dan jadinya gak makan nasi, hehehe ini jangan ditiru sih. Bagiku minum susu pagi hari itu jauh lebih ringan ketimbang sarapan nasi, mungkin ini karena sedari kecil aku selalu dibelikan susu untuk sarapan soalnya di depan rumah Surabaya itu kalau pagi ada penjualan susu sapi segar yang dihangatkan, makanya tiap mau berangkat sekolah sudah nangkring duluan disana untuk minum susu terlebih dahulu.

Sampai besar pun akhirnya kebawa kalau sarapan maunya susu kadang ditambah roti atau gorengan tapi seringkali engga, pas banget punya suami yang kampungnya di Purwokerto dekat dengan peternakan sapi. Kalo kesana tiap hari beli susu sapi murni 1-2 liter per hari. Bahagiaku gak ketulungan kalau begitu. Lagipula dibalik nikmatnya susu itu terdapat khasiat yang luar biasa, yaitu :

  1. Mengandung nutrisi yang tinggi, hampir setiap kebutuhan gizi manusia dapat dipenuhi dengan meminum susu
  2. Kandungan vitamin A, B, D yang tinggi
  3. Kandungan protein yang tinggi.
  4. Kandungan zat besi dan tembaga
  5. Kandungan kalsium & fosfor yang tinggi untuk kekuatan tulang
  6. Kandungan magnesium untuk membuat tubuh selalu aktif dan tidak cepat lelah
  7. Kandungan seng untuk penyembuhan luka
  8. Meningkatkan kinerja otak
  9. Menetralisir racun
  10. Mengandung potassium yang untuk memperlancar dinding pembuluh darah. Sehingga tubuh terhindar dari penyakit jantung dan darah tinggi

Namun tidak semua orang kondisinya sepertiku yang bisa kapan saja minum susu, ada juga orang kayak Agnes yang kalau minum susu rasanya eneg dan tidak nyaman diperut, ada juga yang sampai diare dan alergi. Padahal manfaat dari nutrisi  susu kan banyak sayang kalau tidak dirasakan.

Pakar gizi, dr. Rizal Alaydrus, MSc. menjelaskan, “Gejala mual, kembung, dan/atau diare setelah mengonsumi susu terjadi karena kandungan protein beta casein A1 dalam susu yang bereaksi dengan protein pencernaan lainnya di dalam tubuh, sehingga memicu gejala yang menyerupai intoleransi terhadap laktosa, seperti ketidaknyamanan perut, flatulensi (akumulasi gas berlebih dalam perut dari usus besar), kembung, dan diare yang terjadi setelah mengonsumsi produk susu.”

Susu sapi pada umumnya memiliki kandungan protein A1 dan protein A2 dengan rasio 40% dan 60%. Awalnya sapi di seluruh dunia hanya menghasilkan protein A2 saja, namun seiring berjalannya waktu dan adanya mutasi genetik, saat ini semakin banyak sapi yang menghasilkan susu dengan kandungan protein A1.

Saat ini, susu A2 tengah mendapat perhatian dari dunia kesehatan karena potensinya dalam menjadikan susu sapi lebih baik dari segi nutrisi maupun dari segi toleransi oleh sistem pencernaan. Susu yang hanya mengandung protein A2, dipercaya lebih mudah dicerna oleh tubuh dan nutrisinya lebih mudah diserap. Sapi A2 didapat dari proses seleksi alami dengan melalui seleksi tes DNA, tanpa rekayasa genetik.

Untungnya saat ini sudah ada KIN Fresh Milk, susu segar dari sapi A2 terobosan terbaru oleh PT ABC Kogen Dairy. Untuk menjamin kualitas susu yang dihasilkan, peternakan yang dikelola oleh PT ABC Kogen Dairy hanya memelihara jenis sapi A2, yang menghasilkan susu dengan kandungan protein A2 saja. Sebagai satu-satunya peternakan sapi terintegrasi yang menghasilkan susu dari sapi A2 secara eksklusif di Indonesia, seluruh sapi di peternakan KIN menjalani proses pemeriksaan ketat, dimulai dari kualitas kesehatan, kondisi hidup, hingga pemeriksaan DNA untuk memastikan susu yang dihasilkan tidak mengandung protein A1.

Susu sapi A2 jauh lebih baik kualitasnya daripada hanya A1, Kin Fresh Milk menjadi solusi bagi orang yang sering tidak nyaman saat mengkonsumsi susu sapi. Hadir dengan 3 varian rasa membuat Kin Fresh Milk semakin nikmat rasanya. Original, coklat dan kopi dapat dipilih di toko dan minimarket terdekat.

Continue Reading

Review

Aktivitas Memandikan Anak Pakai Air Hangat Jadi Lebih Mudah dengan Ariston Water Heater

By on

Assalamualaikum semua, apa kabar?

Siapa sih yang gak takut mandiin bayi, apalagi bayi merah yang baru lahir ? Aku termasuk orang yang takut memandikan anak sendiri pas pertama kali dia lahir, gendong saja masih terbata-bata apalagi memandikan. Beruntung aku memiliki eyang uti dan suami yang sangat hati-hati dan telaten memandikan bayi, sampai akhirnya di usia anakku Nurani 2 bulan barulah aku berani mamandikannya sendiri.

Sejak lahir Nurani memang dimandikan dengan air hangat sampai usiah 3 bulan pun masih menggunakan hangat dan sering menggigil apabila aku terlalu lama menyiapkan air hangat sedangkan dia sudah dilepas bajunya. Kasian jadinya. Sampai saat ini usia 10 bulan juga masih terkaget-kaget kalau kena air dingin pas mau mandi atau cebok setelah buang air besar. Aku juga heran kenapa yak ok bisa begini soalnya ribet juga kalau menyiapkan air hangat karena harus merebus dulu di dapur lalu dipindahkan ke kamar mandi.

Kebetulan beberapa minggu yang lalu aku mengikuti Community Gathering dari Mommies Daily dan Ariston Thermo Indonesia yang membahas kesehatan kulit bayi dan mudahnya memandikan anak dengan air hangat masa kini. Bertempat di bilangan Kemang Jakarta Selatan, acara berjalan seru apalagi disi dengan sharing dari bintang tamu Putri Titian yang juga sebagai mom influencer  yang anti ribet-ribet club dalam urusan memandikan anak dan dr. Srie Prihianti Gondokaryono, SpKK, PhD sebagai pakar dermatologi alias kesehatan kulit serta Mr Jacopo dan Nina sebagai perwakilan dari Ariston.

Continue Reading

Kesehatan | Self Reflection

Pristine 8+ Melengkapi Gaya Hidup Sehat & Seimbang Diantara Banyaknya Kesibukan

By on October 3, 2018

Assalamualaikum, apa kabar ?

Awal bulan lalu aku sempat kecewa banget sama diriku sendiri karena banyak target yang tidak tercapai, sedih dan jadinya menyalahkan diri sendiri yang pernah kuposting di sini. Ya gak bisa dipungkiri sih kalau aku mulai stress dengan beragam kesibukan yang ada, kerja, kerja, kerja, yang difikirkan how to get a lot of money soalnya memang banyak keperluan dan keinginan yang ingin segera kuwujudkan. Tapi apa yang terjadi ? ya aku capek sendiri. Bukannya produktif malah gak dapet apa-apa.

Sejak kejadian itu aku mulai merenung, aku kenapa ya, datang pagi-pagi ke kantor lalu mikir kenapa aku capek banget, kenapa aku sedih banget, kenapa dan kenapa lain muncul hingga aku sadar bahwa hidupku gak seimbang. Meski gaya hidup sehat terus aku jalani dengan berolah raga tapi nyatanya ada banyak hal yang belum sempat aku lakukan karena banyaknya pekerjaan sehingga berdampak buruk pada kesehatan.

Work Life Balance

Sebagai seorang ibu bekerja tentu perlu Work Life Balance yang baik, apa itu Work Life Balance ? Kondisi dimana kita dapat seimbang dalam menjalani rutinitas di kantor dengan kehidupan pribadi atau keluarga. Sederhananya sebagai ibu bekerja aku bisa membagi waktu dengan baik dalam mengerjakan pekerjaan kantor, dan mencukupi kebutuhan pribadi seperti rekreasi dan berkumpul intensive dengan keluarga.

Sayangnya kondisiku akhir-akhir ini sedang berada di puncak kesibukan, peralihan tugas pekerjaan yang semakin bertambah, lalu merintis usaha yang aku lakukan secara online dan kesibukan sebagai blogger lepas yang nyatanya tidak mudah. Jadi pagi hingga malam aku disibukkan dengan pekerjaan, hanya ibadah dan pumping yang membuatku berhenti sejenak, menyelami diri sendiri. Selebihnya aku berinteraksi dengan rekan kerja serta laporan kantor, customer @avocadelecious, dan tentu agency atau brand yang bekerja sama dengan blog ini. Padahal sangat penting menjaga pola hidup seimbang ditengah tuntutan pekerjaan zaman sekarang.

Continue Reading

Kesehatan | Parenting

Menuju Indonesia Sehat dengan Rajin ke Posyandu dan Perlindungan Imunisasi Tepat Waktu

By on September 28, 2018

Halo dear, Assalamualaikum.

Sebagai ibu aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk anak, apalagi aku termasuk orang yang diberikan waktu tunggu dari Allah hingga akhirnya bisa hamil dan melahirkan si kecil Nurani. Makanya aku berupaya agar dia bisa tumbuh dengan baik, sehat dan kuat. Apalagi ditengah maraknya kasus stunting dan beredarnya penyakit menular yang bisa mengganggu kesehatan anak. Makanya pas berat badan Nurani sempat stag gak naik-naik selama 2 bulan tuh sedih banget, udah aja 5,7 kg pas bulan ke 4 dan 5 baru naik dibulan ke 6 di angka 6 kg pas. Sedih rasanya mengingat kenaikan berat badan anak dibawah 1 tahun kan seharusnya lagi bagus-bagusnya. Sempat menyalahkan diri sendiri akibat menjadi ibu bekerja dan mulai berfikiran yang engga-engga apalagi pas lagi nonton iklan stunting di televisi.

Mengenal Apa itu Stunting

sumber ; http://sehatnegeriku.kemkes.go.id

Bagi sebagian orang mungkin tidak mengerti apa sebenarnya stunting itu, termasuk aku yang tahunya dipicu melalui iklan televisi. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Setelah dipelajari ternyata stunting bukan sekedar tinggi badan yang tidak sesuai, kerdil hanya menjadi salah satu akibat dari kurang gizi yang juga berakibat pada tidak berkembangnya kemampuan otak anak karena gagal tumbuh. Masalah ini menjadi ancaman masyarakat saat ini mengingat 29,6% anak di Indonesia mengalami stunting berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) pada 2017. Padahal Badan Kesehatan Dunia (WHO) memiliki standar jumlah anak stunting suatu negara tidak lebih dari 20%. Di Indonesia hanya ada 2 dari 34 provinsi yang memiliki presentasi stunting dibawah WHO yaitu Yogyakarta 19,8% dan Bali 19,1%.

Menurutku, ini akibat dari kurangnya kesadaran masyarakat atau tidak ada edukasi yang mumpuni untuk mencari tahu tentang tumbuh kembang anak. Karena kondisi tubuh anak yang pendek lebih sering dikaitkan dengan faktor keturunan (genetik) kedua orangtuanya, sehingga masyarakat lebih banyak menerima keadaan tanpa berbuat apa-apa. Ya itu tadi karena mereka belum mengerti. Padahal genetik merupakan faktor penentu terkecil pada tumbuh kembang anak bila dibandingkan dari fator perilaku yang dalam hal ini pola asuh, lingkungan yang meliputi keadaan sosial, ekonomi, dan budaya, serta pelayanan kesehatan yang diterima. Jadi dengan kata lain, stunting itu bisa dicegah.

Continue Reading