Kesehatan | Pregnancy Story | Self Reflection

Late Post : Pengalaman Keguguran dan Menjalani Kuret

By on August 20, 2019

Hari itu mungkin tidak akan kulupakan sepanjang hidup, 10 November 2018, bukan sekedar hari Pahlawan yang nyatanya menelan korban di Surabaya lewat tragedi penonton jatuh dari jembatan kereta api ketika menonton parade di depan Balaikota, tapi itu juga menjadi hari berkabung bagiku.

Pagi itu, dengan semangat dan keceriaan aku berangkat menuju Rumah Sakit bersama suami dan Nurani untuk melakukan check bulanan kehamilanku yang kedua. Kami sengaja berangkat pagi-pagi selepas Subuh agar mendapat nomor antrian awal, mengingat jadwal praktek dokter Yuditiya di hari Sabtu sangat ramai.

Kami mendapat antrian nomor 6, sementara makin banyak pasangan yang datang untuk antri mendaftar. Kami menunggu sambil sarapan dengan bekal yang sudah dibawa dari rumah. Waktu itu Nurani hampir 1 tahun ketika aku hamil 10 minggu. Memang kehamilan ini tidak disangka, karena Nurani adalah hasil penantian kami 2 tahun pernikahan.

Ketika akhinya aku diperiksa untuk di USG, mulai ada yang aneh. Janin tidak terlihat menggunakan USG perut. Lalu dokter Yuditia Purwosunu mengganti dengan USG transvaginal, untuk melihat lebih jelas janin. Seharusnya di usia kandungan 10 minggu, janin sudah terlihat mengingat waktu hamil Nurani 9 minggu dulu, ukuran janinnya sudah memanjang dan waktu itu sempat dapet warning karena Nurani kejepit Kantong Kemih yang bengkak akibat ISK. Namun ini masih berbentuk bulat, posisinya ditengah-tengah seolah terombang ambing di tengah air ketuban.

Dokter Yudit pun mencoba mendengarkan suara detak jantung bayi dengan mengeraskan audio dari mesin USG 4G nya. Namun detak jantung yang waktu aku periksa pertama kali di usia kandungan 5 minggu itu ada ternyata hilang di 10 minggu ini. Dokter Yudit pun mengatakan kalau usia janinnya jadi 6 minggu dan itu artinya janinnya sudah meninggal 1 minggu dari aku periksa. Janin tersebut tidak berkembang.  Aku sempat tidak percaya, bahkan seingatku, aku masih bisa tersenyum karena ku kira itu masih bisa ditolong. Aku pikir masih bisa diberi obat atau apa gitu untuk memperbaikinya. Namun ternyata aku dihadapkan dengan pilihan mau dikuret hari ini atau di lain hari atau mencari second opinion.

Namun suamiku mungkin pikirannya lebih bijak atau waras atau apa lah, lebih menerima mungkin. Dia ingin aku menjalani kuret hari itu juga. “Mau nunggu apa ?” gitu katanya. Dokter Yu pun tidak menyarankan menggunakan obat peluntur karena menurut dia, kondisi rahimku itu sangat baik. Dinding rahimnya sudah tebal, plasentanya bagus, pokoknya secara “wadah janin” itu “oke” dan tidak ada keluhan seperti keram perut atau flek, sehingga jika diberi obat takut tidak bersih. Apalagi aku punya pengalaman penggumpalan darah nifas pasca melahirkan Nurani, dimana nifasku sedikit yang ternyata tertahan di dalam rahim jadi harus diberi obat tambahan untuk membuat rahimku lebih bersih.

Menjalani Kuretase

Ceritanya, tulisan diatas udah ngendon lama. Sebagai bagian dari tulisanku tentang “Buah Hati Yang Pergi”. Cuma belum cukup kuat hatiku menulis panjang tentang hal ini. Namun memang punya niat ingin share tentang proses kuretase yang kualami. Kebetulan kemarin aku mendapat DM Instagram yang cukup panjang membahas proses kuretase itu gimana dan apa saja. So kali ini aku mau sharing pengalamanku menjalani kuret.

Continue Reading

Pregnancy Story

Menghadapi Kehamilan di Trimester Pertama

By on January 9, 2019

Hola, Assalamualaikum semua.

Mengawali tahun 2019 ini aku ingin sharing seputar kehamilan, sebenernya ada banyak hal yang ingin ku tulis di blog ini terutama tentang beauty soalnya aku pengen banget share skincare yang lagi aku pakai akhir-akhir ini. Tapi rasanya akan lebih bermanfaat kalau aku berbagi tentang kehamilan mengingat bulan yang berakhiran “-ber” itu identik dengan bulan kondangan jadi pas Januari ini udah mulai tuh banyak yang posting tespek garis dua, cieeee selamat ya !! Lagipula beberapa teman dekat pun lagi “isi”.

Oh ya tulisan ini aku mau bawa santai ya toh namanya sharing gak menggurui dan semuanya semata-mata berdasarkan pengalamanku menjalani 2 kehamilan dimana yang satu alhamdulillah lancar hingga melahirkan Nurani sedangkan yang kedua sayangnya berakhir dengan kuretasi di usia kandungan 10 minggu. Jadi sedikit banyak ada panggilan hati menuliskan hal ini. Tapi balik lagi ya, bahwa segala sesuatu memang sudah ada kuasa Allah, namun kita sebagai manusia sebaiknya berusaha.

Well, aku mulai dari mana ya ? Mungkin dari persiapan kehamilan. Yup, karena hamil itu alangkah lebih baiknya dipersiapkan. Mengingat kemarin dokter Yudit juga memberi penjelasan perihal keguguranku dimana janin tidak berkembang alias BO (Blighted Ovum). Hal itu bisa jadi dari gaya hidup sebelum hamil yang tidak sehat sehingga pembelahan selnya tidak sempurna karena kualitas sperma dan sel telur saat pembuahan kurang baik. So, buat kamu calon manten atau sudah jadi manten tapi belum hamil, yuk ah dipersiapkan !. Mulai dengan menjaga pola makan yang sehat, hindari rokok apalagi alkohol, serta olahraga dan istirahat yang seimbang. Mengingat kuretasi bagiku tuh alhamdulillah gak sakit tapi sedihnya itu yang berasa sampai saat ini.

Nah, apa aja sih yang harus dilakukan saat kamu tahu kalau sedang berbadan dua di awal kehamilan ? (jingkrak-jingkrak dong mir !!!!) hahaha becanda ya.

Continue Reading

Pregnancy Story

Buah Hati Yang Tiba-Tiba Pergi

By on November 22, 2018

Hai nak, Assalamualaikum.

Meski secara ruh kamu belum bernyawa namun kamu sempat hadir dan tumbuh dalam rahim ibu, bahkan ibu sempat mendengar detakmu di pemeriksaan awal.

Memang semua serba cepat, mendadak, diluar dugaan tapi ibu memiliki firasat yang seringkali ibu tepis

Sewaktu kamu hadir, ibu sudah merasakan bahwa ada kamu di dalam rahim ibu tapi ya itu ibu belum sepenuhnya percaya, bahkan saat pertamakali melakukan tesepek yang hasilnya negatif masih terselip firasat bahwa sebenarnya kamu ada.

Hari itu, ibu melakukan serangkaian test kesehatan termasuk rontgen, ibu minum soda setelah tes kesehatan dan harus buru-buru ke rumah sakit sore harinya karena kakak Nurani jatuh dari tempat tidur.

Seminggu setelah itu, ibu kembali melakukan tespek lantaran makin kuat firasat ibu bahwa ada kamu, dan ternyata memang benar, kamu hadir secara tidak terduga.

2 hari setelah itu, ibu cek kondisimu ke dokter Yudit yang biasa menangani, tidak disangka kamu sudah 5 minggu, bukan hanya kantong tapi sudah ada gumpalan dan detak.

Barakallahu, ibu terharu, meski sedih karena lagi-lagi saat pertama kontrol kehamilan ayahmu tidak bisa mengantar sama seperti waktu hamil kakak Nurani.

Buyut selalu ngingetin ibu untuk menjaga kamu sebaik mungkin, minum obat penguat dan vitamin sesuai resep dokter Yudit. Ibu juga lebih santai walaupun sedikit kaget mengingat sewaktu memiliki Nurani, ibu dan ayah kesana kemari supaya dia hadir, namun kamu datang dengan begitu mudah dan lancar.

Continue Reading

Pregnancy Story

Drama Pasca Melahirkan ala Mirna

By on January 29, 2018

Assalamualaikum,,, apa kabar semua?

Alhamdulillah aku sudah baikan, hehehe. Yup menjadi ibu baru memang sesuatu yang mengharu biru. Banyak tantangan dan prahara *lebay yang silih berganti datang pasca melahirkan. Yang jelas kita harus segera pulih dan mulai (belajar) merawat anak dengan baik. Kedua aktifitas tersebut harus dilakukan secara berbarengan pasca melahirkan. Sebagai perempuan tentunya kita harus kuat, karena menjadi ibu merupakan anugerah yang tak terkira. Untuk itu aku mau sharing apa saja “drama” yang aku alami setelah proses melahirkan Nurani yang alhamdulillah bisa aku lewati.

Sebenarnya aku ingin membaginya menjadi 2 yaitu secara Fisik dan Non Fisik tapi sebenarnya itu saling keterkaitan bagiku. Sebab akibatnya saling sambung menyambung *halah. Jadi aku coba menceritakannya saja runtutan segimana “drama” nya aku setelah melahirkan tepatnya setelah pulang dari rumah sakit. Apa saja itu ?

Continue Reading

Beauty Review | Pregnancy Story

Stretch Mark Mooimom Cream Review

By on January 15, 2018

Hai hai cantik.. Assalamualaikum..

Recovery pasca melahirkan Nurani melalui proses normal alhamdulillah berjalan dengan baik, ya meski ada drama diawal-awal menjadi ibu tapi aku bisa melewati. Saat ini tinggal beberapa “PR” yang perlu diperbaiki terutama perawatan badan. Pilihanku untuk tetap menggunakan skincare saat hamil dengan catatan harus organik dan aman digunakan ternyata berbuah manis dimana kulitku tetap sehat dan cantik meski hormon lagi gak stabil. Tapi cantik diluar saja tentunya kurang afdol, badan kudu tetap terawat meski sulit rasanya menghindari Stretch Mark bagi sebagian besar ibu hamil termasuk aku.

Stretch Mark itu apa sih mir ?

Based on alodokter.com Stretch mark adalah guratan yang sering nampak pada kulit bagian tubuh letak lemak terkonsentrasi, seperti di payudara, perut, lengan, pantat, dan paha. Guratan yang mulanya berwarna merah, merah muda, atau ungu ini lama kelamaan akan berubah menjadi warna putih atau kelabu, tergantung pada warna kulit. Ketika kulit meregang dengan cepat akibat anggota tubuh mengembang atau pertambahan berat badan, lapisan tengah kulit (dermis) akan menipis sehingga lapisan di bawahnya muncul ke permukaan. Kondisi inilah yang disebut stretch mark. Itu sebabnya stretch mark paling sering terjadi pada masa kehamilan dimana berat badan meningkat secara drastis.

Diawal kehamilan sebenarnya aku sudah tahu kalau bakal ada stretch mark yang akan muncul tapi aku baru melakukan perawatan badan saat usia kandungan 4 bulan dengan menggunakan natural oil disekitar perut. Tapi ternyata tanda cinta itu tetap muncul di bagian perut bawah, paha, dan kaki kiri bawah yang tiap pagi suka kram sewaktu hamil. Ini sih salahku yang gak rajin mengoleskan natural oil dan hanya terfokus bagian perut sehingga lupa kalau stretch mark bisa muncul dimana saja akibat peregangan kulit.

Nah sekarang saat pasca melahirkan dan tanda cinta ( baca :  stretch mark )  itu masih ada, maka aku berjuang untuk menghilangkannya sebagai upaya agar tetap “cantik di luar dan cantik di dalam “, hehehe. Aku memakai Mooimom Stretch Mark Cream untuk menghilangkan stretch mark. Cream ini membantu mengembalikan elastisitas kulit yang kendor ketika hamil dan menghilangkan noda yang diakibatkan stretch mark. Cream ini aman digunakan sejak awal kehamilan dimana cream atau natural oil lain kebanyakan disarankan pada usia kandungan 3 atau 4 bulan namun Mooimom Stretch Mark Cream bisa digunakan sejak kamu positif hamil sebagai tindakan pencegahan stretch mark. Dan tetap aman digunakan bagi ibu menyusui sepertiku untuk menghilangkan bekas stretch mark.

Continue Reading

Pregnancy Story | Review

Kontrol Kehamilan & Melahirkan dengan Dokter Yuditiya Purwosunu

By on January 14, 2018

Assalamualaikum semua,,, Finally I’m come back to blogging…

Intermezzo : Mengurus Nurani sebenarnya tidak terlalu sulit karena aku sangat terbantu dengan kehadiran Eyang Uti dan Bunda serta Suami yang lumayan siaga meski jarang ikut begadang. Tapi nyatanya blog ini tak kunjung update setelah postingan “Cerita Melahirkan Nurani”. Disaat blogger lain bikin review 2017 dan resolusi di tahun 2018, aku mikir aja engga apalagi publish tulisan. Semua itu karena aku. M.A.L.E.S keasikan main instastory sambil pumping ato lainnya. Yang jelas tahun 2017 itu sungguh penuh berkah baik dalam kehidupan serta blog dan harapannya tahun 2018 akan lebih baik lagi, aamiin.

Di postingan kali ini aku ingin membuat sebuah tulisan yang membahas tentang obgyn yang menanganiku selama menjalani kehamilan dan membantuku saat melahirkan yaitu dokter Yudit. Soalnya banyak banget keyword yang mencari review tentang beliau sehingga nyasar di tulisanku “Akhirnya Aku Hamil Juga Part 2“. Selain itu, tulisan ini sebagai rasa terima kasih atas segala bantuannya selama ini. 3 kata yang mencerminkan beliau yang bisa disingkat menjadi CHC yaitu Charming, Helpful, and Calm. Nah berikut biografi tentang beliau.

Dr. dr. Yuditiya Purwosunu, Sp.OG-KFM, PhD

Dokter kelahiran Jakarta ini menempuh pendidikan sebagai dokter umum dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 1993 -1999 (1993 aku baru lahir, beliau udah jadi anak UI, ck) dan pada tahun 2004 beliau melanjutkan pendidikan sebagai Spesialis Obstetri dan Ginekologi di universitas yang sama. Setelah menyelesaikan S3 di Universitas Indonesia, tidak membuat beliau berhenti sampai disitu, beliau melanjutkan pendidikan hingga ke negeri, Jepang dan London. Beliau juga aktif mengikuti berbagai pelatihan baik di dalam maupun luar negeri.

Continue Reading