Kesehatan | Parenting

Menuju Indonesia Sehat dengan Rajin ke Posyandu dan Perlindungan Imunisasi Tepat Waktu

By on September 28, 2018

Halo dear, Assalamualaikum.

Sebagai ibu aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk anak, apalagi aku termasuk orang yang diberikan waktu tunggu dari Allah hingga akhirnya bisa hamil dan melahirkan si kecil Nurani. Makanya aku berupaya agar dia bisa tumbuh dengan baik, sehat dan kuat. Apalagi ditengah maraknya kasus stunting dan beredarnya penyakit menular yang bisa mengganggu kesehatan anak. Makanya pas berat badan Nurani sempat stag gak naik-naik selama 2 bulan tuh sedih banget, udah aja 5,7 kg pas bulan ke 4 dan 5 baru naik dibulan ke 6 di angka 6 kg pas. Sedih rasanya mengingat kenaikan berat badan anak dibawah 1 tahun kan seharusnya lagi bagus-bagusnya. Sempat menyalahkan diri sendiri akibat menjadi ibu bekerja dan mulai berfikiran yang engga-engga apalagi pas lagi nonton iklan stunting di televisi.

Mengenal Apa itu Stunting

sumber ; http://sehatnegeriku.kemkes.go.id

Bagi sebagian orang mungkin tidak mengerti apa sebenarnya stunting itu, termasuk aku yang tahunya dipicu melalui iklan televisi. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Setelah dipelajari ternyata stunting bukan sekedar tinggi badan yang tidak sesuai, kerdil hanya menjadi salah satu akibat dari kurang gizi yang juga berakibat pada tidak berkembangnya kemampuan otak anak karena gagal tumbuh. Masalah ini menjadi ancaman masyarakat saat ini mengingat 29,6% anak di Indonesia mengalami stunting berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) pada 2017. Padahal Badan Kesehatan Dunia (WHO) memiliki standar jumlah anak stunting suatu negara tidak lebih dari 20%. Di Indonesia hanya ada 2 dari 34 provinsi yang memiliki presentasi stunting dibawah WHO yaitu Yogyakarta 19,8% dan Bali 19,1%.

Menurutku, ini akibat dari kurangnya kesadaran masyarakat atau tidak ada edukasi yang mumpuni untuk mencari tahu tentang tumbuh kembang anak. Karena kondisi tubuh anak yang pendek lebih sering dikaitkan dengan faktor keturunan (genetik) kedua orangtuanya, sehingga masyarakat lebih banyak menerima keadaan tanpa berbuat apa-apa. Ya itu tadi karena mereka belum mengerti. Padahal genetik merupakan faktor penentu terkecil pada tumbuh kembang anak bila dibandingkan dari fator perilaku yang dalam hal ini pola asuh, lingkungan yang meliputi keadaan sosial, ekonomi, dan budaya, serta pelayanan kesehatan yang diterima. Jadi dengan kata lain, stunting itu bisa dicegah.

Continue Reading

Parenting | Pendidikan

Pentingnya Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian

By on August 14, 2018

Assalamualaikum semua, apa kabar?

Aku merupakan ibu yang melahirkan generasi Z, generasi setelah milenial yang kehidupannya tidak dapat lepas dari teknologi digital terutama internet. Pasalnya untuk anak sekecil Nurani saja sudah paham ketika dia sedang dimbil foto atau video untuk dimasukkan sebagai “insta story” dengan gawai. Memang anak usia balita itu seperti kaset, semua hal dia rekam dengan baik dan mencobanya. Makanya saat dia melihat orang di sekelilingnya sering menyentuh dan memainkan gawai, hal itu membuatnya penasaran, sehingga ketika lengah dia bisa mengambilnya. Tapi bagi anak seusia Nurani yang masih 8 bulan sih belum terlalu paham ya kegunaan gawai itu untuk apa, paling dia pegang, diperhatikan dengan membolak-baliknya, dan yang sering dilakukan setelahnya yaitu melempar atau memukul-mukulkan gawai ke lantai atau tembok.

Lalu sebagai orang tua bekerja yang tak jarang membawa pekerjaan ke rumah, bahkan meja kerja suami berada di dalam kamar tidur, membuat Nurani sering melihat aktivitas orang tuanya bekerja menggunakan laptop. Sama halnya dengan gawai, ketika lengah dia bisa memencet tombol di laptop sambil berusaha berdiri. Dia merekam dengan baik apa yang kami lakukan, sampai membuka dan menutup laptop pun dia bisa. Oleh karena itu, sebagai orang tua, aku dan suami serta keluarga yang lain sangat sadar bahwa zaman telah berubah, teknologi begitu dekat dengan anak, kami tidak bisa melarang namun yang perlu dilakukan adalah memperkenalkan dengan baik serta mengatur pola asuh yang sesuai untuknya. Toh nanti di masa depan dia akan menemui hal-hal yang lebih canggih lagi jadi kami perlu mempersiapkan hal itu.

Fenomena dan Tantangan Mendidik Anak di Era Kekinian

Kalau dulu anak bermain dengan leluasa di lapangan seperti petak umpet, masak-masakan, boneka dan aktifitas bermain fisik di luar rumah, namun saat ini sudah bukan zamannya. Dari statistik di atas ada sebagian anak yang sudah menghabiskan waktunya untuk menggunakan internet. Bagiku itu angka yang lumayan ya, mengingat zamanku dulu saat usia segitu kebetulan memang sudah memiliki handphone namun belum menggunakan internet, karena perlunya cuma untuk telfon minta jemput saat pulang sekolah.

Bisa dilihat saat ini banyak anak yang masih usia dini sudah memiliki smartphone sendiri. Hal ini pun memunculkan fenomena lain dimana anak yang dulu kalau ditanya cita-cita seringkali menjawab ingin menjadi dokter, guru, polisi dan lainnya, namun seiring bergesernya perilaku anak membuatnya memiliki minat yang berbeda, sesuai tokoh yang sering mereka lihat di dunia maya seperti youtuber atau vlogger, blogger, influencer, gamers bahkan kemarin sempat heboh Tik Toker.

Namun seiring banyaknya pengguna internet usia anak-anak tentu tantangan dalam mendidiknya pun berubah. Jika dulu anak susah belajar karena kebanyakan main layang-layang misalnya namun saat ini bisa jauh lebih sulit dari itu. Tantangan mendidik anak di era digital meliputi :

Continue Reading

Parenting

Pendidikan & Pergaulan Kids Zaman Now

By on July 3, 2018

Assalamualaikukum semua, apa kabar ?

Ini tulisan sepertinya jadi agak menggebu-gebu ya, mengingat fenomena belakangan yang berhasil mengusik pikiranku. Pikiran ibu muda yang melahirkan generasi millenials yang sedang harap-harap cemas masa depannya gimana. TulisaniIni juga kepancing sama Insta Story Mba Windi Teguh yang ngasih saran akun sosmed anak yang berfedah untuk difollow dan status facebook Diva Pawon Mba Olenka Pridyasari, hehehe.

Mungkin netizen lagi heboh masalah Bowo Tik Tok yang katanya mendadak jadi seleb dan ngebandrol fansnya untuk meet and greet seharga 80.000 rupiah. Menurutku itu cerdas buat Bowo, tapi tidak untuk yang datang ya adik-adik, hehehe.  Kapan lagi gitu memanfaatkan kepopuleran dia sebagai Tik Tokers untuk cari duit. Hitung-hitung kan sebagai pengganti lelah, bayaran atas ide konten, dan bayarin paket data yang dia pake. Meskipun kontennya yaaa begitu ya. Alay zaman now menurutku, karena dulu kita pun juga pernah alay dizamannya, disaat sosmed baru bermunculan. Nah kalau zaman now kan zamannya aplikasi sosial media yang menampilkan video, ya jadi begitu deh jadinya.

Continue Reading

Parenting | Review

Perjalanan Menyusui Nurani Sebagai Ibu Pekerja

By on May 26, 2018

Assalamualaikum semua, hai hai apa kabar ?

Lama ya aku gak sharing tentang motherhood, dan gak kerasa juga Nurani sudah mau 6 bulan, duh aku jadi mulai kebayang gimana hebohnya memasuki waktu makan alias MPASI. Tapi sebelum itu, aku mau cerita dulu gimana perjalananku yang jatuh bangun, jungkir balik, dan terseok – seok ngumpulin ASI demi terwujudnya ASI Eksklusif 6 bulan. Sungguh perjuangan yang menurutku gak mudah, meski banyak omongan yang meragukanku, dengan percaya diri aku selalu jawab. Aku bisa kok !. Yup, afirmasi positif yang selalu aku bangun sejak melahirkan hingga sekarang sedikit banyak membantuku jauh dari stress yang mengakibatku makin terjatuh. Masalah (drama) datang pasca melahirkan itu pasti, tapi tergantung bagaimana cara kita menghadapi, termasuk kondisi dimana aku harus kejar-kejaran stok ASI seperti sekarang ini.

Sebagai ibu pekerja mau gak mau harus pisah sementara waktu dengan anak, meskipun program ASI Ekslusive untuk anak tetap harus berjalan. Jadi yang harus dilakukan adalah memompa ASI saat bekerja. Sebenernya bukan pas kerja juga sih, saat masih cuti melahirkan aku sudah memulai mompa ASI demi mengurangi rasa sakit saat PD penuh tapi bayi masih enak-enaknya tidur waktu itu. Duh kebanyang rasanya ada batu dalam PD waktu itu, perjuangan banget lah mompanya dari dikit-dikit sampai banyak dan akhirnya penuh 1 frezer sebelum masuk bekerja. Tapi drama menyusui Nurani tidak berhenti sampai disitu.

Continue Reading

Parenting | Review

Menyiapkan Nutrisi si Kecil dengan Philips Avent

By on February 18, 2018

Halo Assalamualaikum,

Sejak mengetahui kalau aku hamil, aku berusaha melakukan yang terbaik untuk calon buah hati. Rajin memeriksakan diri ke dokter, makan makanan yang sehat, dan rajin minum vitamin sesuai anjuran dokter. Dan setelah melahirkan, rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu seiring keinginan untuk bisa segera mengASIhi. Meski cita-cita untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) saat melahirkan tidak bisa terlaksana namun aku tak patah semangat. Saat pertama kali bayi mungil, Nurani diantar suster ke ruang perawatan, rasanya hatiku langsung meleleh, apalagi saat belajar menyusui. Qodarulllah Nurani sangat pintar menghisap sehingga tak butuh waktu lama air susu pun keluar.

Namun ternyata drama setelah melahirkan itu lumayan menguras tenaga dan sedikit air mata. Termasuk drama menyusui seperti payudara bengkak yang solusinya ternyata dengan memompanya. Sebenarnya aku memang harus rajin memompa ASI sedari awal sebagai usaha pemenuhan nutrisi Nurani saat aku kerja nanti. Karena aku percaya bahwa ASI merupakan sumber nutrisi tebaik. Aku pun bertekad untuk bisa memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan dan lanjut hingga 2 tahun. Hingga menjelang cuti berakhir alhamdulillah sudah tersedia 1 freezer penuh ASIP (Air Susu Ibu Perah).

Beruntungnya aku masih memiliki Eyang Uti dan Bunda yang mau membantu mengasuh Nurani saat aku bekerja. Memang sih, keluarga intiku ya tinggal mereka, jadi Nurani generasi ke 4 kalau dirunut dari eyang uyutnya. Nah masalahnya, mereka tidak terbiasa dengan memberikan ASI seperti zaman now yang bentuknya beku karena disimpan dalam frezeer. Lalu bagaimana dengan pemberian ASIP ke Nurani saat aku kerja?

Continue Reading

Parenting | Pregnancy Story

Mengasah Kemandirian Anak Sejak Bayi

By on August 21, 2017

Assalamualaikum readers, hai hai apa kabar?

Memasuki usia kandungan 25 week tentunya banyak informasi yang banyak aku cari terutama mengenai tumbuh kembang anak. Konsentrasi untuk menyiapkan pendidikan di 1000 hari pertama kehidupan anak memicuku untuk mengetahui apa saja sih yang bisa diajarkan kepada anak agar dia bisa mandiri walaupun masih seorang bayi.

Mandiri sejak bayi

Awalnya aku sempat ragu dan merasa sebagai calon ibu yang “tega” dengan memiliki keinginan agar anak mandiri sejak bayi. Tapi toh perkembangan dunia parenting masa kini banyak mencontohkan kemandirian anak sejak dini.

Beberapa informasi yang aku dapat menyatakan bahwa bayi 5 bulan bisa mulai dilatih untuk melakukan hal-hal sederhana pada dirinya asal orang tua mampu berkomunikasi dengan baik. Komunikasi bisa dimulai sejak bayi dalam kandungan diusia 7 bulan dimana janin sudah bisa mendengar suara-suara dari luar. Untuk menstimulasinya kita bisa mengajak ngobrol sembari mengusap perut secara perlahan. Bisa juga dengan memberikan bunyi-bunyian seperti didengarkan ayat suci Al – Qur’an atau musik klasik yang konon katanya bisa mencerdaskan anak.

Continue Reading